Generasi yang Hilang

ilustrasi

Oleh : Supriyanto Martosuwito

Perhatian wajah-wajah yang susah dilihat ini. Mereka orang orang kita. Ras Melayu mungkin dari suku Jawa, Sunda, Betawi dan lainnya. Atau campuran. Tapi mereka sudah kehilangan jadi diri. Rasa rasanya sudah bukan Indonesia lagi. Hilang rasa dan jiwa Betawinya, Sundanya, Jawanya dan rasa suku bangsa kita lainnya. Sudah sah menjadi kadal gurun!

Dengan penampilan seperti mereka, kita kehilangan generasi muda potensial yang seharusnya giat mempelajari ekonomi, bisnis dan hukum internasional atau ilmu komunikasi untuk menggantikan Menkeu DR. Sri Mulyani, Menteri kelautan Susi Pudjiastuti, dan Menlu Retno Marsudi. Atau 'anchor' kritis dan cantik Najwa Shihab. Juga penerus Erick Thohir dan Ridwan Kamil - bagi para laki lakinya.

Semua "tidak" untuk mereka. Karena mereka sudah kerasukan agama. Dalam balutan paham dan budaya gurun Sahara.

Berikan mereka kebaya burkat, kain batik, pentalon, selendang mayang, baju bodo, dan sarung batik. Mereka akan menolaknya. Bukan milik mereka lagi!

Mereka kini mengepung kita. Warisan budaya kita yang warna warni menjadi asing di tengah mereka. Hidup mereka sudah hitam putih

Sajikan gamelan, lenong dan ketoprak, mereka akan gerah. Kepanasan! Tak bisa menghayatinya. Bahkan sekadar menikmatinya.

Apakah bisa mengajarkan main gamelan, tari japong, gambyong, ngremo, pendet dan tari piring pada mereka? Rasanya mustahil. Mereka sudah tercekoki paham puritan yang bagi mereka "keren" : "hidup mulia dan mati syahid!"

Mereka adalah korban gerakan puritanisme agama, yaitu gerakan yang mengatas-namakan "pemurnian ajaran" (purifikasi) yang telah menancap dalam dalam di otak mereka.

Mereka kini jadi kaki tangan asing untuk menegakan gaya hidup syar'i .

Boleh jadi mereka juga ikut membantu memperjuangkan Khilafah Islamiyah yang sedang gencar dikampanyekan kini. Ikut merebut wilayah dengan tujuan menegakkan sistem pemerintahan kekhalifahan yang menjadikan hukum Islam sebagai undang-undangnya.

Tapi apa pun yang terjadi mereka sudah beda dengan kita. Mereka tidak sama.

Sebagian dari mereka terkurung burqa. Hanya matanya saja. Mereka bisa melihat kita - tapi kita tidak bisa melihat mereka. Di mana budaya Indonesianya?

Betapa dasyatnya indoktrinasi! Cuci otak. Pendangkalan agama. Budaya gurun. Alam pikiran anak anak kita dibuat mundur 1000 tahun ikut mengais peradaban rongsokan!!

Ketika anak anak China giat belajar coding dan algoritma, menciptakan dunia baru dengan beragam aplikasi dan penemuan barunya - meneruskan sukses Jack Ma - anak anak kita dicuri ulama abal abal, dikembalikan ke zaman Jahiliyah. Zaman Pra Islam.

Dan targetnya sama: meninggalkan tradisi leluhur dan budaya Nusantara Indonesia dan jiwa keIndonesiaan.

PERSOALANNYA adalah mereka anak anak kita! Keponakan kita, kerabat dan tetangga kita. Warga negara kita. Mereka adalah generasi penerus Indonesia.

Dan kini mereka jadi kadrun! Kadal gurun!

Mereka satu perahu dengan kelompok jihadis yang memiliki motif mendirikan negara agama dan cenderung melakukan tindakan segala cara.

Kelompok ini melakukan aksi Jihadnya dengan memaksakan pandangan keagamaan yang tunggal yang mereka yakini.

Tidak jarang atas dasar keyakinan ini mereka melakukan teror dan pembunuhan terhadap kelompok yang berbeda pandangan dengan mereka.

SERANGAN PARA PENGASONG gaya hidup Syar'i dan Arab di negeri Nusantara - kini datang dari berbagai level. Mulai seleb papan atas, artis sinetron - mantan rocker hingga pesantren di pedalaman.

Dijanjikan istilah keren keren yang intinya sama saja : "krukuban"! Pemenjaraan diri. Dan spiritualitas semu.

Ada anekdot tentang virus Covid 19 dan perintah diam di rumah. Para perempuan Arab merasa heran dengan "lockdown".

"Apa itu lockdown?! Terkurung di rumah tak bisa kemana mana? Kami perempuan Arab seumur hidup menjalani lockdown!! "

Mendirikan Khilafah Islamiyah bagi kelompok yang pakaiannya seperti ini diyakini sebagai perintah agama yang bagi siapa pun orang atau kelompok yang menentangnya dianggap menentang agama dan di anggap kafir.

Keyakinan semacam ini mendorong mereka memposisikan umat Islam yang tidak sepaham dengan mereka sebagai musuh - sehingga sasaran aksi mereka adalah siapa pun yang menghalangi cita-cita mereka mendirikan khilafah Islamiyah.

Itu yang membuat mereka mudah dibawa ke jalan untuk demo anti islam - anti kafir - anti penistaan agama dan semacam itu.

Untuk itu, kepada mereka secara berkala diciptakan 'musuh' baru : kebangkitan PKI, serbuan tenaga asing, RUU HIP, RUU Kekerasan dalam keluarga, dll.

Dan ada paket di dalamnya. Apa pun tema demo ke jalan, mereka akan berteriak, "Turunkan presiden". "Ganti pemerintahan" , "ganti sistem". "Khilafah solusinya!"

Bagi saya, mereka adalah kumpulan zombie budaya asing. Orang orang yang kehilangan kesadaran dan jati dirinya - tercerabut dari akar budayanya.

Tinggal onggokan jasad yang dikuasai dan disetir pihak lain. Boneka Arab yang bernyawa. ***

Sumber : Status facebook Supriyanto Martosuwito

Saturday, July 4, 2020 - 15:00
Kategori Rubrik: