Generasi Yang Terlalu Banyak di Hajar

 

Oleh : Hilman Fajrian

Saya seorang ayah yang pernah memukul anak, dan itu bukan hal yang saya banggakan dan saya menyesal. Meski pemukulan itu karena ia nakal, namun saya akui banyak faktor lain yang mendorong pemukulan itu: kelelahan fisik dan mental, beban pikiran, kemarahan, hilangnya kesabaran serta pengendalian diri, dan kurangnya pengetahuan cara mendidik anak yang baik. Jadi, saya akui juga, pemukulan itu tak semata-mata terjadi karena alasan mendidik atau membina. Tapi juga faktor kelemahan saya sebagai seorang manusia. Serta kebodohan.

Bagaimana bila orang lain yang kelelahan fisik dan mental, beban pikiran, kemarahan, hilangnya kesabaran serta pengendalian diri, dan kurang pengetahuan cara mendidik anak yang baik, memukul anak kita?
Pasti kita tidak terima. Meski ia guru anak kita.

Tapi apakah si guru akan mengakui faktor-faktor di atas? Pasti tidak. Alasannya pasti untuk membina dan mendidik. Faktor di luar itu akan sangat sulit diakui secara sukarela.
Saya berkali-kali dipukul guru. Waktu SD tangan dan betis saya langganan dihajar mistar kayu karena nilai IPS saya selalu jelek. Sampai sekarang saya menganggap si guru IPS itu memang tidak punya kemampuan mendidik dan mengajar yang baik. Sukanya cari gampang: mengajar sambil mengancam, bila nilai siswa jelek langsung dihajar mistar kayu. Saya tak pernah merasa apapun yang saya punya sekarang adalah berkat pendidikan ala guru itu.

Kalau anak saya mengalami apa yang dulu saya alami, demi Tuhan akan saya kirim gurunya ke penjara. Kalau guru yang memukul anak saya laki-laki, pasti saya ajak duel dulu. Saya menyekolahkan anak bukan untuk dipukuli gurunya. Kalau guru atau sekolah tak sanggup lagi mendidik anak saya, keluarkan saja. Tidak ada sekolah yang cocok untuk semua anak, dan tak semua anak cocok untuk semua sekolah.

Waktu SMA saya pernah dua kali ditampar guru yang sama karena dua kali juga berkelahi. Nyatanya, bagi remaja nakal seperti saya dulu, dipukul guru itu seperti bukan hukuman yang membuat kapok, tapi mirip achievement atau pencapaian. Yang bikin kapok justru hukuman waktu saya tertangkap basah bermain taruhan dalam kelas (saat jam pelajaran dan saya ketua kelasnya) : mengepel kelas selama 3 bulan. Kapok bukan main. Lebih baik ditampar 10x dibanding jadi babu kelas 3 bulan. Dan jadi babu sama sekali bukan achievement!

Makin lama masyarakat kita makin sadar bahwa kita mesti menjauhkan kekerasan fisik dan psikologis dalam mendidik dan berhubungan sosial. Zaman dulu mungkin dianggap wajar bila orang tua menggebuki anaknya sampai babak belur. Sekarang, orang tua seperti itu bisa dengan mudah masuk penjara karena pidana kekerasan dalam rumah tangga. Begitu juga dengan suami yang memukul istri.
Kita makin lama makin sadar bahwa kekerasan tidak selalu terpaut dengan mendidik. Bahkan kekerasan hanyalah kekerasan itu sendiri: kebengisan, kebencian, frustasi, ketidakmengertian, atau bahkan sakit jiwa. Kekerasan yang dilakukan pendidik dan orang tua hanya akan meligitimasi, menularkan dan menurunkan kekerasan.

Mungkin itu sebabnya tidak sedikit dari kita yang menganggap kekerasan itu harus demi menghadirkan keberhasilan, kedisiplinan atau kesuksesan -- karena kita sudah terlalu sering dihajar di masa lalu. Dan sampai sekarang kita tak juga jadi orang sukses karena dulu sering dihajar.
Sebelum kita menjelek-jelekkan generasi sekarang, lihatlah generasi mana yang membesarkannya -- generasi yang mungkin terlalu banyak dihajar di rumah dan di sekolah.** (ak)

Sumber : Facebook Hilman Fajrian

Wednesday, June 15, 2016 - 07:00
Kategori Rubrik: