The Guardian Sebut MCA Berencana Gulingkan Jokowi

Ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

Sebelumnya berita pengungkapan dan penangkapan jaringan Muslim Cyber Army (MCA) juga sudah diliput oleh media asing lain, seperti The Washington Post dan The Strait Times, pada awal Maret 2018. Namun artikel mereka itu sifatnya hanya memberitakan saja. Sedangkan yang dimuat oleh The Guardian, media yang berasal dari negara Inggris ini adalah berita investigatif, karena juga memuat hasil investigasi mereka selama berbulan-bulan.

Berikut pemberitaan dan hasil investigasi oleh The Guardian. Disebutkan bahwa media sosial, Twitter adalah arena perang yang digunakan oleh jaringan MCA. Menurut aparat kepolisian Indonesia, jaringan penyebaran hoax dan ujaran kebencian ini bertujuan untuk mengganggu proses politik dan menggoyahkan pemerintahan. Hoax dan ujaran yang mereka sebarkan berkisar pada isu SARA, isu LGBT, isu komunisme dan warga negara Tiongkok (Cina) dan pemberitaan yang sifatnya mencemarkan nama baik Presiden Jokowi.

 

Kondisi Indonesia yang merupakan negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia dan juga termasuk dalam lima besar negara yang memiliki pengguna Facebook dan Twitter terbanyak di dunia, sangat memungkinkan kejamnya penyebaran isu SARA ini dimainkan. MCA lahir dan besar di dalam ekosistem digital yang penuh dengan akun-akun palsu, kebohongan dan bot, atau akun-akun yang diotomatisasi.

The Guardian juga menyatakan telah mengungkapkan satu kluster yang dikoordinir oleh jaringan MCA di Twitter, yang disebut juga berhubungan dengan partai oposisi dan pihak militer. Jaringan yang diungkap The Guardian ini dibentuk semata-mata untuk mencuitkan konten dan pesan-pesan provokatif, untuk membesar-besarkan isu SARA dan memprovokasi pihak-pihak radikal Islam dan yang anti-pemerintahan.

Menurut penyelidikan The Guardian, ada ciri khas dari bot yang berasal dari jaringan MCA. Pesan-pesan dirancang untuk menarik simpati umat Islam. Contohnya penindasan muslim di Myanmar dan Palestina dicampur dengan kisah kekerasan di dalam negeri, kebencian terhadap etnis Cina, atau dukungan terhadap tokoh garis keras Indonesia serta seruan protes mereka.

Postingan biasanya serupa, dengan teks, meme atau hashtag yang sama, diulangi puluhan kali. Sebuah akun biasanya mengeluarkan cuitan sampai 30 kali dalam satu harinya. Semua akun tidak jelas identitasnya, tanpa nama maupun lokasi, dan mengikuti pola tertentu. Contohnya sebuah grup yang beranggotakan 30 akun, memasang foto profil mareka dengan foto orang bule berjanggut dan menggunakan nama profil tokoh-tokoh militer dan pemerintahan. Grup yang lain menggunakan foto hewan babi sebagai foto profil.

Penemuan di dalam penyelidikan The Guardian ini memperlihatkan beragam kepentingan dari grup-grup yang beroperasi di dalam jaringan MCA, tergantung dari kepentingan politiknya. Hal ini juga menunjukkan betapa gampangnya memainkan jaringan media sosial, terutama Twitter. Dengan cara ini jadi sangat gampang untuk mengayunkan persepsi publik, menembuskan sebuah hashtag menjadi trending, atau pun merekayasa sebuah polling online. Dicontohkan juga polling elektabilitas antara Jokowi dan Prabowo yang dimainkan sehingga kemenangan cenderung mengarah kepada sang jenderal.

Di dalam artikel juga disebutkan pernyataan dari Damar Juniarto, dari the Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) yang mengklaim telah menemukan 4 kluster dalam jaringan MCA. Setiap kluster memiliki agenda sendri-sendiri. Kluster-kluster ini teryata berkaitan dengan partai oposisi, tokoh militer dan organisasi Islam.

Seorang nara sumber lain, Shafiq Pontoh dari kantor konsultan data Provetic, mengatakan bahwa korban pertama dari ekosistem (Twitter) yang tercemar ini adalah Ahok. Nasib Ahok adalah akibat dari berita hoax, bot, kampanye hitam, prasangka dan rasisme. The Guardian mengamati sebuah kluster yang memompakan bahan-bahan anti-Ahok tahun lalu, kemudian menghentikan aktivitasnya dua hari sesudah pilkada selesai dan sampai sekarang masih non-aktif.

Damar Juniarto memperingatkan bahwa walaupun jaringan MCA sudah diungkap dan pelakunya sudah ditangkap oleh aparat kepolisian, mereka belum habis. Tinggal menunggu waktu kemunculan mereka lagi, karena mereka sedang mempersiapkan diri untuk (Pilpres) 2019.

Ngeri-ngeri sedap ya membaca temuan dari investigasi The Guardian. Tetaplah aktif melaporkan jika mendapati penyebaran berita hoax dan ujaran kebencian. Semoga aparat kepolisian semakin banyak dan semakin dalam mengungkap jaringan MCA, sampai ke akar-akarnya, sampai ke penanggung dananya, sampai ke Dark Force, sampai ke Hydra.

Artikel lengkap The Guardian bisa dibaca di link berikut :

https://www.theguardian.com/…/muslim-cyber-army-a-fake-news…

(Sekian)

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Sunday, March 18, 2018 - 13:00
Kategori Rubrik: