Gong Xi Fat Choi

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Hari ini, tanggal 25 Januari 2020, Rioyo Cino. Saya dulu nyebutnya demikian. Tahu dari Ortu, Ortu dari Mbah, Mbah dari Buyut. Dan seterusnya . . .

Meski ada kata 'Cino'nya, kita omong ya biasa2 saja. Mereka, wong Cino, juga biasa2 saja. Ndak ada bau2 yang sekarang katanya 'SARA'.

Habis gimana, waktu kecil tinggal di Undaan Kulon, Surabaya, tetangga campur2. Malah banyak 'cino' nya. Buyut dari pihak Ibu, 'cino' juga . . .

Sekarang kalau manggil, Hei, Cino !'. Yang dipanggil 'mlèrok'. Mungkin karena yang manggil sambil 'mbêngok' dan 'mèncêp', senyum mengejek. Ndak tahu mengapa. Sudah ndak lagi 'nyambung'. Mungkin . . .

Diganti dengan kata 'tionghoa', tapi nurut saya malah kurang 'srêg'. Kaku lidah saya. Lucu rasanya. Jadi sekarang ya jarang tak pakai. Juga ndak pernah lagi panggil seorang 'cino' dengan 'cino' . . .

Orang terakhir yang panggil 'cino', teman kerja waktu di Honda dulu. Orang Padang, tapi cino, berambut keriting. Saya panggil dengan panggilan sayang, 'Citing'. Cino Keriting.

Kata teman2 kerja dulu, anak ini 'songong', karena merasa pinter. Kata mereka, cuma saya saja yang mau ngajak omong. Yang lain ogah. Ndak tau kenapa kok saya cocok.

Dia 'risain' sebelum waktunya. Sekarang buka kebon cengkeh dan sereh di Pandeglang. Juga produksi minyak-nya. Cukup sukses . . .

Cino dilawan . . .

Empat hari lalu kami bertiga, saya, Nyonya, dan Anak Wedok, berkunjung ke rumah teman. Dalam rangka silaturahim. Karena mereka keluarga 'cino', jadi sekalian 'sin-cia' . . .

Bukan teman lagi kelasnya. Nyonya kenal dari bujangan. Jadi sudah lebih dari 25 tahun. Anak pertama mereka yg dulu baru Kelompok Bermain, sekarang sudah punya istri.

Lebaran mereka ke rumah. Jadi gantian . . .

Anak Wedok sampai di rumah ndak sabar buka 'angpau' yang diterimanya. Di kasih tahu ndak boleh dibuka sampai tahun depan, dia ndak peduli. Wong Anak Wedok saya ini 'cino KW'.

"Wuah . . . ! Akeh, banyak, Pak," komennya setelah tahu isi. "Tak traktir engkok," tambah-nya.

Ya sukurlah. Alhamdulillah . . .

Mungkin itu sudah ada pertanda sebelumnya. Hujan deras.

Kata orang2 tua, kalau pas sin-cia turun hujan mereka seneng. Tanda banyak rejeki tahun depan.

Jadi kalau hujan deras, air ndak bisa ngalir. Pakai istilah antri, tergenang, atau banjir, kata 'mereka', itu berkah. Gift. Minimal 'blessing in disguise'. Berkah tersembunyi. Kayaknya bener . . .

Mosok sih . . . ?

Mungkin juga bener, bagi tukang pompa, tukang tivi, tukang kulkas, tukang mesin cuci, tukang listrik, montir . . .

Ya sudahlah. Pokok e Selamat Tahun Baru.
Gong Xi Fat Cai, ya . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Saturday, January 25, 2020 - 17:30
Kategori Rubrik: