Gontor

Oleh: Saief Alemdar

Ini bukan korban teroris yang tergeletak, atau korban bencana alam yang sedang mengungsi, tetapi ini adalah suasana salah satu pojok dari sekian banyak pojok di Gontor pada malam ujian. Panitia ujian benar-benar mengkondisikan suasana ujian, antara lain memberikan penerangan dimana-mana, mewajibkan semua santri membawa buku kemana saja mereka pergi, bahkan dianggap pelanggaran apabila hari-hari ujian berjalan tanpa memegang buku. Kalau hari-hari sebulan sebelum ujian, semua guru diwajibkan berkeliling dimana ada anak-anak berkumpul belajar, supaya menjadi tempat bertanya apabila ada masalah, merupakan sebuah pelanggaran apabila guru tidak berkeliling. Namun, pada hari-hari ujian sebaliknya, semua guru dilarang berkeliaran di tempat-tempat anak-anak belajar, karena ditakutkan akan terjadi “tasarrubul ma’lumat” alias kebocoran informasi.

Pada malam ujian, semua santri akan menjadi selfish, sambil makan baca buku, sambil ngantri mandi baca buku, sambil pakai sepatu sekalipun waktunya tidak terbuang.

“Lebih baik tersiksa sekarang daripada tersiksa kelak pada bulan syawwal”, itulah motto mereka, lebih baik berusaha mati-matian pada waktu ujian, daripada harus berlinangan air mata setelah liburan panjang bulan Ramadhan, dimana pada tanggal 10 syawwal semua santri kembali ke Pondok dan melihat hasil ujian mereka, persis seperti istilah dalam Quran ketika menggambarkan wajah-wajah manusia saat menerima rapor pada hari akhirat, “Pada hari itu, ada wajah yang ceria berseri, ada juga wajah yang sedih dan menangis”. Bagi yang berjuang sebelum ujian, maka pada bulan syawwal mereka bisa tertawa puas karena naik kelas, sedangkan yang berleha-leha pada masa ujian, pasti ditemani air mata pada bulan syawwal.

Pada masa ujian seperti ini, semua orang mengeluarkan triknya masing-masing, ada yang memilih tidur jam 10, dan bangun jam 3 untuk tahajjud dan mengulang hapalan dan pelajaran sampai pagi, dengan gaya demikian dijamin yang bersangkutan tidak mandi ketika masuk ujian, karena takut ilmunya mengalir bersama air dan masuk ke selokan. Pulang ujian jam 10, itulah waktunya balas dendam untuk tidur.

Ada kawanku lebih memilih belajar malam sampai jam 1, dan bangun ketika subuh, tidak ada yang istimewa denga gaya belajar sampai jam 1 malam, yang istimewa hanya cara menahan supaya mata tidak kalah dan mengantuk, caranya dengan memasukkan kaki ke dalam ember yang berisi air dingin, hal itu cukup manjur untuk mengatasi rasa kantuk yang menyerang ketika melihat buku.

Yang parah itu adalah sistem belajar kelompok, beberapa anak sepakat untuk belajar kelompok, mereka mungkin disatukan oleh kesamaan daerah, atau kesamaan grup olah raga, yang pasti bukan kesamaan kelas! Parahnya dimana? Biasanya kelompok seperti ini suka membeli makanan untuk menemani mereka belajar, dan tak jarang mereka asik makan dan minum sampai waktu terlewat, tanpa sadar lonceng jam 12 berbunyi.

Tapi ada satu hal yang luar biasa pada masa ujian itu, yang senior kelas 6 selalu menjadi motivasi bagi junior, apapun mereka lakukan supaya adik-adik kelas bisa naik kelas tahun depan, semua mereka lakukan, mulai dari keliling membagi kopi, sampai membuat absen wajib. Pada akhir pengabdian selama ujian adik-adik kelas itu, mereka hanya mengatakan, “doakan kami semoga tahun depan kami menjadi alumni”. Ya, karena ketika anak kelas 1-5 ujian, biasanya kelas 6 menjadi pembantu panitia ujian, ujian kelas 6 setelah itu.

Gontor isn't only school, it's home, it's dream, it's story, it's history 

(Sumber: Facebook Saief Alemdar) 

Wednesday, February 24, 2016 - 11:45
Kategori Rubrik: