Gerakan Kaum Muda Merawat Tolerani

ilustrasi

Oleh : Vinanda Febriani

Dewasa ini indonesia dibuat khawatir dengan beberapa kasus intoleransi berupa tindakan persekusi, intimidasi, bahkan sampai diskriminasi kepada sesama warga negara Indonesia yang berbeda keyakinan dan lazimnya menimpa kaum minoritas. Padahal secara jelas tindakan diskriminasi dan intoleransi adalah perbuatan yang sangat menyimpang dan menyalahi tatanan baik beragama maupun beragama.

Hari ini, sebanyak -sekitar- tiga puluh kaum muda lintas agama dan kepercayaan dari Jabodetabek berkumpul di gedung PBNU dalam kegiatan workshop "Young and Tolerance" yang diselenggarakan oleh 164 Channel dan Indika Foundation. Beberapa agama yang ikutserta antara lain Islam (NU, Muhammadiyah, Syiah dan Ahmadiyah), Kristen, Hindu, Buddha, Katholik, Sikh dan Penghayat Kepercayaan. Rata-rata dari mereka tidak saling kenal satu sama lain, namun pada forum ini mereka saling berkenalan baik secara pribadi maupun memperkenalkan agama dan kepercayaan mereka kepada peserta lain. Hal ini dilakukan untuk meluruskan perspektif negatif terhadap suatu agama, sebagaimana pepatah mengatakan, "tak kenal maka tak sayang".

Ada beberapa poin yang saya tangkap selama kegiatan berlangsung, antara lain:

1. Kaum Muda menolak Hoax, terutama Hoax tentang Agama

Bicara tentang agama, sebuah lembaga survei luar negeri (saya lupa apa namanya) yang sebagaimana tadi dipaparkan Kak Dedik Priyanto dalam forum, menampilkan bahwa Indonesia berada di peringkat nomor 3 yang menganggap bahwa Agama adalah aspek paling penting dalam kehidupan. Hal ini bisa dibuktikan dengan keberagaman agama dan kepercayaan di Indonesia dan kemudahan masyarakat bertikai atas dasar perbedaan agama.

Beberapa tahun belakangan ini agama mulai dijadikan komoditas penghasil uang oleh beberapa oknum. Mereka sengaja membuat konten hoax yang dibumbui dengan narasi-narasi agamis. Hoax itu memberikan dampak negatif berupa perpecahan antar umat beragama, kesalah pahaman yang berdampak sangat buruk yang kemudian memunculkan tindakan diskriminatif, seperti yang terjadi pada Jemaat Ahmadiyah Indonesia, yang sebenarnya bukan baru-baru ini terjadi.

Hoax membuat kita saling salah paham dan curiga antara satu sama lain. Berdasarkan apa yang telah dipaparkan mbak Dewi S Sari dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) bersama rekannya dari Fact Checker Mafindo yakni mas Syarief Ramaputra, kurang lebih pesan yang tersirat adalah tentang betapa berbahayanya hoax untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Hoax telah banyak menelan korban, terutama pikiran jernih dan kritis masyarakat. Jika pikiran jernih dan daya kritis masyarakat sudah tiada, perpecahan akan sangat mudah menimpa bangsa Indonesia. Maka dengan tegas sebagai perwakilan kaum muda lintas agama kami katakan, kami menolak segala bentuk hoax yang merugikan, membodohi dan merusak tatanan keberagaman dalam bermasyarakat, beragama dan bernegara.

2. Kaum muda menolak hatespeech, intoleransi dan diskriminasi

Tragedi diskriminatif kepada Jemaat Ahmadiyah Indonesia, umat Katholik dan Kristen serta komunitas Syiah di Sampang membuat hati kita sebagai bangsa Indonesia yang pro kemanusiaan, keadilan dan perdamaian merasa terusik. Kejadian yang menimpa mereka ini sangat keterlaluan, terlebih untuk teman-teman Ahmadi. Betapa diskriminatifnya sebagian masyarakat kita bahkan pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah. Mereka (Jemaat Ahmadi) di beberapa daerah hingga kini masih mengalami tindakan diskriminasi berupa pencabutan beasiswa, pemecatan hubungan kerja (PHK), dipersulit dalam mengurusi pernikahan, intimidasi sosial dan masih banyak lagi. Hal ini seharusnya tidak terjadi di negara yang heterogen seperti Indonesia. Padahal secara gamblang, UUD 1945 telah menegaskan bahwa WNI memiliki hak kebebasan dalam memilih dan menganut agama dan kepercayaan, serta berhak mendapat jaminan perlindungan dari negara karenanya. Sehingga jelas, diskriminasi atas dasar perbedaan agama dan kepercayaan sangat menyimpang dan menyalahi aturan bermasyarakat dan bernegara. Ini semakin memberikan bukti bahwa sebagian masyarakat Indonesia masih belum siap menerima segala perbedaan yang hadir ditengahnya.

Sayangnya, diskriminasi ini terjadi turun menurun antargenerasi. Sehingga sulit "disembuhkan", meski tidak menutup kemungkinan tetap bisa sembuh jika kesadaran sosial masyarakat bangkit. Ujaran kebencian kepada etnis china yang bermula dari berita hoax dan berujung kepada tindakan diskriminatif tentu sangat membuat kita sebagai "orang waras" terusik. Sekali lagi bahwa Indonesia negara yang beragam, tidak boleh ada diskriminasi diantara mereka. Sehingga dengan ini kami sebagai kaum muda bersikap tegas menolak segala bentuk kejahatan diskriminatif kepada siapapun dan atas dasar apapun. Keberpihakan kami hanya pada kemanusiaan, keadilan, persatuan dan perdamaian. Jika ada yang menciderai nilai-nilai itu, secara tegas kami akan melawan!

3. Bahwa Toleransi tidak hanya kepada sesama manusia

Saya imbuhkan sendiri disini, bahwa toleransi tidak hanya kepada manusia saja, namun juga kepada seluruh jagad raya beserta isinya. Kepada hewan, tumbuhan, air, lingkungan dan segala yang ada di bumi ini. Dengan cara merawat, melindungi dan melestarikannya. Percuma saja jika kita kampanye toleransi dan anti diskriminasi kesana kemari, namun lingkungan sekitar kita biarkan kotor dan tercemar. Ini merupakan tindakan diskriminatif terhadap alam dan lingkungan. Saya ingin menegaskan bahwa yang hidup di bumi ini tidak hanua manusia, sehingga toleransi kita tidak hanya berlaku kepadanya saja, namun juga pada lingkungan, air, tumbuhan dan hewan. Mereka juga punya hak diperlakukan baik sebagaimana manusia.

Cintai Tuhanmu, Kasihi Makhluk-Nya, Lindungi alamnya.

demikian yang bisa saya coretkan disini, semoga bermanfaat 

Semoga ada tindak lanjut berupa aksi berjangka terkait kegiatan ini, supaya tidak seolah hanya menghabiskan anggaran dan ongkos jajan saja. Minimal ada bukti nyata atas apa yang kita peroleh pada kegiatan kali ini.

Sekian
Sehat, waras, panjang umur dan sukses selalu
Semoga Tuhan selalu memberkati kita dan Indonesia tercinta.

Salam
Sumber : Status Facebook Vinanda Febriani

Monday, December 2, 2019 - 08:30
Kategori Rubrik: