Golput Karena Jokowi?

Oleh: Salman Faris Rais

 

Golput kata sebagian orang itu hak, sebagian lain tanda menyerah kalah, sebagian lagi menganggapnya wajib fardhu ain demi mendukung khilafah dan menggerus wibawa demokrasi..

Bagaimana dengan istilah Golput karena Jokowi. Artinya, mengerti bahwa dirinya tidak mau memilih lawan Jokowi (antitesa nya), tapi juga terlanjur kecewa dengan kepemimpinan Jokowi yang bagi mereka gagal target.

 

 

Target yang dimaksud, tentunya target lebih ke pemenuhan harapan mereka saat memutuskan memilih Jokowi di bilik suara. Artinya ada harapan bahwa Jokowi pasti begini, begitu, Jokowi akan ke sini, ke situ... meleset harapannya sekali, tidak mengapa, meleset dua kali ---hmm mungkin diposisi sulit, meleset tiga kali, empat kali, lima kali.. "enough with this **** i am quit, emoh, cukup" ujar mereka.

Dalam hal ini mereka merupakan pemilih strategis. Mereka adalah ronin demokrasi yang akan turun gunung memilih, menjadi aktivis militan pengejar suara, siap menyumbang sebesar-besarnya, pada pilkada pilpres jika ada tujuan serta sasaran yang jelas, sehingga integritas sang pemimpin menjadi tolak ukur kunci.

Sementara ada juga pemilih ideologis, siapapun yang memimpin yang penting tetap membesarkan suatu ide bersama. Entah pluralisme, Islamisme, kroniisme, khilafahisme. Aktivitas mereka lebih cair, terbuka, tidak militan pada sosok, tapi militan pada ide gagasan yang diusung. Pemilih ideologis tidak mudah patah hati, jika sosok yang didukungnya kesulitan, sebaliknya tetap berkerja dalam kapasitas masing-masing untuk mempertahankan ide bersama..

Lalu apa ide utama Jokowi, jika benar dirinya memiliki pemilih ideologis?

Nawa Cita, tentu saja, tapi sedikit dari pendukung Jokowi yang benar-benar paham apa itu nawa cita. Bagaimana memperjuangkannya? bagaimana penerapannya? sejauh mana? apa tantangannya? apakah sudah dikatakan berhasil? dst...

Ada tiga tantangan, dengan tiga jalan perubahan, ada sembilan cita, lalu menjadi prioritas pembangunan, et cetera pokonya panjang urusan..

Apa yang masyarakat lihat adalah apa yang media sajikan. Media tentu saja tidak akan mengangkat ide ide Jokowi dan penerapananya yang diktatis membosankan, tapi power struggle nya yang diangkat, asyik enak disimak, rating tinggi, dan menentukkan pilihan-pilihan pada 2019.

Berkaitan dengan power struggle/adu kekuasaan, apa yang diperlihatkan Jokowi rupanya tidak menggembirakan bagi pendukungnya, terutama pendukung strategis. Jokowi terlalu lembek, lemah, goyah, gampang diatur, menteri saling kelahi, aparat saling rubah disposal, yang sedihnya terjadi saat parlemen dikuasai koalisi pemerintah.

Jujurnya itulah dunia politik kita. Tidak ada pemimpin bagus sejak Sultan Agung raja Mataram, yang ada hanya pemimpin fungsional dan disfungsional. Yang bagus, tentunya yang kuat, mampu mengantarkan sejuta nyawa ke alam baka tanpa dituntut pengadilan. Mampu menempeleng jenderal jenderal, mengundang ketua parlemen ke rumahnya untuk diumpankan ke kolam piranha, atau dicium tangannya oleh para kyai, pendeknya memenangkan kontes adu kekuasaan. Jadi champ, kampiun.

Baru nyebut namanya orang bergetar entah kagum, atau takut. Anak2nya mau tidak mau jadi den bagus/den ayu tanpa mereka mau atau suka, didekati org seIndonesia, orang senindonesia mau sipit, hidung gede, kulit item, demi kekuasaan dan uang.

Dunia politik kita tidak begitu, so bagi yang pingin golput patah hati, karena berharap Jokowi harus menjadi Sultan Agung, minimal jadi Soeharto kedua memenjarakan lawan-lawan politik yang mbalelo, jangan kejauhan lah.

Pilpres kita ga bakal nyetak Sultan Agung atau Soeharto yang lain. Pilpres kita cuma mendudukan administrator APBN, bagaimana peruntukannya, pertanggungjawabannya. Soal hukum, soal politik, juga diatur kadar nya lewat APBN itu.

Jika APBN diatur sedemikian rupa hingga menghasilkan gerakan aneh-aneh di masyarakat, dari gerakan 2019 ganti presiden, kisruh rizik, sampe semaputnya pa Amin Rais...

artinya APBN ini sudah benar-benar berpihak ke rakyat. Jokowi sudah fungsional.

sudah cukup segitu saja patokannya, jangan mikir yang aneh-aneh...

 

(Sumber: Facebook Slman Faris Rais)

Tuesday, June 19, 2018 - 17:30
Kategori Rubrik: