Generasi Tua Yang Terpapar Hoax

Ilustrasi

Oleh : Uda Yudi Sutan Ma'rof

Ngobrol dengan beberapa orang "tua", jadi paham mengapa mereka mudah terpapar hoax.

Mereka memakai gadget tanpa paham karakteristik produksi konten di dunia online. Mereka mengira konten di media online itu sama dengan konten di Media Massa di zaman Harmoko dulu. Pasti sudah tersaring dan terverifikasi.

Ketika diingatkan bahwa berita yang ia baca itu hoax, maka muncul bantahan, "Kalau hoax, masa ada di internet? kalau hoax pasti dia sudah ditangkap atau dibredel." Mereka mengira Youtube, Blog, dan layanan serupa itu setara dengan TVRI atau RCTI di zaman dahulu tanpa tahu dan menyadari bahwa web tersebut hanyalah platform yang dapat diisi oleh siapa saja tanpa perlu kompetensi jurnalistik yang mendakik-dakik ala media massa.

Padahal hanya dalam beberapa menit, sedikit data dibumbui sedikit khayalan lalu dibingkai dengan kesumat dapat diolah menjadi sebuah konten dapat ditampilkan melalui blog2 atau video-video anonim.

Memang sih counter dari Hoax itu ada, tapi panah hoax melesat lebih cepat daripada counternya. Bahkan -karena preferensi ideologi dan faktor pribadi lainnya- counter hoax malah tidak dibaca.

Algoritma socmed juga memperkuat keterpaparan pada hoax itu karena socmed era 4.0 memastikan customisasi. Maksudnya, setiap kita disuguhkan konten unik sesuai "selera" kita. Bukalah youtube dari gadget yang berbeda, maka akan muncul konten yang berbeda pula. Itu sekedar contoh.

Artinya bila kita penggemar hoax, maka algoritma socmed akan selalu menampilkan konten-konten hoax dan nasib kita akan terus terbenam dalam lumpur hoax itu makin dalam dan makin dalam hingga tak tertolong.

Sumber : Status Facebook Uda Yudi Sutan Marof

Tuesday, February 27, 2018 - 22:15
Kategori Rubrik: