Gubernur Salah Pilih

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Kita tidak kaget sebenarnya melihat perangainya yang "berangasan". Saat di menolak jabatan pangkostrad diperpanjang karena dia berniat menjadi calon Gubernur Sumut, adalah melanggar sumpah prajurit. Gayanya adalah gaya militer zaman orba, dia tidak mau dibantah, petentengan, dan arogan.

Tiga kejadian beruntun dalam dua minggu terkahir makin membuat kita shock. Dinegara yg berdemokrasi, dan sedang berproses membangun masyarakat yg lebih toleran, ada kepala daerah kelakuannya seperti preman. Ibu-ibu diusir dari acaranya, suppoter bola di tampar ( walau dia tidak mengaku ) tapi statement telapak tangannya besar dan bisa terbang kalau menampar orang, adalah bentuk arogansi phisik tanpa otak. Wartawanpun kena sasaran, dia menjadi dungu bahwa profesi wartawan itu ada kaidahnya, mereka bebas bertanya, dan kita bebas menjawab, tapi bukan bebas marah.

 

 
Dua Gubernur yg kita punya yg telah merusak tatanan sosial bahkan akhlak, adalah Gubernur DKI yg sama sekali tidak layak bahkan jadi tukang parkirpun bisa salah, karena membedakan kanan kiri mungkin dia tak mengerti. 11-12 dengan DKI sekarang Sumut menandingi, hanya yg ini marahnya yg didulukan daripada rencana kerjanya untuk Sumut, rangkap jabatan menjadi ketua PSSI dan Gubernur saja sudah kelihatan bahwa dia gila jabatan, dan serakah kekuasaan, apa yg dia akan abdikan kepada warga Sumut, disisi tanggung jawab sbg Gubernur harusnya dia konsen terhadap perbaikan daerah yg termasuk parah. Kota Medan sebagai Ibu Kota didepan mata, puluhan tahun urusan got dan jalan saja tak bisa diselesaikan. Harusnya dia marah kepada walikota bukan kepada Ibu-Ibu, Supporter dan Wartawan yang bukan urusannya.
 
Tidak perlu kita bahas panjang lebar, karena nasi sudah jadi bubur, sayangnya kita bakal makan bubur basi, encer berlendir dan tidak bisa mengenyangkan, yg pasti membuat mules dan menyakitkan. Gambaran diatas adalah cermin untuk kita pakai dala pilpres, jangan pula kita memilih presiden yg suka tebar ancaman dan rasa takut, kalau ditanya wartawan dia jawab ; gaji kaian kecil ya, kelihatan dari tampang kalian. jangn pernah menyalahkan, bisa dilempar hengpong kita.
 
Wes # MARI JOKOWI LAGI.
 
 
 
(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)
Wednesday, September 26, 2018 - 14:00
Kategori Rubrik: