Gibran Kenapa Kamu Anak Presiden

ilustrasi
Oleh : Suparti Tambunan
 
Ketika Gibran Rakabuming ramai diberitakan akan maju jadi walikota Solo, saya adalah salah satu yang menolak. Tapi beda dengan kebanyakan pengkritik yang hanya mendasarkan pada alasan dinasti politik. Saya tidak seperti Rocky Gerung dan Said Didu yang menolak hanya karena Gibran anak presiden. Mereka sih cuma benci aja sama Jokowi.
Lebih-lebih seperti (Agus Widyanto) Awo GoSemarang, wartawan senior Semarang yang terkenal sebagai tukang nyinyir kelas facebook ini sering banget nyinyiri Gibran. Nggak tau ada masalah apa dengan hidupnya. Mungkin masa kecilnya kurang bahagia, atau tidak kebagian kerjaan kali ya.
Saya menolak lebih pada minimnya track record Gibran. Selama 32 tahun masa hidupnya, Gibran tidak pernah terlibat di partai atau organisasi besar, tak punya pengalaman di eksekutif maupun legislatif, pun belum menunjukkan bobot kepemimpinan yang mumpuni. Aturan, dia kemarin nyalon dewan dulu lah.
Dan jujur saya mendukung langkah Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo yang memilih wakilnya Achmad Purnomo sebagai penerus estafet. Perlawanan Rudy benar-benar hebat, meski dia tahu Gibran anak sahabatnya sendiri.
Dan ketika akhirnya rekomendasi jatuh ke Gibran, Rudy kembali menunjukkan kematangannya sebagai kader. Ketika partai sudah memutuskan, semua kader harus mendukung. Tegak lurus!.
Nah, dengan dukungan Rudy ini, saya pun berfikir Pilkada Solo cuma formalitas. Gibran tidur saja, nggak usah kampanye, udah pasti menang.
Tapi rupanya Gibran nggak begitu cuy. Biarpun lawannya "cuma" pasangan independen. Biarpun Solo adalah salah satu kota dengan tingkat ke-banteng-an tertinggi. Biar pun semua sumber daya dan stakeholders mendukungnya. Ternyata anak ini tidak mau ongkang-ongkang kaki.
Dan itu yang membuat saya pelan-pelan menaruh respek.
Saya melihat ayah Jan Ethes ini rajin turun ke tengah masyarakat. Sebenar-benarnya turun. Seperti para calon di pilkada dengan lawan-lawan yang berat, Gibran sangat bekerja keras.
Setiap hari, pedagang martabak ini mengunjungi pasar, UMKM, dan kantong-kantong pendukung. Meski awalnya terlihat canggung dan kurang luwes tapi ia belajar. Terus saja ia jalan, ketemu orang, menyapa, ngobrol, dan mendengarkan keluhan serta masukan.
Statusnya sebagai anak presiden tidak membuatnya enggan sowan ke tokoh-tokoh penting di Solo. Gibran sadar belum berpengalaman, maka ia silaturahmi dan berguru pada senior-seniornya. Ia kunjungi rumah Rudy, rumah Achmad Purnomo, bahkan Ganjar Pranowo.
istimewa
Kampanye di masa pandemi ia gelar dengan mengunjungi dapur umum dan kebun sayur mayur warga. Pun memberikan bantuan paket-paket sembako untuk warga yang membutuhkan.Pada titik itu, kerja keras, kemauan belajar, dan totalitas Gibran membuat saya mbatin, "duh Gibran, kenapa kamu anak presiden...". Andai saja dia bukan anak presiden maka tidak ada alasan Rocky, Didu, dan Awo melempar nyinyirannya.
Bahkan mungkin Pilkada Solo tidak akan jadi perhatian nasional. Tau-tau rakyat Solo akan mendapat pemimpin muda yang enerjik dan punya segudang inovasi. Karena sudah terlalu banyak bupati dan walikota di Jateng yang memimpin dengan modal syahwat berkuasa saja.
Tidak usah jauh-jauh, di saat pandemi Covid 19 ini, berapa banyak bupati walikota di Jateng yang benar-benar turun dan mendampingi rakyatnya. Lha wong bantuan pemerintah saja dilabeli foto wajah diri. Apakah bukan manipulasi itu namanya?
Celakanya, kebanyakan dilakukan calon-calon petahana. Fakta lho ya, di media pun banyak beritanya. Ada Bupati Klaten yang menempelkan fotonya di paket bantuan Kemensos. Sumber:disini
Lalu Walikota Semarang ikut-ikutan menempelkan stiker gambar dirinya dan wakilnya di paket bantuan Pemkot Semarang. Sumber: disini
Masih ada lagi paket bantuan Pemkab Purbalingga yang ditempeli stiker bupati Dyah Hayuning Pratiwi. Sumber: disini
Ada enam pasangan calon tunggal di Pilkada Jateng 2020. Lima diantaranya petahana. Saya jadi bertanya-tanya, selain memanfaatkan bantuan rakyat untuk kepentingan dirinya, apa lagi yang dilakukan ya?
Sebab saya lihat hanya beberapa yang mau turun ke masyarakat. Lebih banyak calon yang diam. Atau malah kebingungan mau apa. Aktifitas mereka rata-rata seremonial belaka
 
istimewa
.Lalu untuk menang pilkada bagaimana? Mengandalkan serangan fajar?
Kalau di Jatim, Gibran ini mirip dengan Calon Bupati Kediri Hanindhito Himawan. Anak Sekretaris Kabinet Pramono Anung ini juga masih muda (28 tahun) dan didukung semua partai.
Seperti Gibran, Dito juga tidak malas turun. Dia rajin sepedaan dan sekarang malah sering motoran sendiri pake vespa ketemu warga.
Anak-anak muda seperti Gibran dan Dito inilah yang justru harus diapresiasi dan diberi kesempatan. Dengan segala atributnya, mereka ternyata mau bekerja, mau berfikir, dan lebih penting lagi mau turun ke tengah-tengah warga.
Ibarat kertas putih yang kena noda. Orang-orang malah fokus pada noda yang hanya setitik daripada warna putihnya. Persis seperti Rocky, Didu, dan Awo yang hanya fokus pada "kekurangan" Gibran meski ada banyak sekali bagian positif yang layak didiskusikan.
Pramoedya Ananta Toer bilang, "adillah sejak dalam pikiran". Jadi mengapa hanya fokus pada satu kekurangan orang sedangkan dia punya banyak kelebihan. Anak-anak muda ini punya energi besar, punya semangat tinggi, punya ide-ide hebat, dan itulah yang dibutuhkan rakyat.
 
Sumber : Status facebook Suparti Tambunan
Tuesday, September 22, 2020 - 20:00
Kategori Rubrik: