Golput

ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Baiklah saya ngaku. Saya selama ini Golput sejak Reformasi. Waktu zaman orba sekali nyoblos demi kepentingan pekerjaan Bapak yang pada waktu simulasi milih PDI. Bapak langsung dimutasi dan seluruh keluarga harus ikut " pembekalan." Yang oleh Bapak disebut sebagai penghukuman. Kita harus nurut karena asap dapur akan terancam.

Golput ala saya adalah datang ke TPS saya coblos semua. Jadi tidak sah. Dan saya diam-diam saja. Istri dan keluarga tidak tahu. Pilihan politik pun saya sembunyikan..

Saya Golput karena tahu persis permainan politik para elit waktu itu. Keluar masuk lingkaran sebagai pemerhati. Tahu persis berapa rekan seprofesi tiba-tiba punya mobil bagus dan kalau ingin janji ketemu harus melalui sekertaris..

Pernah juga kaget setengah mati bertemu dengan orang yang tadinya sarungan dan yang penuh takzim bawakan koper orang besar, tiba-tiba jadi broker proyek pakai jas dan sepatu mahal.

Tahu persis siapa penjual aset negara dan intrik-intrik nya. Sementara anak negeri disingkirkan dan dipersulit karena semua harus pakai duit. Karena itu urusan dengan pemerintah males nya minta ampun. Baru setelah tau siapa saya langsung urusan jadi beres. Jadi ngapain milih mereka. Toh ada atau tidak nya mereka kehidupan saya tidak terpengaruh.

Baru setelah zaman Jokowi dan Ahok saya memilih. Kenapa?

Sebagai orang yang bermukim lama di luar negeri, saya paham sepaham-pahamnya apa yang disebut sebagai good governance. Yang sederhananya memanusiakan warganegara. Pemimpin adalah pelayan masyarakat dan membuat sistem untuk mensejahterakan masyarakat.

Jelas Indonesia banyak kekurangannya, termasuk dalam toleransi yang masih sangat memprihatinkan. Namun saya melihat ada perubahan dan optimisme masa depan ke arah Good Governance berdasarkan kenyataan dan fakta di lapangan. Dan itu ada di kepemimpinan Jokowi.

Karena itu Golput bagi saya tidaklah relevan. Apalagi sekedar jadi gaya-gayaan. Sok aktivis kata seorang kawan.. Kaya sedikit. Pinter sedikit. Tapi lagaknya seperti sudah menguasai dunia.

Tengil maksudnya, tanya saya...

Iyalah.. Jawabnya. Kalau mau Golput diam-diam saja. Orang yang cuek waktu ditanyakan pilihan politiknya dan mengalihkan topik pembicaraan adalah golputer tulen.

Lalu bagaimana yang koar-koar di medsos dan declare dia Golput?

Jawab dia..

NORAK

Saya tertawa. Ingat perbincangan saya dengan golputer pemula..

Kenapa sih Golput?

Gua benci sama pendukungnya.. Kampungan..

Nah lu pilih capres atau pendukung mereka?.

Dia melotot cantik sambil bibir berlipstik merah dibuat menyon..

Dan berkata:

Bangsat lu..

Saya ngakak abis dan tunggu dia habiskan rokoknya..

Sambil menghabiskan puding tetek.. 

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Tuesday, February 19, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: