Gini Cara Mendiknas Tunjukkan Keteladanan

Ilustrasi

Oleh Zaenal Abidin el Jambey

Di tengah persepsi negatif kepada pejabat di negeri ini. Setetes embun seolah Allah teteskan untuk menyegarkan dahaga kejujuran di negeri ini.Ya, publik dibuat heboh dengan tidak lulusnya putra menteri Pendidikan PakAnies Baswedan dalam ujian SNMPTN tahun 2016 ini. Sebagian orang mungkin akan menganggap itu sebagai hal yang memalukan, anaknya menteri kok ndak lulus.

Kok ya ndak nitip saja ke panitia seleksi agar diluluskan. Kalau saya ya tinggil nitip saja ke panitia, beres. Ya seperti inilah memang mental kebanyakan orangdi negeri ini. Apalagi mereka yang punya uang, akses dan jabatan tinggi. Bagi mereka lulus atau mendapatkan jabatan dengan menyuap atau menggunakan jalan-jalan yang tidak terpuji lebih “mulia” dari pada menggunakan jalur “kejujuran” namun gagal memperoleh tujuannya.

Kita patut bersyukur kepada Allah SWT masih diberikan sosok pejabat publik di negeri ini yang menjunjung nilai-nilai kejujuran. Bukan tambah menghina dan merendahkan hanya gara-gara tidak lulus SNMPTN. Masih ingat dibenak kita sekitar dua tahun lalu, ketika putri Pak Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, juga gagal saat ikut tes CPNS. Publik heboh dan menyerang Pak Jokowi seraya menyebutnya presiden plonga-plongo, tidak kompeten, presiden payah dan aneka hinaan yang sementinya tidak layak untuk dialamatkan kepada seorang presiden.

Apa sih sulitnya bagi Pak Anies Baswedan untuk meloloskan putrinya agar bisa masuk ke perguruan tinggi negeri. Kalau lewat tes mudah saja bagi Pak Anies untuk nitip putranya, atau kalaupun tanpa tes juga mudah saja bagi beliau untuk memasukkan putranya ke Perguruan Tinggi Negeri favorit. Tapi semua itu tidak dilakukan oleh beliau. Mengapa? Karena beliau sadar cara seperti itu adalah cara yang salah. Bukannya menyelamatkan anak, tapi justru menjerumuskan anak untuk menjadi pecundang. Seperti halnya Pak Anis, apa susahnya bagi seorang Presiden orang nomor satu di negeri ini untuk meloloskan anaknya saat tes CPNS? Tapi Pak Jokowi tidak melakukan itu.

Di Surabaya langkah serupa juga dilakukan oleh kepala Dinas Pendidikan Surabaya, Pak Ichsan. Saat sang putera tidak lolos seleksi masuk di SMP favorit di Surabaya, beliau juga tidak menggunakan kekuasaan atau jabatannya sebagai alat untuk meloloskan anaknya agar bisa sekolah di SMP favorit. Sementara di lain pihak, orang-orang berduit mulai pejabat sampai pengusaha, beramai-ramai minta bantuan Pak Ichsan agar anaknya bisa masuk disekolah favorit. Permintaan itupun ditolak mentah-mentah oleh beliau.

Inilah yang harus terus membuat kita optimis, bahwa bangsa ini akan menjadi bangsa yang baik. di tengah bombardir informasi dengan aneka citra negatif tentang bangsa ini, optimisme harus terus kita pelihara. Percayalah masih banyak orang baik di negeri ini. Masih banyak mereka yang menjunjung tinggi nilai keadilan dan kejujuran.

Kita patut berterimakasih kepada menteri pendidikan atau kepada Presiden dengan teladan ini. Kegagalan itu menjadi bukti bahwa seleksi-seleksi ujian yang berlangsung dilaksanakan secara terbuka, kredibel, dan profesional. Di tengah jabatan dan kekuasaan dalam genggamannya, proses itu berlangsung objektif.

Padahal bisa saja beliau-beliau itu menggunakan kekuasaan untuk membantu anak-anaknya. Ini juga menjadi pelajaran bagi masyarakat di negeri ini, siapapun dia mulai anak presiden sampai rakyat jelata, bahwa keadilan dan kejujuran harus benar-benar ditempatkan di atas segalanya. Kalau ingin lulus ya belajar dengan sungguh-sungguh. Bukan dengan sogok menyogok dan cara-cara yang tidak dibenarkan.

(Kompasiana)

Di tengah persepsi negatif kepada pejabat di negeri ini. Setetesembun seolah Allah teteskan untuk menyegarkan dahaga kejujuran di negeri ini.Ya, publik dibuat heboh dengan tidak lulusnya putra menteri Pendidikan PakAnies Baswedan dalam ujian SNMPTN tahun 2016 ini. Sebagian orang mungkin akanmenganggap itu sebagai hal yang memalukan, anaknya menteri kok ndak lulus. Kokya ndak nitip saja ke panitia seleksi agar diluluskan. Kalau saya ya tinggilnitip saja ke panitia, beres. Ya seperti inilah memang mental kebanyakan orangdi negeri ini. Apalagi mereka yang punya uang, akses dan jabatan tinggi. Bagimereka lulus atau mendapatkan jabatan dengan menyuap atau menggunakanjalan-jalan yang tidak terpuji lebih “mulia” dari pada menggunakan jalur“kejujuran” namun gagal memperoleh tujuannya. Kita patut bersyukur kepada Allah swt., masih diberikan sosok pejabatpublik di negeri ini yang menjunjung nilai-nilai kejujuran. Bukan tambahmenghina dan merendahkan hanya gara-gara tidak lulus SNMPTN. Masih ingat dibenak kita sekitar dua tahun lalu, ketika putri Pak Joko Widodo, PresidenRepublik Indonesia, juga gagal saat ikut tes CPNS. Publik heboh dan menyerangPak Jokowi seraya menyebutnya presiden plonga-plongo, tidak kompeten, presidenpayah dan aneka hinaan yang sementinya tidak layak untuk dialamatkan kepadaseorang presiden. Apa sih sulitnya bagi Pak Anies Baswedan untuk meloloskanputrinya agar bisa masuk ke perguruan tinggi negeri. Kalau lewat tes mudah sajabagi Pak Anies untuk nitip putranya, atau kalaupun tanpa tes juga mudah sajabagi beliau untuk memasukkan putranya ke Perguruan Tinggi Negeri favorit. Tapisemua itu tidak dilakukan oleh beliau. Mengapa? Karena beliau sadar caraseperti itu adalah cara yang salah. Bukannya menyelamatkan anak, tapi justrumenjerumuskan anak untuk menjadi pecundang. Seperti halnya Pak Anis, apasusahnya bagi seorang Presiden orang nomor satu di negeri ini untuk meloloskananaknya saat tes CPNS? Tapi Pak Jokowi tidak melakukan itu. Di Surabaya langkah serupa juga dilakukan oleh kepala DinasPendidikan Surabaya, Pak Ichsan. Saat sang putera tidak lolos seleksi masuk diSMP favorit di Surabaya, beliau juga tidak menggunakan kekuasaan ataujabatannya sebagai alat untuk meloloskan anaknya agar bisa sekolah di SMPfavorit. Sementara di lain pihak, orang-orang berduit mulai pejabat sampaipengusaha, beramai-ramai minta bantuan Pak Ichsan agar anaknya bisa masuk disekolah favorit. Permintaan itupun ditolak mentah-mentah oleh beliau. Inilah yang harus terus membuat kita optimis, bahwa bangsa iniakan menjadi bangsa yang baik. di tengah bom bardir informasi dengan anekacitra negatif tentang bangsa ini, optimisme harus terus kita pelihara. Percayalahmasih banyak orang baik di negeri ini. Masih banyak mereka yang menjunjungtinggi nilai keadilan dan kejujuran. Kita patut berterimakasih kepada menteri pendidikan atau kepadaPresiden dengan teladan ini. Kegagalan itu menjadi bukti bahwa seleksi-seleksiujian yang berlangsung dilaksanakan secara terbuka, kredibel, dan profesional.Di tengah jabatan dan kekuasaan dalam genggamannya, proses itu berlangsungobjektif. Padahal bisa saja beliau-beliau itu menggunakan kekuasaan untukmembantu anak-anaknya. Ini juga menjadi pelajaran bagi masyarakat di negeriini, siapapun dia mulai anak presiden sampai rakyat jelata, bahwa keadilan dankejujuran harus benar-benar ditempatkan di atas segalanya. Kalau ingin lulus yabelajar dengan sungguh-sungguh. Bukan dengan sogok menyogok dan cara-cara yangtidak dibenarkan.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/zaenalabidin/keteladanan-dari-pak-menteri-pend...

Sunday, May 15, 2016 - 21:45
Kategori Rubrik: