Gimana Mau Move On

Ilustrasi

Oleh : Desrinda Syahfarin

Gimana mau move on kalau kayak gini? Setiap hari selalu ada berita yang mengacak-acak perasaan saya sebagai pembayar pajak bahwa orang-orang yang saya gaji untuk bekerja mengadministrasi keadilan sosial malah menghambur-hamburkan dana ke segala arah yang ujung-ujungnya memperkaya segelintir orang.

Senin malam ini, 20 November 2017, saya mau tidur malah insomnia gegara ketiban sial baca berita berikut tayang di detik.com pukul 21:49 WIB tadi.

https://m.detik.com/…/rp-620-juta-untuk-kolam-dprd-sandiaga…

Nilai anggaran untuk rehabilitasi kolam air mancur DPRD adalah sebesar Rp 620.715.162,00. Nilai anggaran yang dapat dilihat di situs e-APBD DKI tersebut kemudian diperinci kembali.

Ada anggaran untuk membeli bibit bunga, yaitu Bougenville vareigata, kamboja merah tinggi, pohon pucuk merah, puring bor, dan rumput gajah mini. Totalnya mencapai Rp 11.388.740.

Ada juga biaya untuk pemeliharaan mesin pompa, pemeliharaan jaringan teknologi informasi, pemeliharaan gedung, pengadaan mesin pompa, pengadaan konstruksi reservoir, hingga pengadaan tanaman.

Mungkin horang kayah emang gitu ya...apa lagi kalau bukan keluar dari kantong sendiri, selera tinggi, ya mengalir enteng deh Rp.620 juta rupiah untuk sepetak kolam kecil demi menyejukkan pemandangan di depan mata orang-orang yang lupa bahwa mereka digaji rakyat untuk melayani rakyat, bukan bertahta a la Yudistira dan Arjuna (sik sik sik...dalange sopo?) zaman now.

Zaman old? Itu air mancur di Monas yang jadi hiburan rakyat akhirnya menari kembali TANPA DANA APBD, TANPA DANA CSR, MELAINKAN DARI HASIL PATUNGAN.

http://megapolitan.kompas.com/…/air-mancur-menari-monas-has…

Setelah delapan tahun tahun tak berfungsi, air mancur menari di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, akhirnya dapat dinikmati kembali sejak Sabtu (12/8/2017) malam.

Kepala UPT Monas Sabdo Kristianto menceritakan, para pekerja harian lepas (PHL) di Monas bersemangat untuk membersihkan area kolam yang sudah kotor dan berbau itu. Mereka mencari tahu di mana letak kerusakan air mancur.

Segala masalah dan perbaikan itu kemudian dilaporkan ke Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang saat itu masih menjabat Gubernur DKI Jakarta dan Djarot Saiful Hidayat yang saat itu menjadi wakil Ahok.

Perbaikan air mancur menari ternyata membutuhkan dana yang tak sedikit. Pihak UPT Monas sempat mencari darna corporate social responsibility (CSR), tetapi tak kunjung dapat. Sementara itu, dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI juga terbatas sehingga tak mungkin dipakai untuk perbaikan air mancur.

Meski demikian, perbaikan air mancur sedikit demi sedikit tetap dilakukan. Sabdo mengatakan, ia mendapat bantuan dari Ahok hingga Djarot berupa keperluan yang dibutuhkan untuk memperbaiki air mancur.

"Saya lapor ke mereka. Mereka akhirnya memberikan barang-barang yang saya butuhkan," ujar Sabdo.

Ahok memberikan perangkat kelistrikan hingga kabel agar air mancur menari bisa kembali menyala. Ahok sendiri disebut menyumbang sekitar Rp 200 juta.

Sumbangan lainnya datang dari musisi Addie MS. Addie menyumbang aransemen lagu untuk mengiringi air gerakan air mancur. Kemudian, Sabdo meminta tolong sahabatnya, Harry Kiss untuk menyumbangkan sound system.

Kini, warga bisa kembali menyaksikan keindahan air mancur menari di Monas secara gratis setiap Sabtu dan Minggu, pukul 19.30 dan 20.30 WIB. Setiap sesinya, pengunjung bisa menikmati air mancur menari selama sekitar 20-30 menit yang akan memainkan sekitar 5-6 lagu.

#######

Duh...Pilkada DKI lagi masih lama ya? Udah nggak sabar deh pengen ganti Gubernur-Wagub dengan yang rada bener, semoga jangan gabener dan wahgabener berkelanjutan. Amin.

Sumber : Status Facebook Desrinda Syahfarin

Wednesday, November 22, 2017 - 21:15
Kategori Rubrik: