Give Him A Chance Not Apriori

ilustrasi

Oleh : Agung Wibawanto

Saya yakin Pak Din gak punya no hp pakde, sehingga gak disampaikan langsung. Atau mungkin juga tidak punya keberanian untuk kritik langsung. Atau, ya jelas agar banyak orang tahu kalau dia berani bicara negatif kepada presiden. Kan keren kesannya (panggung mana panggung?).

Saya hanya merasa takjub saja. Betapa banyak orang dan sering dari mereka berkata buruk, memaki, menghujat, dan menebar rasa kebencian kepada Jokowi. Namun coba perhatikan, kapan Jokowi pernah melakukan itu kepada orang-orang yang tidak suka padanya? Tidak pernah.

Bahkan Din pernah dipercaya dan diangkat langsung oleh Jokowi sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban di Ruang Kredensial, Istana Merdeka, Jakarta, Senin (23/10/2017).

Terkait dengan mas menteri, sejak awal Jokowi memilih atau menunjuk Nadiem Makarim sebagai Mendikbud dengan harapan bisa membuat arah pendidikan nasional yang sesuai dengan tuntutan zaman. Meningkatkan SDM dengan kompetensi penguasaan teknologi menjadi prioritas.

Hal ini terinspirasi terhadap pengalaman Nadiem sendiri yang dianggap mampu mengelola dan mengembangkan star up Gojek menjadi aplikatif dan mendunia. Saya sendiri mencoba tidak sekadar ikut-ikutan menyudutkan Nadiem tanpa memberinya kesempatan menunjukkan kinerjanya terlebih dahulu.

Banyak orang mudah bersikap apriori terutama kepada orang muda dan pastinya dari kalangan profesional, bukan dari kalangan partai (adakah karena rasa iri?). Mengapa tidak memberi kesempatan terlebih dahulu sehingga benar bisa diketahui dan dievaluasi jika memang ditemui adanya masalah.

Jika pun ada sesuatu yang dianggap keliru, maka silahkan sampaikan, bahas dan perbaiki bersama. Bukan hanya berkoar-koar memaki, menghujat hingga menggiring opini ketidakmampuan Nadiem bekerja. Apalagi sampai harus menuding presiden bertanggungjawab. Presiden hanya menyampaikan sebuah visi dan misi, konsep besar dan gambaran umum.

Silahkan para menteri berkreativitas menerjemahkan kemudian mengimplementasikannya ke dalam kebijakan dan peraturan menteri terkait. Menteri adalah "kaki dan tangan" presiden atau eksekutor dari visi misi. Hingga kini saya tetap berkeyakinan bahwa masalahnya bukan pada "tangan dan kakinya", bukan pula keliru "kepalanya" yang membuat ide gagasan besar.

Melainkan karena adanya sikap-sikap apriori yang belum apa-apa sudah menolak dengan keras. Coba berkaca pada pengalaman Menag, Fachrul Razi, yang sejak awal memang benar-benar diremehkan. Toh sampai sekarang masih bisa menjabat. Segala tudingan yang mengerikan itu minimal sampai hari ini tidak banyak terbukti.

Jika sikap apriori ini lebih dikedepankan, maka tidak akan ada sesuatu yang bisa berkembang maju. Rasa curiga dan menyalahkan merupakan virus dan racun yang menghambat kreativitas. Memasung kebebasan berpikir dan berkarya. Tentu itu sangat berbahaya karena bertentangan dengan konstitusi serta akan menghambat para menteri dalam bekerja.

Menteri kembali saja seperti zaman dulu yang bekerja sesuai text book, normatif dan tanpa gebrakan, tidak punya inisiatif dan inovatif. Sesuatu yang pasti bertentangan dengan alam pikir presiden Jokowi yang selalu out the box. Saya akan tetap dukung orang-orang seperti Nadiem dan Erick Thohir dalam bekerja, sebelum benar-benar terbukti mereka tidak mampu.

Mari bijak dalam melihat dan berkomentar. Apalagi bagi orang-orang sekaliber pak Din yang sudah dianggap mumpuni pengetahuan dan kearifannya. Mas menteri sendiri bukannya tanpa hati, ia sudah berkeputusan menghentikan dulu POP dan lakukan evaluasi. Ini demi mendengar kritikan yang masuk. Kurang apa? Maka give him a chance. (Awib)

Sumber : Status facebook Agung Wibawanto

 
 
Thursday, July 30, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: