Gimana Menangin Jokowi

Oleh: Sunardian Wirodhono

 

Jika kita andaikan survey mutakhir Kompas hari ini (19/3) adalah hasil Pilpres pada 17 April 2019, Jokowi-Ma'ruf terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2019 - 2024.

Tapi apa trend yang terjadi beberapa minggu ke depan, kita belum tahu. Hanya yang kita tahu, dengan latar belakang berbeda, Ahok-Jarot mampu disingkirkan oleh Anies-Sandi. Maka apakah karena faktor Sandi, pada posisi wakil, justeru menjadi Bathara Kala bagi Jokowi juga?

 

 

Bukan sih, beda kasus dan eskalasi, meski situasi Pilpres ini diupayakan mirip oleh para penggiat dan pejuang nomor 02. Apalagi dalam kasus Pilkada DKI Jakarta 2017, tak sedikit pendukung Ahok yang tak datang ke TPS (baik karena takut ancaman, meyakini Ahok pasti menang, atau karena memang hanya jagoan kandang bekoar di medsos). Meski dalam Pilpres 2019 ini, militansi pendukung Jokowi-Ma'ruf juga bisa jadi equivalen alias sami mawon.

Dibanding pendukung nomor 02, pendukung Jokowi-Ma'ruf kalah militan. Mungkin malu-malu untuk fanatik, kemudian berdalih elegan sebagaimana kata yang acap diucap; Gusti Allah mboten sare. Itu kalimat menghina tuhan sesungguhnya. Emangnya tuhan sama dengan manusia, ngantukan dan tiduran karena kadar gula naik? Setidaknya dari sikap itu, elektabilitas Jokowi turun dikit dan elektabilitas lawan naik dikit. Itu artinya membenarkan strategi lawan, bagaimana merisak nama Jokowi-Ma'ruf terbukti efektif dan efisien.

Meski juga tak ngaruh sih, soal apakah kalah militan atau tidak. Karena loyalitas itu akan terbuktikan dari perolehan suara. Lha, apakah 100% pendukung Jokowi akan datang ke TPS tanggal 17 April 2019, dan mencoblos capres nomor 01? Itu saja persoalannya. Karena kemenangan paling valid, adalah dari perolehan suara capres di coblosan itu. Bukan keindahan dan keburukan kata-kata di medsos.

Tapi, untuk apa memenangkan Jokowi-Ma'ruf? Sungguhkah kita takut negara akan blangsak, jika kembali dikuasai para soehartois yang suka KKN? Atau kita sendiri bagian yang tak mau berubah itu? Yang nyesel milih Jokowi, karena mau korupsi kagak bisa? Lihat, para ASN saja eneg, karena nggak bisa males-malesan dan korupsi kayak jaman sebelumnya? Nggak bisa ngelayap ke mall di jam kerja?

Terus gimana cara menangin Jokowi? Kalau kita sebagai rakyat pemilih, kalah militan di medsos dan di lapangan kampanye, mungkin tak apa. Tapi tidak datang ke TPS pada waktunya, bahkan males ngurus surat suara, itu kesalahan, karena hanya akan menguntungkan bukan pilihanmu. Senyampang itu, pertanyaannya, TKN itu singkatan apa? Jangan-jangan Tim Kampret Nasional? Kan perot kalok gitu!

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Wednesday, March 20, 2019 - 14:30
Kategori Rubrik: