Genosida 1965

ilustrasi

Oleh : Tito Gatsu

Untuk Generasi muda sekarang mungkin tidak mengalami peristiwa kelam Gerakan 30 september 1965.
Seperti juga saya pribadi, karena pada saat itu usia saya masih kurang dari 2 tahun, tetapi bersyukur saya punya orang tua tentara yang kebetulan terlibat sebagai pelaku sejarah yg baik secara kedinasan maupun politik saat itu mendukung Soeharto sehingga setelah kejadian tersebut tidak menimbulkan hal yang berarti bagi keluarga kami.

Dulu saya sempat bangga jadi anak TNI Pro Orde Baru terlebih kami cukup dihormati dilingkungan tempat tinggal kami karena saya tinggal dilingkungan tentara yang cukup aman (karena ayah saya termasuk cukup dekat dengan petinggi Orde Baru) seringkali saya merasa derajat Saya lebih Tinggi dibanding teman-teman atau keluarga yang bukan dari kalangan TNI Pro Orba apalagi yang terlibat PKI.

Sebagai kanak-kanak yang hidup dilingkungan keluarga militer ditahun 70an saya melihat secara langsung beberapa teman saya yang kehilangan orang tuanya secara tiba-tiba atau dipecat dari kedinasan sehingga ekonominya memburuk, menurut orang sih mereka terlibat partai terlarang pada saat itu, yaitu PKI bahkan sayapun diwanti-wanti untuk tidak bergaul dengan mereka karena mereka sudah dianggap cacat baik secara moral, ideologi ataupun religius, ironisnya ada beberapa diantaranya adalah bekas atasan atau teman seperjuangan atau bawahan ayah saya, saat itu ayah saya seorang tentara yang mendapatkan bintang gerilya sebagai pahlawan kemerdekaan.

Beberapa teman ayah saya yang terkena label PKI dicopot seluruh bintang jasa dan penghargaannya sebagai pahlawan kemerdekaan.
Bahkan PKI diisyukan atau dilabeli partai anti Tuhan dan anti agama , hmm miris sekali orang yang pernah terlibat maupun tidak sengaja terlibat, sudah dianggap anti negara anti Tuhan dan agama pula.
Karena saya banyak bersahabat dengan mereka akhirnya saya penasaran dan banyak mencari tau apa peristiwa yang terjadi sebenarnya.

Bahkan Saya sempat bertanya kepada salah seorang anak buah ayah saya , dia bercerita begitu bangganya membantai orang yang dituduh PKI bahkan mengkoordinir preman dan eks milisi DI / TII menjemput para Aktivis PKI hingga perempuan- perempuan Gerwani dia bercerita memenggal Kepala hingga memperkosa tanpa rasa bersalah karena menganggap Itu tugas negara (walaupun saat Itu saya tidak mengerti tapi setelah mulai beranjak remaja mulai faham dan bisa merasakan betapa mengerikannya peristiwa saat itu.

Kakak saya tertua bercerita kepada saya (ketika itu dia sudah cukup dewasa) karena dulu ayah saya sempat bertugas di Garut yang dulu merupakan pusat Pemberontakan DI/TII untuk menumpas DI /TII , ada banyak personil yang menjadi deserter dan milisi Tentara Islam yang ditahan dulu terkenal sangat kejam bagi yang berlainan pemahaman jika sekarang dianggap radikalis mendapatkan pembebasan pada masa tahun 1965 sampai dengan 1970 dan ditugaskan menumpas orang -orang yang terlibat PKI dan disitulah terjadi pembantaian besar-besaran terutama di basis - basis yang memiliki suara terbesar PKI hasil Pemilu tahun 1955 dimana PKI menduduki urutan ke 4. disinilah dimulai politisasi agama dengan pembantaian besar-besaran yang terkenal diseluruh dunia.karena dianggap memusnahkan orang Kafir (PKI).

Secara diam-diam sayapun mulai mempelajari dan berusaha untuk mencari tau peristiwa yang sebenarnya.
Setelah mempelajari dari berbagai sumber sayapun mempunyai kesimpulan bahwa setelah peristiwa G. 30 S PKI adalah merupakan peristiwa Kekejaman rezim Orde Baru dalam rangka meneguhkan kekuasaannya dengan membersihkan semua saingan politik dan saksi hidup terhadap Pengambil alihan kekuasaan dari rezim Soekarno, kenapa saat itu begitu mudah? karena mereka benar-benar menguasai militer dan membersihkan siapapun yang dekat dengan Soekarno bahkan seluruh jaringannya sampai ke akar-akarnya. Baik dengan stigma pengkhianatan PKI maupun politisasi agama (Persis seperti sekarang ini walaupun dalam skala kecil dari orang-orang yang membenci pemerintah).

Pada saat itu ada 3 Golongan Yang disebut terlibat G 30S PKI, Golongan A : biasanya tokoh dan para pejabat yang dianggap sangat dekat dengan Bung Karno mendapat Hukuman Mati. Golongan B : Para Cendekiawan, orang-orang yang mendapatkan beasiswa dinegara blok timur maupun barat, Budayawan dan tokoh militer berpangkat perwira menengah yang kebetulan atasannya dekat dengan Bung Karno dibuang ke Pulau Buru. Golongan C : adalah Rakyat biasa yang kebetulan pernah terlibat organisasi atau kegiatan yang diselenggarakan oleh PKI, dan prajurit-prajurit dengan pangkat yang rendah dipecat dari kedinasan dan mendapatkan label PKI. Dan KTP nya diberi tanda ET. ( Ex Tapol), sehingga sangat sulit mencari pekerjaan dan bersosilisasi karena dianggap hantu yang menakutkan.

Begitu masive dan terstrukturnya isyu itu dilemparkan sehingga PKI betul-betul dianggap momok yang menakutkan!.
Bahkan tidak jarang fitnah dilayangkan untuk melabelisasi seseorang, akibatnya setiap orang yang sudah mendapatkan label tersebut akan menghadapi bencana yg kapan saja nyawanya bisa melayang, keluarganya mendapatkan sangsi sosial dari masyarakat dan tidak akan bisa menikmati sedikitpun fasilitas pemerintah baik itu menjadi pegawai Negri atau masuk perguruan tinggi negri karena semua melalui penyaringan yang ketat!.
Oleh karenanya labelisasi PKI menjadi momok yang sangat menakutkan!.

Pada saat itu diskriminasi SARA sangat luar biasa korban utamanyapun etnis Tionghoa karena sebelum G30 S PKI Bung Karno menjalin kerja sama yang cukup erat dengan RRC (Republik Rakyat Cina) dan ini yang tidak disukai Amerika Serikat dan CIA selaku sponsor Soeharto dalam meraih kekuasaan, padahal apa hubungannya dengan etnis Tionghoa yang sudah berpuluh tahun bahkan ratusan tahun ada di Indonesia?.

Setelah era reformasi Pemerintahan Presiden B.J.Habibie labelisasi tersebut berusaha dihilangkan dan fakta sejarah yang sebenarnyapun mulai terkuak film G 30 S tidak diwajibkan lagi diputar di TV nasional, bahkan pada jaman Presiden Gusdur beliau merehabilitasi nama baik para tokoh yang dinyatakan terlibat peristiwa G30S PKI, karena menganggap Faham komunis Fasis sudah tidak akan bangkit lagi di dunia ini. Terbukti dengan Bubarnya negara-negara komunis Fasis dibawah Uni Sovet dan Cina yang berubah haluan dengan meninggalkan faham komunis Fasisnya.

Ketika Pilpres 2014 dilakukan dimana kita lihat kelompok Orde Baru berusaha kembali meraih kekuasaan, isyu labelisasi komunis kembali menggeliat dengan masive dan terstruktur.
Pelabelan PKI, Stigmatisasi Paling Kejam
Bahkan PKI itu dianggap seperti partai iblis, tidak berTuhan sehingga orang yang dilabeli PKI tak lebih seperti manusia yang tak layak hidup , sudah musuh negara musuh manusia pula dan darah mereka dianggap halal.
Oleh karenanya orang beranggapan stigma PKI ADALAH tiket yang diberikan Orde Baru untuk menghuni neraka dunia.

Ada banyak pelabelan di negeri ini. Tapi, label PKI paling kejam.

Dari sekian banyak stigmatisasi di Indonesia, pelabelan PKI merupakan pelabelan paling kejam. Hal ini memiliki efek negatif yang jauh kedalam korban yang dibandingkan stigma-stigma lain seperti “Cina atau orang cacat’, label PKI lebih dahsyat. “Kalau sudah dilabeli PKI, maka bisa dikucilkan, dijauhi, dilecehkan. Padahal kalau sudah dilabeli stigma, tidak ada urusannya sama ideologi,”
“Stigma dicap anak PKI pada saat itu lebih nista daripada anak haram jadah,” kata Witaryono Reksoprodjo, anak Setiadi Reksoprodjo, mantan menteri listrik dan ketenagaan yang ditahan oleh Jenderal Soeharto. 15 menteri yang ditahan juga dilabeli “tidak beretika dan tidak beritikad baik.”
“Pelabelan tidak beretika dan tidak beritikad baik bagian dari narasi yang dibangun pada waktu itu untuk menjatuhkan pemerintahan Sukarno,” kata Witaryono.

Pelabelan itu, lanjut Witaryono, tidak hanya kepada bidang profesionalnya tetapi kepada pribadi-pribadinya. Misalnya, menteri Imam Syafii di-bully dengan lelucon disebut menteri copet. Padahal, sejatinya Imam Syafii adalah pahlawan yang mempertahankan Jakarta ketika ibukota dipindahkan ke Yogyakarta dengan mengerahkan copet dan pelacur.
Pelabelan PKI sangat berdampak jahat, maka pada waktu pemilihan presiden, Jokowi pun disebut anak PKI. Namun, Jokowi selamat. Akan tetapi, tidak dengan orang-orang yang dicap PKI pada masa lalu.

“Pada pemilu lalu Jokowi difitnah sebagai anak PKI. Ada yang memainkan isu itu. Pasti ada alasan kenapa memainkan label PKI itu. Efeknya ingin menjatuhkan Jokowi,”
“Ketika orang diketahui dekat dengan PKI nilai orang itu turun. Tapi ketika dia ditambahkan info soal kedekatannya dengan PKI langsung drop, dari penilaian positif jadi negatif,”
studi membuktikan, label PKI memang memberikan efek luar biasa pada siapa pun. Bahkan anak kecil yang tidak paham sama sekali soal ideologi komunis.

Menurut saya pribadi orang yang melempar isyu mengenai Stigma PKI adalah layak dianggap penjahat yang luar biasa karena melempar fitnah yang sangat kejam, sudah selayaknya aparat kepolisian menindak mereka karena masih banyak orang, terutama kaum yang kecewa dengan pemerintah sekarang yang memainkan isyu tersebut tanpa mempertimbangkan efek perpecahan dan masa depan seorang anak bangsa.

Dan saya bisa katakan kali ini PKI adalah sebatas Partai Politik yang gagal menggulingkan pemerintah tapi bisa dimainkan secara maksimal oleh orde baru didalam meraih kekuasaan serta menyingkirkan semua lawan politiknya.

Sumber : Status Facebook Tito Gatsu

 

Thursday, September 10, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: