Gas Melon

ilustrasi

Oleh : Dinar Kusuma

Beberapa hari ini, gas melon jd buah bibir.. pasti bukan krn ijonya mirip kelapa muda, atau karena kalo ditimpuk bikin jontor. Bukan...
Ini karena rencana kenaikan harga dan pengalihan subsidi..
Baca di sini sbg referensi sambil ngemil mie kuah cabe rawit : https://m.detik.com/…/heboh-elpiji-3-kg-kenapa-sih-harganya…

Sejak 2007, si gas ijo ini mmg penuh kontroversi. Terutama berkaitan dg subsidi yg katanya untuk masyarakat miskin. Lalu mulailah dibawa lagi kata2 "bahkan orang kaya bisa beli gas ini dengan bebas.."

Hmm marimar, apa sih sebenarnya yg disebut miskin dan kaya?
Tetangga saya tinggal di rumah senilai 1,xx milyar. Tp itu rumah warisan. Penghasilannya sendiri amat sangat pas2an utk hidup.
Tukang sayur langganan, rumah dan warungnya dr bahan gedek, lahan sewa. Tp punya rumah di perumahan yg disewakan, punya mobil pickup, dan bs bayar cash beli vixion seken.
Seorg murid sma ternama ada yg dapat bantuan sekolah gratis. Hpnya selalu iphone atau samsung terbaru. Ganti2. Pulang sering dijemput mobil. Dan ketika diam2 diikuti krn teman2nya curiga dg sikapnya yg sombong, tyt dia masuk rumah megah yg dilengkapi kolam renang. Rumah majikan? Entah..
Ohya, jgn lupa, tukang parkir depan PKOR yg istrinya 3. Masing2 diberi rumah dan kendaraan serta dibuatkan toko utk usaha. Dan kini sdg hunting istri ke 4.

Jd apa batasan miskin dan kaya? Tampilan? Data di kelurahan? Atau framing demi subsidi negara?

Oke, seruput kopinya dulu biar gak dingin.

Sudah sejak abad berapa pemerintah selalu terbelit masalah subsidi utk masyarakat miskin?
Tadi di radio, sy tercengang dg pendapat seorg pendengar ttg hal ini. "Jangan memelihara kemiskinan" ujarnya.
Subsidi ini asalnya dr mana? Pajak rakyat kan? Bukankah semua rakyat membayar pajak sesuai aturan. Yg punya motor bayar pajak senilai ditetapkan. Punya mobil juga.
Tp di jalan raya, bukankah sama haknya?
Bukan yg motor gak boleh berada di jalan xx krn bayarnya lebih sedikit drpd mobil. Bukan.. pembatasan kendaraan lebih pd mengatur ketertiban dan keselamatan di jalan.

Begitupun dg subsidi.
Pada gas melon, ada subsidi. Pd gas biru dan pink, tdk ada subsidi. Dan sumber subsidi ya tetap dari pajak kan?
Jgn lantas semua hal berbicara soal subsidi utk masyarakat miskin terus. Bicara bagaimana masyarakat yg miskin mendapat keuntungan.
Hmmm.. sy lgs teringat pengemis kecil yg sy tanya di lampu merah wayhalim, apakah dia sekolah. Dg enteng dia bilang, "buat apa sekolah capek2. Mikir capek2. Buang waktu sekolah sampai sma. Nanti susah juga cari duit. Sekarang dg ngemis aja dari kecil, bisa dapat duit." Dan ternyata dia dpt dlm sehari 200-300 ribu. Bisa lebih kalau rame. Ya lord. Diatas umr itu sebulan

Jadi, (pendengar di radio itu bicara), jangan sampai kita malah memelihara kemiskinan. Pdhal tugas negara ini mensejahterakan masyarakat.

Saya setuju. Mengentaskan masyarakat dr kemiskinan. Bukan dg mencekokinya dg segala subsidi yg membuat org rela mengaku miskin demi menikmatinya. Bukan rahasia umum kan?

Apalagi wacana pengalihan subsidi gas melon menjd subsidi tunai, dg mekanisme yg harus diatur ketat.
Ketat? Itu mah stocking..

Sejak jaman dinosaurus menetas dr telur puyuh, rasanya subsidi tunai ini lebih banyak masalah. Ingat kasus blt, di medos heboh krn penerimanya banyak yg datang dg motor baru, emas bergelantungan. Hmmm.. hmmm.. gak kapok?

Namanya dana tunai, dari rantai teratas mungkin clean. Benar2 dialirkan murni tanpa potongan. Trus sampai ke bwh, siapa yg mengawasi?
Masih ingat kan, oknum yg minta 50ribu per-dana BLT?
Belum lagi standar pendataan yg rendah. Yg sering sy temui adalah org2 yg bilang "tidak pernah dpt bantuan. Yg dapat keluarganya pengurus". Well.. well...

Di RT 11 gang intraco Balikpapan, saya kenal benar seorg RT yg sdh menjabat lebih dr 32 th. Bantuan apapun yg datang dr kelurahan, semua dicurahkan ke masyarakat. Bahkan sering ditambahi dr pribadinya. Baik itu BLT, raskin, bantuan bahan bangunan utk pembangunan infrastruktur, sampai bantuan2 partai. Semua turun penuh utk masyarakat, tanpa potongan sesen pun. Boro2 beliau bagi ke keluarganya, utk dirinya sendiri juga tidak. Pendataan juga dilakukan ketat diawasi beliau langsung. Karena RT adalah pimpinan wilayah yg paling dekat mengenal masyarakatnya.

Tapi ada berapa persen pengurus yg demikian? Yg mengabdi murni utk masyarakat? Pdhl sejatinya karakter tulus seperti ini yg dibutuhkan utk menjaga ritme masyarakat tetap berkepribadian nusantara dan bs memantau dg cukup baik kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Balik ke soal subsidi langsung, bisa kebayang kan projek yg akan terbuka?
Akan banyak muncul cara2 tikus mencuri makanan..
Dan kalau lagi2 subsidi langsung ini gagal, tinggal salahkan pemerintah yg gak becus mengurus negara. Mengurus rakyat. Pdhl negarà ini sangat luassss..
Kita gak bisa minta penuh pemerintah merawat seluruh rakyatnya. Ada kesadaran masyarakat utk berkontribusi mengurus diri dan sekitar.

Andai, semua aparatur pemerintahan tulus mengabdi utk masyarakat, didukung dg masyarakat yg mendukung penuh pemerintahan dg positif, rasanya mengentaskan kemiskinan bukan hal yg mustahil. Meski gak akan hilang dr bumi. Tp pasti akan berkurang. (Toh itu mungkin diciptakan utk pengingat bagi yg berkecukupan.)
Semua fokus pd moral, pd keinginan bersama utk maju. Maka membangun team tidak lagi dg like n dislike, tp murni krn kemampuan.
Akhirnya yg merasa kurang mampu akan memacu dirinya utk mencapai standar.
Disini semua KKN diminimalisir.
Tdk ada lagi "bayar" atau "keluarga" utk mendpt pekerjaan tertentu.

Dan subsidi tdk lagi diberikan dlm framing utk masyarakat miskin. Tp utk seluruh rakyat.
Adil? "Dan tidak ada seorangpun dari kamu yg akan mampu berbuat adil". Itu sdh digamblangkan...
Tp meminimalisir aksi pembegalan di tengah perjalanan si dana subsidi ini, akan menambal kebocoran anggaran.
Ya mungkin pasti ada bocor alus lah..
Karena selama manusianya sendiri tidak punya kesadaran moral, ya sampai dunia paralel terhubung dg dunia kita, gak bakal berkurang, apalagi selesai, urusan ini.

Jd kalau saran saya sih, jgn pernah dibentukan dana tunai. Itu seperti wewangian menyan pemanggil mahluk gaib yg akan menyerap energi.
Perbaiki saja sistem distribusi gas melon shg tidak lg jd permainan oknum.
Iya, saya juga pernah mainan ini. Sbg toko grosir, kadang saya mencium gelagat kenaikan harga bbrp hari kedepan. Jd saya isi penuh, lalu saya simpan utk dpt harga naik tadi. Gak lama. Saya belajar dr valas. Ambil dikit cuan, udh oke. Itu dulu. Waktu saya masih belum sadar. Sekarang juga belum. Tp saya skrg lebih menurut pd moral.

Perbaiki saja. Dan awasi dg baik. Terutama krn gas melon ini rentan terjd kesalahan pakai. Bukan tabungnya, tp aliran ke kompornya. Sosialisasi door to door lakukan dg benar. Drpd mahasiswa kkn ke wilayah badarawuhi, beri saja mrk job utk sosialisasi ke masyarakat ttg KB, kreatifitas, kesehatan, gas melon, bpjs, dll yg diperlukan. Mmg gak menutup semua celah ketidaknyamanan dan keamanan, tp lumayan lah, seperti rumah pakai teralis.

Bpjs yg gegeran soal naiknya premi, minta subsidi, dll, juga gunakan sistem serupa. Ada banyak hal yg hanya didengar masyarakat dr medsos atau org lain. Itupun sdh diberi micin. Sehingga pepaya jepang juga dianggap penyebab kangker. Atau borobudur diklaim peninggalan nabi sulaiman.
Ini demi subscribe kynya. Tp ya sudahlah. Kita marfum. Tayangan sinetron alay yg membuat generasi tumbuh alayers n baperan, tak di sensor, malah spongebob disensor. Kan konyol. Ini bs dibantu oleh masyarakat yg akan terjun kan? Adek2 mahasiswa yg unyu2. Shg mrk bs bersentuhan lgs dg problem masyarakat dan otak mrk yg lagi encer2nya, akan bisa seperti macgyver, menemukan pemecahan.

Semakin kita saling sadar akan moral, esensi positif, berprasangka baik, mestinya semakin kita bisa melihat dg netral.

Pemerintah bukan malaikat. Rakyat bukan anak bayi. Dan Indonesia bukan barang pecah belah. Bukannya tujuan kita sama, Indonesia maju. Kenapa hrs terus gelud hy krn berbeda pandangan?
Bukannya kalau kita mau ke monas, yg dr riau, dari balikpapan, dari bali, dari lampung, dari bandung, dari jogja, ya beda2 arah jalannya. Tp sama2 tujuannya ke monas kan? Bukannya lebih asik kalo bersatu saling berbagi kabar perjalanan, problem dan solusi.

Sebab kita diciptakan berbeda utk saling belajar toh?

Bentar.. tadi bahas gas melon, kok kmana2? Ya sebab semua saling berkait.. seperti hatiku dan hatimu.. #eeaaa

Tiap lihat gas melon, aslinya sy langsung ingat mami Ros yg siap melempar gas melon kalo babe Kang Mukti cem macem.

Note : 1. status ini mengandung muatan politis. Sebab saya mau nyalon kepala daerah di 2024. Jd jgn dibaca dg polos. Minimal pake baju dulu, jgn polos. Mmg hak anda sih, tp HAM dibatasi ETIKA.

2. Coba hitung, berapa kata "kan" yg saya gunakan?

Sumber : Status Facebook Dinar Kusuma

Tuesday, January 21, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: