Golput Bukan Pilihan

ilustrasi

Oleh : Untung Parlindungan Siahaan

Sewaktu berangkat hendak melatih Paduan Suara, saya sempat bercakap-cakap tentang berbagai hal dengan supir ojek yang saya naiki. (Saya naiki motornya, bukan orangnya, mind you...)

Sewaktu ada pilihan jalan antara lurus naik jembatan (tapi verboden untuk kendaraan roda dua) dan belok kiri agak jauh baru memutar, dia memilih belok kiri dan memutar. Saya (UPS) tanya: Kenapa nggak naik jembatan aja Bang biar cepat? 
Supir Ojek (SO): Kan untuk motor verboden, Pak? 
UPS: Itu banyak aja yang naik tapi, ya, Bang?
SO: Ya, mereka itulah orang yang nggak berhak protes kepada pemerintah..!
UPS: Lho kenapa?
SO: Mereka sendiri melanggar peraturan, kok berani-beraninya mengritik pemerintah?

Saya tercengang dengan hikmat seorang tukang ojek.... Iseng saya tanya lagi. UPS: Lah kalau mengenai masyarakat yang punya hak pilih tapi malah golput gimana, Bang?

SO: Mereka lebih parah, Pak...!!
UPS: Lho kok bisa?
SO: Iyalah, Pak. Kayak Bapak deh. Bapak 'kan mau ke (xxxtujuan sayaxxx). Bapak bisa milih naik jembatan atau mutar. Naik jembatan sih salah, bisa berhenti di tengah jalan ditangkap polisi, tapi itu tetap pilihan yang bisa mengantar Bapak pada tujuan. Di lain pihak walaupun jauh, Bapak bisa memilih untuk belok kiri dan memutar, tujuannya ya sampai ke (xxxtujuan sayaxxx) itu.

Nah, golput itu sama seperti kalau Bapak ga milih naik jembatan, juga nggak milih belok dan mutar, melainkan Bapak milih putar balik dan pulang ke rumah. Terus di rumah mimpi tiba-tiba sudah sampai di (xxxtujuan sayaxxx). Emang bisa...?!?!

Sayang saat itu kami sudah sampai di tujuan dan saya sudah hampir terlambat; padahal saya masih berminat tanya ini-itulah....

Demikian pun, sewaktu turun, tak lupa saya tanyakan: Pak, selain ngojek, Bapak nyambi juga jadi dosen ya? 

#saynotogolput

Monday, January 14, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: