Gaya Komunikasi Politik dalam Psikologi Massa Para Presiden Indonesia

Oleh : Ninoy  N Karundeng

Lawan dan kawan selalu terpukau melihat gaya berbicara Bung Karno. Pun gaya berbicara Ahok sungguh unik. Pun Fadli Zon dan Fahri Hamzah juga berbeda. Publik dibuat tertarik juga melihat gaya SBY berbicara. Publik pun dibuat gemes dan gregetan dengan gaya Presiden Jokowi yang tenang gaya Solo. Publik pun dibuat terpukau oleh cara berbicara Presiden ke-3 BJ Habibie yang bersemangat. Mari kita sedikit kuliah tentang gaya komunikasi politik dan kaitannya dengan ilmu psikologi massa dengan menelaah dampak komunikasi politik yang dilakukan oleh para SBY dan para presiden Indonesia dengan hati gembira ria riang girang senang bahagia suka-cita pesta-pora menari menyanyi selamanya senantiasa. Presiden Bung Karno.

Presiden Soekarno adalah sosok yang komplet. Cerdas, berwawasan, rendah-hati, pede, dan flamboyan. Kemampuan mengolah kata dan bahasa Belanda, Inggris dan Jerman secara sempurna membuat Bung Karno mampu merangkai kata-kata secara apik dan brilian. Kata-kata yang keluar memukau pendengar – bahkan lewat suara saja seperti radio. Akibatnya, publik selalu menunggu apapun yang akan diucapkan Bung Karno.

(Itulah sebabnya eyang saya Presiden Soeharto tidak memberi kesempatan sekali pun Bung Karno sejak keluarnya Supersemar untuk berbicara bebas di depan umum: kata-kata Bung Karno mampu menggerakkan massa.) Kata-kata Bung Karno memiliki kekuatan magis luar biasa karena memiliki kedalaman makna dan ada isinya besar: “Revolusi!” Eyang saya Presiden Soeharto adalah pelaku cara berkomunikasi paling efektif.

 Eyang saya Presiden Soeharto hanya akan berbicara untuk hal yang beliau memang mengetahui dan menguasai dengan baik. Eyang saya Presiden Soeharto akan panjang lebar berbicara setelah dan hanya ketika menguasai masalah seperti ketika berbicara dengan Kelompok Pendengar Pembaca dan Pemirsa: “Kolompencapir!”

Presiden BJ Habibie. Presiden BJ Habibie memiliki gaya berbicara luar biasa menarik. Kecerdasan dan kejeniusannya sangat tampak dalam isi, diksi dan makna kata-kata dan kalimat yang disampaikan oleh Presiden BJ Habibie. Kahrismatiknya muncul karena kecerdasan yang tak bisa ditutupi. Tampak jelas dominasi logika yang membuat publik tertarik mendengarkan omongan Presiden BJ Habibie. Presiden BJ Habibie selalu menekankan nilai tambah dan optimism kemampuan bangsa: “Value added – nilai tambah! Teknologi!”

Presiden Gus Dur. Nah, Presiden Gus Dur adalah sosok komunikator sederhana dengan filosofi gaya kiai yang selalu membumi, cerdas, moderat dan menyentil kanan-kiri dengan bijaksana. Presiden Gus Dur selalu berbicara atas nama dan untuk kepentingan umat, murid, pengikut, dan rakyatnya. Latar belakangnya sebagai kiai dan putra kiai besar membawa Presiden Gus Dur justru mengambil jalan demokrasi dan jalan kesetaraan rakyat. Itulah sebabnya Presiden Gus Dur selalu memilih idiom sederhana dalam komunikasinya: “Gitu saja kok repot!”

 Presiden Megawati. Semangat dalam diri Presiden Megawati diwarisi dari Bung Karno karena Ibu Megawati lahir dan besar dalam alam revolusi. Bahkan Presiden Megawati ketika berkuasa dulu tidak pernah mau berbicara dan mengamalkan pepatah: diam itu emas. Pilihan kata menjadi tak penting bagi Presiden Megawati. Rasa kebangsaannya menggelegak dan bayang Bung Karno dan kebesarannya selalu menjadi semangat dalam dirinya: “Merdeka!”

SBY. Nah, dalam komunikasi politik, SBY lebih banyak menyimpan maksud di balik yang dibicarakan dan lebih menekankan kepada intonasi, gaya, gerak tangan, pilihan bahasa campuran, dan kutipan bahasa Inggris yang terbatas dan terbata namun diungkapkan untuk mengimbangi antara cara kerja otak, mulut dan gaya. Keribetan dalam pikiran ini yang menghasilkan gaya bicara khas SBY yang menyimpan tindakan dalam ucapan: “Akan akan akan akan!”

Presiden Jokowi. Nah, Presiden Jokowi memiliki gaya berbicara apa adanya. Presiden Jokowi tidak memiliki pretense apa-apa dan apa yang diucapkan adalah yang sesungguhnya. Pola pikir dan cara kerja otak yang lebih cepat dibandingkan dengan mulutnya menyebabkan terkadang Presiden Jokowi tertahan. Justru kejujuran komunikasi seperti ini yang menarik dan Presiden Jokowi tidak menghasilkan branding dalam gaya komunikasinya. Bagi Presiden Jokowi yang terpenting bukan omongan, namun tindakan dan perbuatan : “Kerja, kerja, kerja!”

Nah, berbagai gaya komunikasi politik itu akan memengaruhi publik dan memberikan personal branding alias gaya pribadi. Bung Karno dengan gayanya cocok untuk revolusi. Eyang saya Presiden Soeharto cocok untuk pembangunan. Presiden BJ Habibie tepat untuk penyemangat dan demokrasi. Presiden Gus Dur cocok untuk semua umat dan pluralisme. Presiden Megawati cocok sebagai penyambung semangat revolusi dan kemerdekaan. Presiden Jokowi cocok untuk membangun dalam rangka kemajuan bangsa: kerja, kerja dan kerja. Fadli Zon dan Fahri Hamzah biar saja ngomong semaunya tanpa makna sebagaimana SBY saja. Ahok pendekar Kung Fu yang memahami kebutuhan bangsa: “Sikat!”

Sumber : Kompasiana

Friday, February 19, 2016 - 08:15
Kategori Rubrik: