Garundang, Sebuah Perlawanan terhadap Kekolotan

Oleh : Kajitow Elkayeni

Di Sumatera Barat, nama Jokowi tenggelam dalam pusaran fitnah. Dia disebut PKI, Cina, Kristen, didanai asing, dst. Faktanya padahal, dia muslim yang taat. Orang Jawa tulen. Tetapi anehnya, kekuatan fitnah di Sumbar kuat bertahan lama. Padahal sumber Fitnah itu, Trio Macan 2000, telah lama dibekuk polisi. Sampai sekarang banyak yang masih percaya fitnah-fitnah itu. Seolah ia abadi.

Sebenarnya bukan salah Sumatera Barat, atau Minangkabau secara khusus. Akses informasi, tipologi sosial, unsur pembeda, berlainan di setiap daerah. Ada kelompok masyarakat yang lebih percaya kata orang, karena pengaruhnya di tengah masyarakat. Mereka tak terbiasa berdialektika. Apalagi berusaha mencari substansi persoalan. Mencari akar masalah.

Di tengah stereotip itu, banyak sekali orang yang berupaya melawan kekolotan. Mereka yang hidup heterogen di luar Sumbar, melihat lebih jernih. Mereka mencari tahu fakta sebenarnya. Ada begitu banyak informasi beredar. Soal pilihan politik itu hak pribadi, tapi tidak mudah termakan fitnah, itu yang terpenting.

Ada banyak pemimpin daerah di Sumatera Barat yang sekarang tercerahkan. Mereka tahu persis bagaimana pembangunan bekerja. Setelah sekian lama seolah terbiarkan oleh Pusat. Oleh karena itu mereka terang-terangan berbalik arah. Sebagian bahkan berani melawan partainya sendiri. Memilih mundur demi mendukung Jokowi.

Secara personal, banyak sekali orang Minang yang tak mau hanya berdiam diri. Kebanyakan (yang saya tahu) berdomisili di luar Sumbar. Mereka melawan dengan cara mereka sendiri. Garundang adalah salah satunya.

Ia adalah posko relawan yang didirikan oleh seorang perempuan Minang, Ummi Nurul. Garundang adalah berudu dalam bahasa Minang. Kecebong dalam istilah yang lebih populer. Uniknya, Garundang ini bukan dieharder Jokowi, dalam arti, memaksa secara halus (orang Minang pada khususnya) untuk memilih Jokowi. Garundang lebih mirip pusat informasi mengenai kinerja Jokowi. Garundang juga sebagai "sang pencerah" terhadap fitnah yang beredar.

Persoalan pilihan nantinya dibebaskan. Setiap orang yang bersingungan dengan Garundang dibekali informasi yang cukup, benar, faktual.

Melihat fakta seperti ini, tidak benar jika Sumatera Barat dikuasai kekolotan, minim informasi, pasrah terhadap fitnah. Banyak orang-orang Minang yang merasa malu, dengan ulah para politikus membutakan mata pemilih di sana. Sehingga orang baik yang benar-benar bekerja itu dianggap musuh islam, mengancam ulama, keturunan PKI, Cina, Kristen, dan banyak lagi.

Maka boleh jadi, telah ada perubahan persepsi besar-besaran di sana. Sumatera Barat 2019 jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Di sana ada gerakan perlawanan masif terhadap fitnah dan kebohongan. Meski barangkali, belum benar-benar bisa disebut merdeka...

Sumber : facebook Kajitow Elkayeni

Monday, September 24, 2018 - 12:45
Kategori Rubrik: