Gerak Cepat Negara Tangani Bencana Palu Donggala

Oleh : Haryoko R Wirjosetomo

Sebuah bencana berskala besar seperti banjir, gempa bumi atau tsunami, akan menimbulkan dampak berantai yang menyengsarakan manusia. Diawali dari rusaknya infrastruktur kritikal yakni sistem kelistrikan, telekomunikasi dan transportasi; teori domino pun mendadak menjadi nyata.

Layanan lokal untuk kegawat daruratan, medis dan logistik langsung terpukul pada tingkat yang sangat serius. Masyarakat setempat termasuk aparat negaranya, dicekam oleh kepanikan. Karena itulah dibutuhkan bantuan dari luar untuk mencari korban jiwa dan luka, merawatnya dan menjaga para penyintas agar bisa bertahan hingga tahap pemulihan tiba.

Pada titik inilah kita perlu memahami, bahwa operasi penanganan bencana sebesar itu - di negara mana pun di muka bumi ini - pasti bertumpu kepada kekuatan negara. Hanya negara yang memiliki semua sumberdaya yang dibutuhkan untuk melakukan operasi penyelamatan berskala besar; baik personil, peralatan maupun logistik.

Masalahnya, untuk memobilisasi orang, alat dan logistik dalam jumlah besar memerlukan waktu. Rapid assessment hingga pengambilan keputusan tindakan respon berikut penyusunan detail operasionalnya, memerlukan waktu sehari. Konsinyering dan pergerakan pasukan penyelamat ke bandara dan pelabuhan perlu waktu setengah hari. Embarkasi personil, peralatan dan logistik ke atas kapal angkut militer misalnya, memerlukan waktu paling cepat setengah hari. Jadi, paling cepat di hari ke tiga, kekuatan emergency response yang besar - pasukan penyelamat segelar sepapan lengkap dengan peralatan dan logistik operasi - baru bisa bergerak ke lokasi.

Artinya? Jelas bukan? Hingga hari ke tiga, masyarakat yang tertimpa bencana harus mampu bertahan dengan kekuatan sendiri. Ini berlaku umum secara internasional, bukan hanya di Indonesia. Lantaran Indonesia adalah negara "supermarket bencana," masyarakat harus dididik untuk mempersiapkan diri. Stockpile logistik keluarga harus disiapkan untuk kebutuhan setidaknya satu minggu, surat2 penting disimpan di tempat yang aman. Dan juga obat2an umum serta P3K. Dengan demikian, masyarakat akan memiliki kekuatan untuk bertahan hingga pasukan bantuan tiba.

Hal yang jauh lebih penting lagi adalah keikhlasan hati, jika Anda berangkat ke lokasi bencana sebagai relawan. Karena team Anda kecil, bolehjadi dalam hitungan jam Anda akan sampai di lokasi. Kami akan sangat menaruh hormat yang dalam jika Anda segera menyingsingkan lengan baju dan bekerja melakukan penyelamatan. Bukannya malah menepuk dada di depan publik melalui medsos sembari sesumbar "kami yang datang paling pertama," diiringi sinisme terhadap "kelambatan" respon negara.

Jika itu yang Anda lakukan, artinya Anda tidak memiliki pemahaman tentang fungsi dan peran first responder di area bencana. Lebih parah lagi jika kehadiran Anda ke sana dilambari motif politik sehingga mewujud dalam sebuah aksi politik.

Dan jika itu yang terjadi, saya hanya bisa kasihan kepada Anda.

Cinere, 29 September 2018

Sila share kawan-kawan.

#Pray_for_Palu_Donggala
#Sejuta_doa_untuk_first_responder_negara
#Sejuta_doa_untuk_para_relawan_bencana
#Ayo_galang_solidaritas_nyata

Haryoko R. Wirjosoetomo

 
Sumber : facebook Sunarko
Monday, October 1, 2018 - 14:45
Kategori Rubrik: