Golagokin Pakmus-Vaksin

ilustrasi
Oleh : Sunardian Wirodono
Banyak yang meyakini vaksin seolah satu-satunya jalan membebaskan diri dari virus bernama Covid-19. Bukan sesuatu yang buruk, karena putus asa adalah dosa. Tahu ‘kan, resiko dosa masuk neraka? Maka berpengharapanlah.
Saya tak sedang mengecilkan soal besarnya kepercayaan pada vaksin, dan segala budi-daya manusia Indonesia. Tapi, vaksin hanyalah salah satu, sebagaimana agama juga hanya salah satu, termasuk iptek dan imtaq juga adalah salah satu. Bukan satu-satunya.
Yang suka satu-satunya, mutlak-mutlakan, hanya Soeharto dan para kadrun dan kampret. Cuma karena Gatot Nurmantyo, jendral bekas itu, melarang kita pakai istilah kadrun dan kampret (karena katanya menghina tuhan), jangan pakai istilah kadrun dan kampret. Cari pengganti istilah kadrun dan kampret itu, dengan istilah yang lebih indah dari kadrun dan kampret. Agar istilah kadrun dan kampret tak sering kita sebut,…
Kalau istilah cebong, atau kecebong? Nah, itu tak apa, karena hanya menghina Jokowi. Jangan samain tuhan dengan Jokowi.
Satu tahun dalam masa pandemi, Indonesia salah satu negara yang pertumbuhan ekonominya negatif. Namun daya tahan ekonomi kita cukup liat. Itu semua, 40% ditopang liatnya umkm, ekonomi mikro kita, yang tahan banting. Adaptif, dan mau tak mau harus fight, survive. Karena to be or not to be. Sementara industri besar ambruk, atau tahan nafas, karena pelakunya masih bisa hidup ‘meski nganggur’ 3-5 tahun. Beda dengan para jelata. Jika hari ini nggak dapet duit nggak bisa makan. Tak punya deposito seperti youtuber Lik Damis.
Senyatanya, selain umkm yang tumbuh dari jelata, pertumbuhan itu didorong anak-anak muda yang bergerak di bisnis online, startup. Senyampang itu, tumbuhnya ojek dan car online yang bersinergi. Di situ sebenarnya dampak utama UU Cipta Kerja bisa lebih memaksimalkan aktivitas umkm. Sayangnya, segmen ini jarang disorot sebagai penyedot tenaga kerja terbesar di Indonesia. Mereka yang terbiasa menjadi benalu rezim ekonomi makro (juga biasa memanfaatkan media), melakukan kampanye negatif UUCK.
Covid-19 memang sialan. Karena secara fakta dan data sulit terbantah. Bagi keluarga yang ditinggalkan dengan vonis terkena Covid-19, sangat merasakan. Bukan hanya para jelata, tapi para pejabat negara dan aparat pemerintahan. Orang kaya dan terkenal banyak terkena. Tak sedikit yang meninggal. Bukan hanya di Indonesia, melainkan di AS, Inggris, Perancis, Jerman, Australia, dan seterusnya. Mendunia. Merata. Tanpa ampun.
Di Indonesia, berita yang terkena Covid-19 sudah mencapai ratusan ribu. Kini mendekati 1 juta. Sayangnya kita tak membaca dari sekian ratus ribu yang terkena, sekian ratus ribu pula sembuh. Sebelum vaksin yang digadang-gadang itu tiba. Artinya apa? Performance Indonesia berkait virus corona, tidak sangat buruk. Meski tampak lebih fokus dalam soal penanganan yang terdampak. Yang belum?
Yang belum justeru sering diabaikan, dan bukan fokusnya. Malah karena ketidakmampuan, atau terbatasnya kapasitas, ada istilah OTG (Orang Tanpa Gejala). Hadeh, tanpa gejala kok terkena, itu kalau bukan karena tak mampu, sebut saja penggunaan istilah secara serampangan.
Kucuran dana dari pemerintah, juga lebih fokus pada mereka yang terdampak ekonomi karena covid. Meski sistem dan mekanismenya rawan korupsi, dengan qua-accountability rendah. Setelah Kemensos, amati saja bagaimana Kemendes, Kemenaker, Kemkominfo, Kemendikbud, dan mereka yang obral bansos dalam berbagai bentuk dengan alasan pandemi.
Bangsa Indonesia, dengan heterogenitasnya, bangsa yang plural, hidup di negara tropis, dengan alam yang kaya dengan tumbuhan dan rempah, adalah sorga dunia. Karena sorga akhirat kita tidak tahu. Termasuk mereka yang suka mengkampanyekannya.
Dengan kondisi dan kekayaan alamnya, bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki daya imunitas tinggi. Meski hanya mengenal dua musim, bangsa Indonesia memiliki daya adaptasi luar biasa. Hal itu, langsung tidak langsung berpengaruh pada daya tahan dan daya imunitas kita, dari serangan virus corona.
Rakyat jelata yang secara ekonomi terkena dampak pandemi, karena survivalitasnya. Negara hanya otomatis menolong para punggawanya. Sementara bansos untuk rakyat swasta, malah dikorupsi. Tapi rakyat swasta ini mencari jalannya sendiri. Banyak umkm lahir, tumbuh, dan berkembang. Industri rumahan, seperti jejamuan atau yang disebut obat-herbal, meraja-lela. Banyak yang dulu bermasalah karena tak punya tempat, dan hanya kelas rumahan atau lokal, kini mereka tumbuh menasional dan menggobal, secara online. Akar bajaka dari suku Dayak saja, kini beriklan di youtube.
Pada sisi itu, ada yang perlu diperingatkan pada pemerintah. Perhatikan juga bagaimana penguatan sistem pertahanan tubuh manusia. Kekebalan tubuh atau daya imnunitasnya, selain prokes yang standar (pakai masker, cuci tangan, jaga jarak) itu. Kalau mengenai daya adaptasi, rakyat jelata dengan survivalitasnya, sangat terlatih dan mandiri. Manusia Indonesia sangat adaptif dan kreatif. Dan karenanya solutif.
Vaksin belum kita tahu kesaktiannya. Kita belum tahu pula sampai berapa lama pertarungan ini. Begitu juga adaptasi ‘new normal’ macam apa lagi yang mau dikampanyekan. Namun daya hidup itu selalu berkait gaya hidup. Gaya hidup macam apa, yang mesti kita lakukan dan selaraskan, itu masalahnya.
Sebelum dunia ribut soal virus corona, di Indonesia sudah tumbuh tradisi-tradisi prokes melalui jenis dan macam konsumsi kita. Makan tongseng saja, ada penangkalnya, sebelum ada suntik insuline. Ragam makanan dan minuman, banyak yang secara langsung tak langsung menumbuhkan daya imunitas tubuh kita. Sayangnya, lembaga macam IDI, BPOM, industri farmasi, MUI, tidak ramah dengan sektor ini. Pikiran sektoral, selalu menjadi penghambat. Ini belum kalau kita sodorkan soal daun ganja, ciu Solo dan Pati, bandrek Bandung, arak Bali, fermentasi beras merah Dayak, dan sebagainya, yang katanya haram.
Jika cuci tangan pakai sabun dianggap prokes yang ampuh, bisa mematikan virus, segala jejamuan dan produk rempah kita, dari berbagai penelitian ilmiah, memiliki kadar antiseptic lebih ampuh dari sabun. Kecuali kalau kita gemar nyabun mulu, maka kreativitas sering terbatas di kamar mandi doang. | @sunardianwirodono
Wednesday, January 6, 2021 - 10:45
Kategori Rubrik: