Gelembung Sabun dari Utara

Oleh: Dina Sulaeman

 

Pidato Assad beberapa hari yll, menyusul kemenangan atas front terakhir para teroris di kawasan seputar Aleppo (sebagian petempurnya berasal dari Uighur, menurut anggota parlemen Suriah asal Aleppo, Fares Shehabi), menggunakan kata "gelembung suara kosong dari utara".

Yang paham bahasa Arab atau Inggris akan bisa menangkap bahwa Assad selama ini, setiap diwawancara televisi atau berpidato, selalu menggunakan bahasa yang halus dan tertata rapi, dengan suara yang rendah (tidak meledak-ledak). 

 

Di awal konflik, Hamas yang yang bertahun-tahun diberi perlindungan (diberi kantor di Damaskus, disuplai logistik) justru berkhianat. Sebelum perang, ada lebih dari setengah juta pengungsi Palestina di Suriah (data UNRWA), mereka dilayani sama seperti warga asli. Hamas mendukung penggulingan Assad dan bergabung dengan milisi teror. Alasannya, karena Hamas lebih memilih bergabung dengan sesama Ikhwanul Muslimin, daripada bergabung dengan poros resistensi anti-Israel. Ironis, padahal Palestina sedang dijajah Israel. [Tapi sekarang Hamas sudah 'tobat' dan kembali gabung ke poros resistensi.]

Mengomentari pengkhianatan itu, Assad menggunakan kalimat ini, “Saya mengapresiasi warga Palestina yang terhormat yang tinggal di Suriah, yang berjuang bersama saudara-saudara Suriahnya; dan tidak memperlakukan Suriah seperti hotel, meninggalkannya ketika situasi menjadi sulit.”

Sejak awal konflik, Erdogan berperan sangat penting. Sidang-sidang pembentukan koalisi "oposisi" (yang kemudian membiayai para teroris) dilakukan di Turki. Para petempur "jihad" dari 100-an negara dunia juga keluar masuk lewat perbatasan Turki. 

Kini, provinsi terakhir yang masih dikuasai milisi teror adalah Idlib. Bila Idlib kembali direbut oleh tentara Suriah, kemana para teroris itu (jumlahnya puluhan ribu, sebagian warga asing) akan pergi? Tentu ke tetangga sebelah, Turki. 

Erdogan tidak mau itu terjadi. Saya pernah hadir di sebuah acara dimana seorang diplomat Turki jadi pembicara, si diplomat ini mengeluhkan betapa besarnya uang yang setiap bulan dikeluarkan Turki untuk mengurusi para pengungsi perang Suriah (dan negara lain tidak membantu, katanya). 

Tentu bisa dibayangkan, selain mengerikan, kedatangan puluhan ribu teroris dan anak istrinya itu akan membahayakan keamanan nasional Turki dan keamanan keuangan mereka.

Karena itulah, secara resmi militer Turki terjun ke medan perang di Idlib, bukan melawan teroris, tetapi melawan tentara Suriah. 

Nah, dalam pidatonya beberapa hari yll, Assad tidak mengecam musuh besarnya itu dengan blak-blakan. Dia menggunakan kiasan, "Perang pembebasan Aleppo dan Idlib akan terus berlanjut tanpa memedulikan gelembung-gelembung suara kosong dari utara" (الفقعات الصوتية الفارغة من الشمال)

--
Pidato Assad itu (dengan terjemahan Indonesia) ada di sini:
https://www.facebook.com/179010099395168/videos/1064256700602218/

 

(Sumber: Facebook Dina Sulaeman)

Thursday, February 20, 2020 - 07:15
Kategori Rubrik: