Golput, Golongan PUcet dan Imut

Oleh: Sunardian Wirodhono

 

Belum lama lalu ada ajakan dari kelompok LGBT untuk golput. Mereka tak peduli siapa presidennya. Dalam waktu hampir bersamaan, di gedung yang dipercaya sebagai ruang perjuangan demokrasi, hukum dan ham, seorang berlatar HTI meneriakkan hal yang sama. Ajakan golput karena dua capres tak beda.

Senyampang itu, bertebaran pernyatan klasik mereka: Golput bukan tindak pidana, bukan kejahatan. Ya, iyalah, semua orang sudah tahu hal itu (kecuali yang belum tahu). Tapi ketika ada ormas, komunitas atau sekelompok orang menamakan; ‘Koalisi Masyarakat Sipil”, kadang terbersit pertanyaan, masyarakat sipil yang mana?

 

 

Memilih dan tidak memilih, atau memilih tak memilih, itu bebas dalam demokrasi. Cuma berkampanye untuk golput menurut saya norak. Apalagi kalau itu disuarakan oleh ormas atau LSM, karena mereka juga bagian yang ikut menyebabkan kenapa demokrasi tidak atau belum dipercaya, dalam konteks konstruksi civil society.

Yang lebih celaka lagi, berserikat untuk mengkampanyekan golput adalah aneh, apalagi dengan mengatakan yang terlibat dalam demokrasi (capres siapapun misalnya) tidak kapabel. Lantas yang paling kapabel dan bisa dipercaya siapa? Mereka? Ini sama persis dengan yang percaya kilafah, bahwa demokrasi adalah toghut. Yang kanan dan yang kiri akhirnya bersatu, bahkan sebagian ada yang tergoda, jika Prabowo menang lebih gampang menyetirnya daripada Jokowi.

Apakah ini ciri kita, nabok nyilih tangan, lempar batu sembunyi tangan, sebagaimana Soeharto melakukan kudeta merangkak? Bermain di belakang layar? Sebagaimana proxy war yang kini dikembangkan kekuatan dari luar untuk Indonesia?

Pada kenyataannya, tak ada sebuah kelompok yang betul-betul terorganisasi dan mempunyai agenda perubahan. Tidak ada kelompok organisasi yang disiplin. Apalagi kita terlalu dipengaruhi yang disebut gossip politik bernama teori konspirasi.

Saya bukan penentang golput, tapi saya menentang (golput atau bukan) yang mendeligitimasi demokrasi, tapi tak mampu menyodorkan alternatif, dan hanya menyodorkan dirinya sebagai ganti kekuasaan. Pernyataan bahwa demokrasi ini buruk, sementara yang baik seperti apa juga tak diketahuinya, hanya menunjukkan sebagai kelompok pecundang yang ingin menjadi pahlawan.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Thursday, January 24, 2019 - 23:15
Kategori Rubrik: