Gerakan Global yang Mendiskreditkan China

ilustrasi

Oleh : Andi Setiono Mangoenprasodjo

Hari begini menuliskan kata China saja sudah jadi salah. Katanya yang betul dan sesuai dengan azas kenegaraan itu Tiongkok. China itu bernada rasis, jika analoginya negro! Bangsa ini memang hobi-nya "golek perkara". Apa sih yang tidak diperkarakan? Apalagi kalau dari perkara itu ada bayarannya. Gak harus jadi lawyer, jadi lembaga sejenis MIU-MIU itu pun bisa jadi kuaya raya. Bahkan salah satu pemukanya bisa sampai ke jabatan wakil-presideng. Bukti bangsa ini emang ambyar sejak dari pikiran...

Dan bila hari2 ini pada mengecam dan menolak kiriman 500 pekerja migran dari China ke Morowali, saya kok tidak berhenti tertawa. Membaca perseteruan dari yang pro dan kontra. Yang anti, merasa sok nasionalis dan populis, membela ini itu. Sedangkan yang pro berlagak kelompok globalis dan rasional, ramah investasi bla bla bla. Bagi saya kekurangan keduanya sama saja: kurang baca, tidak banyak belajar dan mengkaji! Realitasnya bahwa nyaris di seluruh dunia saat ini bersikap kritis terhadap China, karena tidak ada satu pun yang tidak terdampak dengan sifat agresif dan eksploitatif mereka. Bahkan sebelum ada pandemic (atau plandemic ya?) ini pun sudah, apalagi setelahnya. Sikap terbelah antara benci dan rindu. Sayang dan ingin mengemplang....

Jadi gak usah merasa hebat, kalau hanya bersikap nyinyir terhadap China. Tetaplah kita hanya sedang secara kolektif menunda kekalahan. Pengen bukti?

Singapura, negara paling makmur di Asia Tenggara membuat dan membiayai sebuah kampanye di youtube dengan hastag New Silk Road. Dengan menyewa Anthony Morse, seorang reporter ganteng dan cerdas. Ia keliling nyaris tidak hanya ke seluruh negara di Asia Tenggara, tetapi juga Asia Tengah dan Asia Selatan. Dengan alur berpikir yang sama, bahwa hanya China-lah yang bisa memberi sentuhan pada sesuatu yang tidak mau dilakukan negara lain di negara tersebut. Nyaris tak ada negara investor lain, yang mau berbuat seradikal China. Walau harus diakui tak satu pun penduduk lokal jadi happy dengan semua itu. Semua mengeluh, semua nyinyir....

Sebagai contoh: misalnya di Srilangka dibangun pelabuhan laut dan bandara, yang bahkan tidak setiap hari ada kapal atau pesawat yang mendarat di tempat itu. Semua hanya tampak gagah, tapi semua kosong dan tak berguna. Hotel, mall, pabrik, bahkan rumah sakit... Persoalannya selalu sama bagaimana skema pembiayaannya? Apa yang disebut berpotensi sebagai debt-trap. Walau tentu bagi banyak pejabat di negara yang rata2 korup itu, tidak masalah. Yang penting ada sesuatu yang baru dihadirkan. Bukankah proyek sejenis di Indonesia juga tak kalah banyaknya...

Negara seperti Singapura memang patut khawatir dengan gerakan yang dilakukan China, dengan Program One Belt One Road (OBOR). Posisi strategis Singapura tidak lagi sepenting sebelumnya. China memang secara pelan, memangkas habis hegemoni Pax Americana di wilayah tersebut. Tapi cobalah sekali lagi lihat, ekspansi yang dilakukan China yang saat ini yang diluar sudah menguasai 70% pasar di Afrika. Telah menyentuh Eropa tepat di jantungnya.

Senada dengan Singapura, pemerintah Jerman juga membuat kampanye sejenis yang ndilalah punya judul yang sama: The New Silk Road, yang terdiri dari dua seri. Part 1 From China to Pakistan dan Part 2 From Kyrgyzstan to Duisburg. Bagaimana China membangun jalur darat tembus ko kota yang bernama Gwadar, setelah sebelumnya menembus Islamabad. Yang membuat jalan ke Afrika atau Asia Barat jauh lebih pendek. Sementara jalur kereta api, lebigh sangar lagi bisa mempersatukan Asia, Rusia dan Eropa dengan ujung pelabuhan besar yang sebelumnya mati bernama Duisburg di Jerman. Haloooo saudara2, ... China sudah punya pusat pelabuhan privat (plus gudangnya) di jantung-nya Eropa....

Lalu tiba2 di tengah Perang Virus itu, kita teriak2 anti-China? Kasep mas, telat bang. Dunia sudah terlanjur tidak bergerak tanpa mereka. Bahkan untuk sekedar memperlambatnya, kita butuh sebuah perang maya seperti hari2 ini yang kita seluruh dunia harus ikut rasakan. Tanpa teori konspirasi-pun, dunia paham bahwa AS butuh perang-- terbuka kalau perlu --- hanya untuk sekedar posisi hegemoni nya tidak tergerus. Dan kita harus ikut menanggung dampak yang tidak sederhana lagi. Dengan berbagai cara, tentu melalui kaki tangan dan medianya...

Inilah salah satu new-normal. Situasi keseimbangan baru, yang harus kita hadapi ke depan. Menyalahkan Jokowi, hanya menunjukkan betapa tidak punya wacana. Tidak saja bahan bacaan, tertuama tapi tanpa pemahaman sama sekali dirimu! Satu hal saja yang perlu kalian pahami: sebetapa pun bodoh Jokowi, ia sedang menunggangi mereka. Sebetapa pun tidak mudah menentukan siapa Kuda Troya-nya.

Ia sedang menggunakan prinsip Jawa: ngeli, ning ra melu keli. Sebetapa pun beratnya itu....

Sumber : Status facebook Andi Setiono Mangoenprasodjo

Tuesday, May 19, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: