Gatot, Anu apa Nganu?

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Mari bertaruh, Gatot Nurmantyo itu anu atau nganu? Atau nganu yang sedang anu, atau anu yang sedang nganu?

Tapi mengingat namanya, saya ingat jaman kecil di kawasan Yogyakarta, ada pemain akrobat kelilingan bernama Pak Gatot. Area yang dia butuhkan cukup selebar lapangan badminton di halaman rumah penduduk. Pertunjukan selalu dilakukan malam hari. Waktu itu penerangannya mengandalkan lampu petromaks, yang masih merupakan barang langka. Ia beredar dari kampung ke kampung.

 

 

Akrobat yang dimainkan, naik sepda yang tiba-tiba dari roda dua bisa dipretheli sambil dinaikinya, menjadi hanya berdiri atas satu roda. Roda lainnya, roda depan, tiba-tiba bisa diangkat atau dipanggulnya. Ia bisa menarik barbell besi, entah berapa kilo, dengan giginya. Otot lengan dan dadanya, biasa dia pamerkan menjadi hal yang lucu.

Pak Gatot yang gondrong itu, bisa berjalan di atas seutas tali tampar yang dibentang antara dua pohon. Dalam setiap pertunjukan, ia memakai drum (tambur), yang dipukul dengan irama khas. Saya sangat hapal nadanya, dan bahagia ketika diminta menabuh persis sebagaimana dia menabuh dengan dua stick.

Akhir cerita, Pak Gatot dengan tagline terkenalnya; ‘wathathitha’ itu, sebelum menutup puncak pertunjukan, dia jualan obat. Obat apa saja. Biasanya obat kuat, obat batuk, pemutih gigi, obat anget, dan sejenis-jenis itu. Saya baru tahu setelah dewasa, obat-obat itu ia ramu sendiri. Istilah tepatnya bukan obat, tapi dia menyebutnya jamu.

Gatot Nurmantyo, tentu bukan tukang akrobat. Juga bukan tukang jual jamu, atau obat. Ia panglima TNI, sebetapapun sebentar lagi pensiun. Tapi dia sendiri yang bilang, bahwa 1000 persen itu adalah suara aslinya, ketika wartawan meminta konfirmasi soal institusi di luar militer yang hendak mendatangkan 5.000 pucuk senjata api. Ia menyatakan di depan publik, para purnawirawan, disaksikan banyak wartawan, dan dia bilang tidak memberikan konferensi pers. Data itu katanya dari intelijennya, akurat.

Setelah mendapatkan reaksi negative, seusai bertemu presiden, Gatot Nurmantyo mengatakan bahwa telah meralat pernyataannya. Ia mengaku pernyataannya salah. Senyampang itu ia sampaikan informasi intelijen ke presiden. Ia enggan mengatakan apa yang disampaikan, karena informasi intelijen hanya untuk presiden. Menkopolkam pun tak boleh mengetahui. Lha dulu, kenapa bilang informasinya dari intelijen, akurat, tetapi kok disebar ke para purnawirawan? Komandan dia siapa? Loyalitasnya pada apa?

Proxy war? Ah, dunia politik Indonesia sering diramaikan istilah-istilah keren. Politik kekuasaan tak serumit para pengamat. Di depan para purnawirawan, Gatot berjanji hendak menyerbu (entah siapa), dan membuatnya merintih, bukan hanya sakit. Saya ingat Pak Gatot, si penjual obat itu mungkin bisa menyembuhkan. Meski merintih itu memang lebih pedih dari sakit (apalagi menjelang pensiun), Jenderal!

 

(Sumber: Status Facebook Sunardian Wirodono)

Thursday, September 28, 2017 - 23:00
Kategori Rubrik: