Grace Natalie "PSI" dan Poligami

Oleh: Sahat Siagian

 

PSI memang sekumpulan orang muda cerdas. Dua kali Grace Natalie berpidato, dua kali itu pula dia mendapat sambutan riuh. Bedanya, kali ini, dalam pernyataan menentang poligami, Grace juga dikecam para simpatisannya.

Seorang muslimah di sekitar saya, @Chitra Retna, tak kurang menyalak kencang. "Saya menentang poligami. Tapi tak elok memaksakan tafsir sebab, di luar Tauhid, Islam membuka diri untuk dimultitafsirkan," kata mahasiswa program doktoral di Australia ini. Reaksi serupa saya baca dari banyak facebookers.

 

 

Teruk betul memang nasib Islam karena poligami langsung diasosiasikan dengan dirinya. Padahal tidak demikian sebetulnya. Hanya saja praktik poligini memang banyak ditemukan di dalam agama ini.

Tak banyak orang tahu bahwa Alkitab--baik Perjanjian Lama mau pun Perjanjian Baru, TIDAK menentang Poligini. Rasul Paulus bahkan berkesan membolehkannya dalam I Timotius 3:2, lalu I Timotius 3: 12, dan Titus 1: 6. Di ayat-ayat tersebut Paulus mensyaratkan bahwa Penilik Jemaat dan Diaken haruslah mereka yang memunyai hanya 1 istri. Implicitly, warga jemaat boleh punya lebih dari 2 istri.

Praktik poligini hidup dalam jemaat Kristen mula-mula, terutama dikalangan para Yahudi yang bermigrasi ke Roma dan Asia Kecil. Itu menimbulkan masalah ketika Roma menganugerahkan kewarganegaraan kepada mereka. Kenapa? Karena warga Roma hanya boleh punya 1 istri. Akibatnya sejumlah pribumi ikut-ikutan punya 2-3 istri, termasuk Pastor dan Uskup.

Masalah besar timbul ketika para Uskup dan Pastor wafat. Anak-anak mereka dan para istri berebut kepemilikan gereja. Vatican ngamuk. Terbitlah larangan beristri kepada pastor baru, dan selanjutnya mutlak berlaku kepada seluruh pastor. Gelombang perceraian terjadi. Untuk mengikuti lebih lengkap, sila baca 3 tulisan saya di sayapesansatu.com dengan tajuk "Pelakor dan Poliamor".

Alkitab tidak menentang Poligini. Gereja yang kemudian melarangnya. Apa dasar gereja? Alkitab? Bukan! Ketentuan Pemerintah Roma. Anti Poligini diilhami oleh Undang-Undang Kewarganegaraan Roma.

Itu yang membuat gereja-gereja Protestan tidak bersedia menikahkan sebuah pasangan. Mereka hanya memberkati bukan mengawinkan. Lalu siapa yang mengawinkan? Negara, kata Gereja. Jancuknya Undang-Undang Perkawinan menetapkan bahwa Negara hanya mencatat sebuah perkawinan yang telah berlangsung di agama masing-masing.

Jancuk? Banget! Keluarga atau Rumah Tangga adalah unit terkecil dari sebuah negara. Itu sebabnya Negara menerbitkan Kartu Keluarga, dan setiap rumah tangga punya nomor induk. Maka Undang-Undang Perkawinan itu tolol, tuna sejarah, tuna pemahaman, bahkan ikan tuna pun bukan.

Lalu kenapa Gereja Katolik Roma mengawinkan sebuah pasangan? Karena Pastor dan Uskup adalah pejabat negara. Hah? Negara mana? Ya Negara Vatikan. Sehingga sebenarnya semua umat Katolik di seluruh dunia memegang 2 kewarganegaraan: WNI, untuk kita di Indonesia, dan WNV. Gak percaya? Sila datang ke Vatikan, cek: adakah keluarga Fransiscus Siagian, atau Antonius Subroto, terdaftar di sana? ADA!

Yang Yesus benci adalah perceraian. Tapi bukan karena alasan spiritual, melainkan karena para janda bernasib malang oleh perceraian. Mereka menjadi segolongan dengan orang-orang berpenyakit kusta dalam masyarakat Israel. Belum tentu Yesus menentang perceraian ketika pada hari ini Beliau mendapati para perempuan di Amerika Serikat dilindungi dengan baik oleh hukum perceraian. Mereka langsung mendapat setidaknya rumah yang didiami. Perempuan berhak mengusir suami ketika rencana perceraian disepakati.

Sebagian orang Kristen menganut poligini, setidaknya masyarakat Mormon pada masa lalu di Amerika Serikat. Tapi pemerintah USA tidak berpihak kepada keragaman tafsir. Mereka menafsirkan sendiri apa yang terbaik buat Amerika Serikat: No to Polygyny. Orang-orang Mormon dilarang punya istri dua. Tak cuma itu, mereka yang kedapatan melakukannya ditangkapi, dijebloskan ke dalam penjara. Anak-anaknya dirampas Negara. Mulanya hal itu mendapat perlawanan besar. Akhirnya semua orang bisa terima. Mereka sadar bahwa tidak ada anak tumbuh sehat di dalam rumah tangga Poligini.

Islam tidak menentang perbudakan. Kristen juga sebetulnya tidak, meski Islam jauh lebih longgar. Tapi seluruh umat manusia menerima telak, penuh, dan mutlak, konvensi PBB tentang perbudakan. Tidak ada keragaman tafsir di sana.

Kita harus rela memberi ruang kepada negara dan Undang-Undang untuk menetapkan apa terbaik bagi warganya. Buddha tidak memusuhi prostitusi. Tapi umat Buddha di Indonesia menerima dan takluk sepenuh ketika Undang-Undang melarang praktik pelacuran.

Kemudian, kita tumbuh bersama, mekar bersama. Suatu saat kelak, ketika demografi di Indonesia tidak seimbang, ketika jumlah perempuan lebih sedikit dari rasio tertentu berbanding lelaki, kita malah perlu menyemangati para lelaki untuk masuk ke perkawinan poliandri (istri dengan lebih dari 1 suami).

Ketidakseimbangan melahirkan malapetaka. Persetan dengan keragaman tafsir. Pengangguran merebak, angka kriminalitas naik, jumlah kasus bunuh diri meninggi. Anda bersikukuh membela Alkitab, yang terang-terangan menentang poliandri?

Kenapa Anda gak pergi saja ke toko India, beli kain kafan, gantung diri di alun-alun?

PSI itu pintar. Mereka tahu diri, tidak menyalak-nyalak berambisi jadi pemenang Pemilu 2019. Target mereka kali ini cuma menyundul angka 4%. Setelah itu mereka bertarung membuktikan diri di Senayan dalam masa bakti 2019-2024.

Barulah di 2024 mereka masuki gelanggang puncak. Lelaki di Mako Brimob bisa jadi usungan mereka.

Tapi itu hanya terjadi kalau saya tidak mencalonkan diri jadi Presiden RI 2024.

 

(Sumber: Facebook Sahat Siagian)

Monday, December 17, 2018 - 09:00
Kategori Rubrik: