Gharar

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Jual-beli gharar itu mirip dengan penipuan, meski mungkin tidak sengaja atau tidak ngeh.

Contoh di zaman modern ini misalnya beli pulsa hp. Kok tiba-tiba habis begitu saja, padahal 100ribu nilainya. Nah itu berpotensi bisa jadi ghrarar. Coba dicek, jangan-jangan terinstall aplikasi yang nyedotin pulsa.

Kedua belah pihak yaitu operator dan pelanggan harus jujur dalam hal ini. Biar tidak terjadi gharar.

Sudah banyak keluhan pelanggan yang kita dengar dalam kasus macam ini.

Contoh gharar kedua adalah langganan internet pakai kabel tv First Media. Lebih sering errornya dari pada lancarnya. Dulu awalnya lancar, cepet, ngebut. Tapi makin banyak pelanggannya, kecepatannya makin uzur, berubaha super lelet 'sabar menanti'. Padahal harga langganan naik terus.

Kecewa lah saya dan sekian banyak pelanggan lain. Lalu saya mempelopori untuk berhenti dari akad gharar ini. Yang lain pun ikutan berhenti berlangganan.

Terakhir saya dengar-dengar paket internetnya dicabut karena tidak dapat izin frekuensi dan sudah tidak ada lagi.

Lalu saya ganti provider ke yang pakai fiber optik. Paketnya bukan lagi broadband tapi dedicated. Beli segitu dapatnya ya segitu, tidak dishare ke orang lain. Istilahnya sebulan dapat jatah segitu ya segitu.

Kerennya, kalau jatah yang saya pakai kok kurang dari yang seharusnya, ada pengurangan tagihan. Jadi bayar sesuai yang dipakai saja.

Hehe keren banget provider ini nih. Sudah internetnya bebas hambatan, bisa 10 nonton youtube bersamaan tanpa jeda. Untuk upload dan download 1:1. Mantab lagi juga paham konsep gharar rupanya.

Biar kata sebulan kena 3 juta, tetap rekomended lah

Nb.

Kalau punya istri lebih dari satu, tapi lebih sering pulang istri muda, apakah termasuk gharar juga? Nanti dibahas sama pelakunya langsung, para kiyai yang punya istri banyak. Yang istrinya masih satu tidak usah komen. Karena pasti cuma teori doang hehehe

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Tuesday, February 12, 2019 - 14:00
Kategori Rubrik: