Give Him A Chance Not Apriori

Silahkan para menteri berkreativitas menerjemahkan kemudian mengimplementasikannya ke dalam kebijakan dan peraturan menteri terkait. Menteri adalah “kaki dan tangan” presiden atau eksekutor dari visi misi. Hingga kini saya tetap berkeyakinan bahwa masalahnya bukan pada “tangan dan kakinya”, bukan pula keliru “kepalanya” yang membuat ide gagasan besar.

Melainkan karena adanya sikap-sikap apriori yang belum apa-apa sudah menolak dengan keras. Coba berkaca pada pengalaman Menag, Fachrul Razi, yang sejak awal memang benar-benar diremehkan. Toh sampai sekarang masih bisa menjabat. Segala tudingan yang mengerikan itu minimal sampai hari ini tidak banyak terbukti.

Jika sikap apriori ini lebih dikedepankan, maka tidak akan ada sesuatu yang bisa berkembang maju. Rasa curiga dan menyalahkan merupakan virus dan racun yang menghambat kreativitas. Memasung kebebasan berpikir dan berkarya. Tentu itu sangat berbahaya karena bertentangan dengan konstitusi serta akan menghambat para menteri dalam bekerja.

Menteri kembali saja seperti zaman dulu yang bekerja sesuai text book, normatif dan tanpa gebrakan, tidak punya inisiatif dan inovatif. Sesuatu yang pasti bertentangan dengan alam pikir presiden Jokowi yang selalu out the box. Saya akan tetap dukung orang-orang seperti Nadiem dan Erick Thohir dalam bekerja, sebelum benar-benar terbukti mereka tidak mampu.

Mari bijak dalam melihat dan berkomentar. Apalagi bagi orang-orang sekaliber pak Din yang sudah dianggap mumpuni pengetahuan dan kearifannya. Mas menteri sendiri bukannya tanpa hati, ia sudah berkeputusan menghentikan dulu POP dan lakukan evaluasi. Ini demi mendengar kritikan yang masuk. Kurang apa? Maka give him a chance. (Awib)

Sumber : Status facebook Agung Wibawanto

 
 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *