Generasi Gojek

Oleh : Budi Setiawan

“ Pak, kok masih setia jadi supir taksi? Gak pindah ke taksi online,” tanya saya tempo hari kepada pengemudi taksi.

Dia menjawab, “ Sekarang mobil taksi online banyak yang ditarik pak. Gak kuat bayar angsuran karena banyak taksi online yang nyicil mobil. Tapi cicilannya gak kuat bayar kecuali kalau dia tidur di jalan pulang seminggu kemudian. Ini banyak bekas sopir taksi yang tadinya keluar sekarang balik lagi ke perusahaan “

Saya terdiam karena berkebalikan dengan pengakuan sejumlah taksi online yang mengaku bahagia mendapatkan uang hampir 10 juta sebulan. Dia menjelaskan trik mendapatkan uang . Mulai dari subuh jam 3 pagi yang pasti ada pelanggan yang minta di antar ke Bandara. Sampai dengan mematikan aplikasi ketika pelanggan minta diantar dalam jarak jauh luar kota.

Disatu waktu juga , saya mendapatkan keterangan dari leasing mobil yang dahinya mengkerut karena banyaknya mobil tarikan dari pengemudi taksi online yang terkapar karena tidak mampu bayar angsuran. Kerugian terbayang sampai milyaran karena puluhan mobil yang ditarik itu sampai memenuhi lapangan yang disediakan.

Jadi, keputusan pemerintah menghentikan pendaftaran taksi online untuk sementara adalah langkah yang tepat.

Menteri Perhubungan mengatakan untuk Jabodetabek saja, hanya untuk satu perusahaan online, jumlah taksi online sudah mencapai 175 ribu kendaraan. Jumlah itu jauh diatas kewajaran karena untuk 15 wilayah idealnya, taksi online hanya berjumlah sekitar 92,000 saja.

Kelebihan kuota inilah yang menjadi jawaban mengapa kisah taksi online tidak seindah raut muka bahagia ( atau pura-pura bahagia) pengemudinya. Faktanya, mereka berjuang keras untuk mendapatkan sesuap nasi dari persaingan yang makin lama makin ketat. Jika pertumbuhannya tidak dihentikan, pertikaian antar pengemudi taksi online bisa tidak terelakkan.

Disatu sisi, alasan penghentian sementara dari pemerintah mesti menjadi perhatian Gojek, Grab dan Uber. Mereka harus menjaga agar persaingan antar sesama pengemudi mereka tidak semakin sengit mencari rejeki. Itu sebabnya , sudah waktunya juga dibatasi ojek motor online yang semakin hari semakin membanjiri wajah ibukota setidaknya.

Namun langkah ini harus inisiatif pengelola ojek online. Bukan dari pemerintah lagi yang terpaksa harus bersih-bersih karena operator transportasi online itu nampaknya lalai mengantisipasi jomplangnya rasio yang bisa memicu kerawanan sosial.

Tanpa pembatasan atau penghentian jumlah ojek motor online, persaingan sengit antar mereka besar kemungkinan akan terjadi.

Gojek, Grab dan Uber harus mewaspadai munculnya paguyuban dan persatuan ojek online berdasarkan wilayah. Klaim teritori ini mungkin tidak terasa sekarang karena masih banyak pelanggan yang diangkut. Namun jika jumlah mereka makin banyak , maka besar kemungkinan yang terjadi adalah ojek pangkalan gaya baru. Yang menguasai teritori dan bertindak ala preman jika ada yang mencoba memasuki “wilayah jajahan” mereka.

Dan ketika bentrokan sesama ojek online itu terjadi kita akan sadar bahwa pembangunan selama ini baru berhasil memunculkan generasi gojek karena minimnya lapangan pekerjaan yang tersedia.

Menyongsong 2019, isu ini bisa jadi batu sandungan bagi Pak Jokowi untuk menjadi Presiden lagi.

Sumber : facebook Budi Setiawan

 

 

Wednesday, March 14, 2018 - 12:30
Kategori Rubrik: