Gibran? Ndeso Maning?

ilustrasi

Oleh : Karto Bugel

Tak semua orang dapat berkonsentrasi ketika riuh suara mengepung pendengaran kita. Namun bukan berarti semua orang dijamin pasti terganggu seluruh konsentrasinya ketika suara ribut memenuhi telinga.

Apakah anda anak presiden? Apakah ketika anda anak presiden pilihan hidup anda harus dibatasi demi bapak?

Pingin ini, disorot, pingin itu, diliatin. Ngomong ini, disalahin, diam saja, dinyinyirin.

Anda terganggu dengan kondisi itu? Kalau terganggu, anda belum siap jadi anak presiden. Gitu aja koq repot..!!

"Trus harus gimana?"

Lah, yang presiden kan bapak kita! Enjoy aja kalee..! Pingin ngelakuin apapun, lakuin aja. Yang jelas, yang akan menerjang anda bukan sekedar angin sepoi-sepoi, tapi angin besar bahkan badai.

Kita harus selalu bersiap dengan badai apapun. Kelakuan negatif, badai cacian datang. Kelakuan terpuji, badai pujiaan bisa bikin lupa diri.

Intinya, berdiri ditempat paling tinggi, angin yang kita rasakan pasti berbeda.

Gibran jualan martabak, pujian datang tak pernah berhenti. Narasi pujian itu langsung berbanding terbalik bila dia tiba-tiba nyalon jadi walikota misalnya.

Dan...,benar!!

Nepotisme langsung dilekatkan. Aji mumpung dituduhkan. Membangun dinasti, dijadikan alasan ketakutan banyak pihak.

Sama seperti anda dan saya, Gibran juga punya hak ingin menjadi apa saja yang dia mau. Sama seperti anda dan saya, siapapun orang tua kita, bukan alasan untuk mematikan pilihan hidup kita.

Disinilah makna riuh dibuat semakin ribut pada telinga kita hingga konsentrasi sederhana tak dapat kita lakukan dan kita terpancing untuk berteriak marah.

Disinilah Nepotisme, aji mumpung hingga dinasti dibuat berseliweran dengan segala dalilnya sudah dan akan terus membanjiri seluruh informasi didepan kita demi sepakat dengan keriuhan itu sendiri.

Kita bingung, kita pusing tak diberi kesempatan memililah dan kita tak dapat berpikir dengan jernih.

Padahal, anda mau menjadi tukang parkir, tukang becak bahkan menjadi walikota kan urusan anda to? Tidak ada yang anda langgar, tidak harus melulu tentang rasa solider terhadap bapak anda.

Saya adalah saya, anda adalah anda, kenapa harus tentang bapak saya?

Apakah Jokowi memberi privilege kepada anaknya karena dia Presiden? Apakah Jokowi terlihat memaksakan kehendaknya dengan memanfaatkan jabatannya saat ini? Apakah Jokowi melakukan itu semua?

Bila ada, jatuhkan dia disana, bukan fitnah dan tuduhan yang justru dibangun.

Kadang kitapun terjebak dengan mudah mengatakan "ya" karena kita terjepit pada praduga yang tak kita mengerti.

Kenapa? Ya karena riuh yang dibuat.

Bukankah sebagian dari kita kini mulai ada yang percaya bahwa KLEPON adalah makanan yang tak islami?

Karena riuh atau dalil? Atau keduanya?

Bagi saya, menanam harus memperhatikan dari mana bibit itu didapat. Gibran, bapaknya jujur, ibunya santun, kurang apa bibit seperti ini?

Bobot, tak terlalu salah bila saya artikan sebagai kapasitas dalam dirinya. Bapaknya pernah jadi Walikota, Gubernur bahkan Presiden. Dia belajar banyak dari apa yang dilihat dan dialaminya selama hidup bersama dengan orang tuanya.

Gibran tidak harus pernah menjadii pejabat atau bahkan lurah, camat, tidak! Tidak ada syarat seperti itu untuk menjadi Walikota. Dia cukup hanya didukung partai yang jumlah kursinya mencukupi.

Bebet, tidak berlebihan bila saya maknai dari cara berpakaian atau sikap sehari-harinya. Dia, hehehe..,terlalu sederhana. Terlalu biasa-biasa untuk kita menilai dia berlebihan atau glamour sebagai anak Presiden.

Ndeso kayak bapaknya, mungkin lebih tepat.

Saya akan memilih Gibran bukan karena dia anak Presiden, tapi karena dia anak Jokowi dan Iriana. Keluarga sederhana dengan bukti yang sudah teruji.

Saya, dan kebanyakan dari mereka yang marah dan ribut, bukan warga Solo, kenapa pusing? Biarkan warga Solo yang menjawab. Ini pesta mereka.

***

"Nak, kamu masih jualan martabak po?"

"Ya masih to pak, mosok harus bubaran?"

"Ya.., sapa tahu"

"Pak'e gak suruh saya 'END' sama martabak to?" Jangan ya pak...?"

"Ya nggak usah! Nyalon, nyalon saja! Bapakmu bukan ketua partai to? Kalaupun kamu kalah, kamu masih punya pekerjaan. Bapak gak bisa bikin kamu jadi ketua partai. Enggak bisa itu."

"Ciye, ciyee.., ngomongin anaknya nie yee..! Ehh..,anaknya apa bapaknya?"

"Hehehehe.he.he..."

**
.
.
.
Rahayu
Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Friday, July 24, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: