Grand Design untuk Ganjar-Emil-Risma-Ahok

Oleh: Thomson Cyrus

Sebenarnya kita sudah memprediksi di awal bahwa Ridwan Kamil tidak akan turun di DKI1, meskipun kita sedikit was-was, jangan sampai Ridwan Kamil tergoda niat Partai Gerindra yang akan mengorbankan nama baik Ridwan Kamil demi nafsu untuk "Asal bukan Ahok for DKI1" a la Gerindra yang didengkoti oleh M. Taufik si sirik tanda tak mampu. Kita memang dapat memahami perasaan partai Gerindra yang ditinggal begitu saja oleh Ahok.

Tetapi Ahok melakukan itu demi rakyat dan demi memenangkan Jokowi menjadi RI1 ketika itu. Masalahnya, Gerindra terlalu dendam, seakan tidak mau tahu tentang perasaan masyarakat Jakarta yang tetap menginginkan Ahok menjadi DKI1. Adalah Risma, walikota Surabaya yang berprestasi dan berintegritas itu yang terlebih dahulu memberikan contoh baik, tatkala Risma secara terang-terangan menolak diajak untuk mencalonkan diri menjadi DKI1, sebab menurut Risma, di banding dia ikut ikutan nyemplung ke DKI1 tidak kalah baik dan mulianya menjadikan Surabaya menjadi kota yang bermartabat dan kota yang maju.

Terbukti dari banyaknya perhargaan yang diterima oleh ibu Risma sebagai Walikota Surabaya akibat prestasinya memperbaiki dan memajukan kota Surabaya. Itu juga yang kita sampaikan kepada Ridwan Kamil lewat tulisan di kompasiana ini bahwa memperbaiki Bandung, tidak kalah mulianya dengan menjadi DKI1. Prestasi memperbaiki Bandung, yang kemudian kita harapkan menjadi pintu masuk bagi Ridwan Kamil menjadi pintu untuk menuju karpet merah Jabar1.

Dengan demikian kita berharap setiap provinsi di pimpin oleh seorang Gubernur yang cakap dalam memimpin dan bekerja, sehingga seluruh Indonesia ini mendapatkan Gubernur terbaik dari calon - calon pemimpin yang ada. Sangat menarik, melihat dan memaknai safari politik yang dilakukan oleh Ahok dan Ridwan Kamil di minggu yang lalu. Adalah pertemuan Ahok, Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil yang membuat kita banyak bertanya, apa gerangan yang mereka bicarakan.

Dalam dunia politik, pertemuan seperti itu tidak boleh hanya dimaknai sebagai pertemuan silaturahmi biasa saja, atau bahkan hanya bertukar informasi dan sejenisnya. Mengingat tidak ada agenda bersama yang harus mereka bicarakan bersama. Maka menjadi menarik, ketika ketiganya mengatakan siap bersaing sehat jika harus bersaing dalam pilkada DKI. Saya sendiri langsung tersenyum ketika mereka berbicara siap bersaing untuk DKI 1.

Tidak mungkin mereka bersaing, itu kesimpulan saya, apa urgensinya Ganjar Pranowo harus bersaing di DKI1? Emang Ganjar Pranowo lebih berprestasi dibanding Ahok? Tidaklah...meskipun kesimpulan saya debatable, tetapi Ganjar Pranowo tidak terlalu urgen turun ke DKI1, sebab Ahok di DKI sangat disukai mayoritas penduduk Jakarta. Saya malah berkesimpulan ketika itu, Ahok sedang menjalankan fungsi managerial perpanjangan tangan dari Jokowi untuk meyakinkan Ridwan Kamil agar lebih fokus untuk Bandung yang akhirnya nanti menuju Jabar1. Mengapa itu penting bagi Jokowi?

Kita tahu bersama, Gubernur adalah perwakilan pemerintah pusat di daerah. Maka Jokowi berkepentingan agar Gubernur se Indonesia adalah Gubernur yang cakap dan cepat bekerja. Jabar butuh sosok seperti Ridwan Kamil. Jokowi butuh Ridwan Kamil di Jabar1 untuk perpanjangan tangan Pusat di daerah Jabar. Kita tahu, ada begitu banyak proyek mercusuar di Jabar yang telah dicanangkan oleh Jokowi.

Jika Jokowi tidak punya partner yang cakap dan di cepat di Jabar1 maka proyek-proyek mercusuar itu bisa menjadi kendala bagi Jokowi dan bukan tidak mustahil menjadi bumerang bagi Jokowi. Itu sebabnya, Jokowi berkepentingan untuk menguasai Jabar1. Mengapa Ahok yang diutus untuk melakukan pergerakan itu (menyiapkan calon yang dikehendaki pusat di Jabar1)? Dengan tujuan untuk tidak dapat dibaca oleh lawan politik. Mengapa tidak lewat PDIP? Ah...disanalah posisi Ganjar Pranowo berperan untuk meyakinkan Ridwan Kamil bahwa PDIP akan mendukung Ridwan Kamil nanti untuk Jabar1.

Ridwan Kamil  yang memutuskan tidak akan maju untuk DKI1 satu semakin meyakinkan saya akan Grand Design itu, bahwa Ridwan Kamil akan di dorong menjadi Jabar1. Melihat beberapa pergerakan ini, saya melihat Jokowi sudah semakin matang berpolitik dan mulai mempersiapkan pijakan kaki yang kuat dimana-mana, demi target cepatnya membawa Indonesia menuju perubahan ke arah yang lebih baik. Mungkin kita berpikir hanya Ahok dan Teman Ahok yang berkepentingan untuk memperjuangkan Ahok tetap menjadi DKI1. Kita jangan pernah melupakan

(Sumber: Kompasiana)

Monday, February 29, 2016 - 18:30
Kategori Rubrik: