Gerombolan Beracun Menyaru Ustadz

ilustrasi

Oleh : Musrifah Ringgo

Lagi-lagi orang yang minim ilmu menebarkan kebencian yang luar biasa kurang ajar. Bahkan mereka menambah provokasi dan ketegangan makin memuncak. Kita tahu ada orang-orang yang disebut sebagai ustadz meski sejatinya minim ilmu. Dalam jagat sosmed, beberapa orang ini berperilaku bar-bar bahkan selalu menebarkan permusuhan. Tidak peduli siapapun orangnya, yang penting asal bukan dari kelompoknya langsung main hina. Siapa saja mereka?

Dedengkot pemfitnah pertama ada Alfian Tandjung. Meski pernah merasakan dinginnya sel jeruji, dia tak bosan-bosannya menuduh orang lain dengan PKI. Orang ini sepertinya memang didesain khusus bicara tentang PKI. Bahkan jelas-jelas yang dituduhnya adalah pengurus Banser, namun dia tetap gelap mata memenuhi ceramahnya dengan sebutan bahwa Banser telah disusupi PKI. Bukan sekali dua kali, hampir diberbagai acara menuduh begitu. Bahkan pernah menyebut istana telah dikuasai PKI dan bisa menggelar rapat rutin. Cek saja di youtube, banyak video Alfian yang memang merusak tatanan.

Kedua, Soni Eranata atau banyak orang mengenal denga nama Maheer Thuwailiby. Orang ini tidak berbeda dengan Alfian. Entah gerombolan mana duluan yang menggelari ustadz. Hingga tampang seorang Ustadz yang mestinya teduh, sedap dipandang mata, tenang, malah ini sebaliknya. Terakhir dia menghina Habib Lutfi dengan menyebut pakai Jilbab dan cantik. Pun ketika berkonflik dengan Nikita Mirzani, Soni menuduh sebagai L*nte. Sebuah tudingan yang luar biasa kasar kepada seorang perempuan siapapun dia.

Ketiga, Sugik Nur atau banyak orang pengikutnya menyebut Gus Nur. Padahal jelas-jelas sekolah SD saja tidak lulus, tidak pernah mondok di pesantren dan ditiap ceramahnya isinya mayoritas caci maki. Kini pria yang sudah pernah menjalani proses pengadilan kembali harus menjadi pesakitan. Kasus terakhir yang menjeratnya sewaktu menjadi tamu diacara vlog Prof Refli Harun. Sugi menyebut  bahwa NU sopirnya mabuk, kondekturnya teler, dan kernetnya ugal-ugalan, dan isi busnya PKI, liberal, dan sekuler. Bagi Sugi, caci maki, hujatan, ejekan sudah bahasa sehari-hari. Hampir tidak ada kata halus yang dipakai di materi ceramahnya.

Selain ketiga nama diatas, masih ada nama lain yang harus diwaspadai. Diantaranya Yahya Waloni, Zulkifli Muhammad Ali, Haikal Hassan, Novel Bamukmin, Tengku Zulkarnain dan masih banyak lagi. Mereka sejatinya tidak layak menyandang gelar ustadz apalagi Ulama. Karena sesungguhnya dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah bukan hanya penuh kedamaian namun juga menjauhi fitnah. Islam selalu mengajarkan kedamaian bukan kebencian yang membabi buta.

Anehnya orang-orang diatas itu hanya diundang oleh segelintir orang Islam yang biasanya setuju gerakan 212, pendukung FPI, membenci Jokowi dan sejenisnya. Hampir muslim yang mengikuti ormas Muhammadiyah dan NU tidak pernah meminta mereka sebagai penceramah. Yak arena tahu, sanad keilmuan mereka tidak jelas, suka memfitnah, hobi menghina dan berbagai kelakuan yang jelas-jelas dilarang oleh Islam serta tidak dicontohkan oleh Rasulullah. Ini PR besar bagi tokoh-tokoh muslim untuk membenahi umatnya. Maka dari itu, wacana sertifikasi ulama memang tepat dijadikan regulasi agar mereka yang tidak layak mengisi tausiah ya tidak bisa jadi penceramah.

Tuesday, November 17, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: