Generalisasi Keliru Tentang Ojol

Ilustrasi

Oleh : Muhammad Jawy

Saya sangat sering ngobrol dengan driver online, mungkin lebih dari separuh kali naik ojol, selalu saya ajak ngobrol. Karenanya saya yakin kekeliruan atas generalisasi sebagian Netijen yang menganggapnya profesi "keterpaksaan".

Yang melakoni sebuah profesi seperti ojeg karena terpaksa ya wajar saja kalau ada, lha yang jadi PNS karena terpaksa, entah karena desakan orangtua, atau sebab lain, juga tidak sedikit. Tapi melakukan generalisasi seolah profesi ojeg adalah pekerjaan rendahan, karena terpaksa, ini sungguh keliru.

Saya pernah dapat rider perempuan. Kikuk juga rasanya, sampai saya menawarkan yang pegang motornya saya saja, tapi dia menolak. Dia berkisah, sudah hampir setahun dia menjadi rider GoJek, sebelumnya dia kerja di sebuah tempat makan. Dia merasa bekerja sebagai rider, lebih leluasa, bisa antar jemput anak sekolah, dan dari pendapatan, lebih banyak ketimbang dari pekerjaan sebelumnya. Karena ojol memberikan reward bagi yang mau bekerja lebih.

Lain waktu, ada pemuda usia hampir 30an yang membawa saya malam hari dengan motor. Dia cerita, dia punya pekerjaan tetap ketika siang di Ace Hardware, dan ia melihat adanya OJOL ini sebagai peluang untuk bisa lebih produktif. Jadi setelah kerja, ia lanjut menjadi rider/driver. "Masa muda saya ingin saya pakai dengan kerja keras, supaya nanti masa tua lebih ringan," itu yang dia katakan.

Di Jogja saya pernah disopiri seorang anak muda mantan karyawan Bank Mandiri. Dia cerita, resign dari Bank karena bisa kerja lebih fleksibel, dengan hasil yang tidak kalah dengan ketika kerja di Bank. Rupanya selain menjadi driver Grab, ia juga nyambi sebagai makelar properti, dan sering diminta oleh partnernya untuk mengantarkan calon pembeli melihat properti yang hendak dijual.

Pernah ketemu dengan seorang bapak pensiunan dari sebuah kampus, ia juga merasa dengan menjadi driver online, membuatnya tetap produktif. Ia kemudian bisa membantu keluarganya yang kekurangan dari hasil kerjanya.

Pernah ketemu juga mahasiswa yang mengisi waktu kosongnya dengan menjadi rider, dengannya ia tidak lagi perlu meminta bulanan ke rumah. Ia bangga bisa mandiri sedini mungkin.

Ada banyak kisah lain yang saya dapatkan selama berinteraksi dengan mereka. Mata optimis akan melihat bahwa profesi ini adalah Peluang. Mata pemisis selalu akan menilai profesi ini adalah Keterpaksaan.

Bagi saya, profesi mereka adalah profesi terhormat. Pekerjaan mereka InsyaAllah menghasilkan rejeki yang halal, sehingga tidak sepatutnya profesi mereka dianggap profesi rendahan karena keterpaksaan.

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

Monday, November 26, 2018 - 10:45
Kategori Rubrik: