Giliran WHO Larang Lockdown

ilustrasi

Oleh : Ricke Senduk

Organisasi PBB, WHO berbalik arah,para pemimpin dunia diminta untuk berhenti menggunakan lockdown sebagai metode utama memerangi covid-19 karena WHO tidak pernah menyarankan lockdown.

Alasannya?
Satu-satunya hal yang diraih dari lockdown adalah kemiskinan, tanpa menyebut jumlah jiwa yang telah diselamatkan dari kebijakan itu.

"Lockdown memiliki konsekuensi yang tidak bisa Anda anggap remeh yaitu membuat orang miskin semakin miskin," ujar David Nabarro, pejabat WHO.

Pernyataan Nabarro bersamaan dengan seruan dari sejumlah pakar kesehatan dunia yang bersama -sama meminta penghentian lockdown.

Mereka membuat petisi 'Great Barrington Declaration' yang menyebut lockdown telah menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki.
https://www.cnbcindonesia.com
mediaindonesia.com
12/10/2020

Mundur kebelakang..
Ketika negara negara lain memutuskan melakukan lockdown, Jokowi barangkali satu satunya presiden yang menolak melakukan lockdown.

Yang Jokowi pilih, PSBB.

Akibatnya, pemerintahan Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Jokowi jadi sasaran kritik media asing karena kebijakannya dalam penanganan Covid-19.

Begitu juga dari dalam negeri.
Jokowi dikecam. Dianggap ngawur , tidak perduli pada kesehatan rakyat dengan kebijakannya.

Tapi presiden tetap pada keputusan tidak ada lockdown selain PSBB.
Bahwa kesehatan harus berjalan seiring dengan ekonomi.

Awalnya Jokowi tidak secara gamblang membuka alasannya. Baru pada 1 April secara blak blakan Jokowi membuka alasannya,

" Lockdown itu apa sih? Orang enggak boleh keluar rumah, transportasi harus semua berhenti, baik itu bus, kendaraan pribadi, sepeda mobil, kereta api, pesawat berhenti semuanya. Kegiatan -kegiatan kantor semua dihentikan. Kan kita tidak mengambil jalan yang itu," kata Jokowi.

"Kita ingin tetap aktivitas ekonomi ada, tapi masyarakat kita semua harus jaga jarak aman, social distancing, physical distancing itu yang paling penting," sambungnya.

Tapi meski sudah diarahkan Jokowi, sejumlah kepala derah mengabaikan dengan memutuskan tetap melakukan local lockdwon atau karantina wilayah lokal dengan cara caranya masing masing, seperti Tegal, Tasikmalaya, Papua, Makassar, Ciamis, dan Surabaya.

Belakangan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga mengajukan surat permohonan karantina wilayah.
Tapi permintaannya ditolak. Jokowi malah menerbitkan PP Nomor 21 Tahun 2020 yg mengatur ttg Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Kompas.com 2/4/2020.

Jadi.. Jauh sebelum WHO meminta agar para pemimpin dunia berhenti melakukan lockdown, lakukan cara lain karena lockdown menyebabkan kemiskinan.. Jokowi sudah memutuskan, Indonesia tidak akan melakukan lockdown karena akan mengganggu perekonomian.

Meski dikecam tapi demi kebaikan rakyat, Jokowi tidak perduli..

Rakyat yang kelaparan, kemiskinan kesengsaraan yang melanda banyak negara di dunia yang menyebabkan 12.000 pakar kesehatan dunia menantangani petisi berbarengan dengan permintaan WHO agar para pemimpin negara berhenti me-lock down, jadi bukti kenapa Jokowi tolak lockdown.

Jokowi pilih menerima serangan dan kecaman demi menyelamatkan rakyat Indonesia.

Salut..Harus diakui, Presiden Jokowi yang mantan tukang mebel ini mampu melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh WHO, para pakar kesehatan dan para pemimpin dunia lainnya..

Terima kasih pak Jokowi..

Sumber : Status Facebook Ricke Senduk

Monday, October 19, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: