Golput Hambat Calon Pemimpin Baik Memimpin

ilustrasi

Oleh : Tommy Widjaja

Memutuskan untuk tak menggunakan hak pilih (abstain) adalah hak setiap warganegara, yang dilindungi oleh UU. Tak menggunakan hak pilih, artinya suaramu tak diberikan kepada paslon manapun. Artinya lagi, suaramu ora kanggo, gak dihitung, gak menambah suara bagi si polan atau si anu, gak ada gunanya, sia-sia.

Silakan jika memilih untuk golput, tapi tak elok jika mempengaruhi orang lain untuk bersikap sepertimu. Ibaratnya gini, kau tak suka makan petai karena gak tahan baunya, tapi tak perlu kauajak semua orang agar tak makan petai. Apalagi jika kaujelek2kan petai, yang jelas2 berfaedah karena mengandung protein tertentu. Jika kau tak tahan bau orang yang makan petai, menyingkirlah. Gak ada yang memaksamu untuk memakannya, sebaliknya jangan paksakan orang yang suka makan petai.

Kau boleh tak puas dengan kinerja petahana, atau tak percaya dengan janji penantang, bahkan boleh keduanya sekaligus, itu HAKmu. Tapi menghalang2i atau memaksakan / membuat orang kehilangan hak pilihnya, jelas ada sesuatu yang dilanggar. Saya tak sedang bicara soal hukum, secara logika dan nurani saja sudah tak etis. Mau abstain silakan, tak perlulah berkoar2 mempengaruhi orang lain.

Karena harus ada satu pemenang tunggal diantara 2 pilihan yang tersedia, kau boleh saja memilih untuk tak memilih satu diantaranya. Artinya, kau (secara tidak langsung) menyerahkan pilihan kepada kami yang bermaksud menggunakan hak pilih, karena penentuan pemenang hanya ditentukan oleh suara sah yang masuk, bukan suara yang tak memilih. Artinya lagi, kamu mempasrahkan pemenang kontestasi ke tangan kami, para (calon) pemilih.

Jadi jika sang pemenang adalah pilihan kami atau pilihan lawan kami, itu adalah berkat suara kami atau mereka. Jika pilihan kami ternyata salah, itu urusan kami. Jika pilihan mereka yang salah, itu urusan mereka. Suka atau tak suka terhadap sang pemenang, kau berandil menyebabkannya, melalui abstainmu.

Mari berhitung!
Konon suara abstain diperkirakan mencapai 30%, betul? Berarti sisanya 70% akan diperebutkan paslon 01 dengan paslon 02. Agar memenuhi persyaratan 50%+1 dari suara sah yang masuk, kedua kubu hanya butuh 35%+1 suara untuk menang, suara kalian tak dihitung.

Anggaplah jumlah DPT kita 200 juta, dikurangi abstainers 60 juta, sehingga tersisa 140 juta suara. Paslon 01 atau 02 hanya butuh 70.000.001 suara untuk memenangkan pilpres, (lagi2) tak ditentukan keabstainan kalian, setuju? Tugas kami jauh lebih ringan, cukup meraup 70juta+1 suara tok. Untuk itu, terima kasih kami ucapkan, golputers. Lagipula, pilpres tak sekedar memilih Jokowi atau Prabowo, tapi memilih nasib dan masa depan anak cucu, bangsa dan negara kita.

Coba tanyakan nuranimu, yakinkah kalian ikhlaskan suara kami atau suara mereka (mewakili suara kalian) dalam menentukan siapa presiden kita untuk 5 tahun ke depan? Kalau iya, tolong kecilkan sedikit volume kalian, dan biarkanlah kami bersuara lebih lantang, oke ??

Sumber : Status Facebook Tommy Widjaja dengan judul asli Let Us Speak Louder Please

Monday, January 14, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: