Gerakan Nasional 2019 Ganti Pustun

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Dalam politik modern Indonesia, negeri penuh sopan-santun, yang muda mesti sowan yang tua. Itu nasihat HNW dari PKS pada JW, agar memenuhi bijukan (bukan bujukan) AR yang ogah (jika) ‘bertemu’ JW di Istana. Takut dipolitisir. Namanya politikus busuk, syak-wasangka dikedepankan dulu. Gengsi. Buat apa rendah hati, wong bisa takabur.

Konon pemimpin ummat (ingat dua m), harus mulia (baca: tinggi hati). Tak peduli sama-sama berada di Jakarta, tetapi JW harus sowan ke Yogya. Kalau bisa dipersulit napa mesti dipermudah.

 

 

Lha, tapi, siapa yang menjamin jika JW sowan ke AR tak dipolitisir? Itu mah risiko lumrah. Yang mesti disalahkan ‘kan JW? Wong menurut anaknya AR, korban First Travell pun mesti pemerintah yang harus ngembaliin duitnya. Tapi kalau soal gaji BPIP yang ratusan juta, yang total sekitar Rp 6 milyar, mesti dihajar-bleh, sembari pura-pura nggak ngerti bahwa harga pohon plastik di anggaran Pemda DKI bisa mencapai 8,1 milyar. Kan ARB temen sendiri? Mongsok temen sendiri dikritik? Mungsuh dong yang dikritik. Soal Amien Rais ongkang-ongkang dapet Rp 600 juta? Ssst, itu mah hoax.

Politik jebakan Batman memang harus dilakukan, agar kelihatan Indonesia banget. Kita kan nasionalis, jadi wagu itu bagian dari kebanggaan bangsa. Bukan hanya wagu, kalau perlu njijiki. Tokoh yang konon demokratis, mesti feodal juga. Sok merasa dupeh senior. Meski pun senyampang itu, tindakan AR sowan ke RS ke Mekkah patut ditertawakan. Kenapa bukan RS yang sowan ke AR, secara RS jauh lebih muda? Ya, ‘kan RS turunan kanjeng nabi? Sementara AR turun Kasunanan Solo atau Mangkunegaran juga kagak. Wong dengan anak kecil bernama Jan Ethes Sri Narendra saja dia kalah. Jan Ethes anak penjual martabak itu ternyata cucu seorang Presiden.

Soal sowan ke RS, karena ada kesulitan teknis. Mana mau RS balik ke Indonesia, kan masih tersandera kasus wa bil khusus dengan Firza Husein itu? Kalau RS ksatria, tentu ia pulang mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kalau tak berani pulang? Ya, tanyalah Ahok, kenapa Cina minoritas itu lebih gagah-berani ngadepin kasus hukumnya.

Kalau banyak elite Indonesia, kayak elite PKS, PAN dan Gerindra sowan ke RS di Mekkah? Ini bukan soal mereka tak paham hukum. Urusan ke RS adalah silaturahmi. Bukankah baik antaroposan bersilaturahmi? Kenapa khusus oposan? Biar asyik saja, wong jadi oposan juga nggak harus pakek alasan. Cukup sedikit sakit hati, campur kecap dan frustrasi setengah mati. Kenapa situ nggak nanya bagaimana nasib Jeep Wrangler, Ferrari, dan mobil-mobil luxury RS di Petamburan? Siapa yang manasin mesinnya? Sudah dijual untuk kos di Mekkah?

JW menurut AR akan dilengserkan allah. Kalau gitu, napa harus Pilpres 2019? Boros kan? Apalagi jika duitnya cuma dipakai bikin kaos sablonan ‘ganti presiden’. Mending beliin kondom, karena gerakan poligami nasional lagi nyusun RAB proposal; “2019: Ganti Pustun!”

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Monday, June 4, 2018 - 21:30
Kategori Rubrik: