Garuda yang Mana?

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Ada rekwes suruh tulis tentang Garuda. Saya balik tanya Garuda yang mana nih ? Garuda yang lambang negara Indonesia. Kacang Garuda. Partai Garuda. Atau burung Garuda yang salah satu spesies unggas terbang. Pemesan bilang ya Garuda pesawat lah, yang sedang ramai belakangan ini karena Dirutnya selundup motor Harley. Terduga biang dibalik harga tiket mahal. Badan usaha milik negara jadi milik nenemoyang.

Oke kata saya kita mulai dari Bung Karno. Dulu Bung Karno dengan satu kata revolusi bisa sakti. Yang anti revolusioner halal dibabat. Tambak bandeng di Jakarta utara diambil dari nelayan atas nama revolusi untuk bikin Soekarno Tower. Sekarang jadi Ancol. Yang ditafsir oleh Peminpin Besar Revolusi(PBR) sebagai pihak kontra-revolusi berarti tidak selamat.
Apa hakekat revolusi Bung Besar ini, sampai sejak Soeharto hingga sekarang revolusi nya tak ada lagi gaungnya. Kita kehilangan makna revolusi yang dimaksud dulu. Dan segenap bangsa diam, biasa saja. Kenapa ? Apa hanya sekedar permainan kata-kata ?

Juga Jokowi, lima tahun pembangunan infrastruktur, dengan jeroan BUMN yang runyam model Rini-Ari, seolah tak tahu. Dan baru diketahui setelah menterinya diganti Erick Tohir. Apa Jokowi tahu tapi dibiarkan karena alasan tertentu ? Lalu apa alasan tertentu itu ? Begitulah pertanyaan, seperti ketika Soeharto didemo mahasiswa dan memanggil tokoh sembilan katanya : Yahudi dibalik ini semua reformasi 1998.

Begitulah yang terjadi di Garuda atau BUMN pada umumnya. Karena badan usaha itu milik negara, dan negara itu kata Rocky Gerung bukan manusia, makanya negara diam saja ketika badan usahanya dirampok. Begitu juga BUMD, badan usaha milik daerah. Dan daerah bukan manusia, makanya ketika miliknya dicuri diam saja.

Apa yang terjadi di seputaran peristiwa bangsa dan negara tak lagi bisa diharap dari pers nasional kita yang miskin logistik. Berita independen sulit dibuat olah perut lapar. Keadaan sebenarnya jauh dari hak masyarakat untuk tahu. Dibalik serba keuangan digital ini, negara sibuk ngeruk pajak sampai ke ampas-ampas namun penggunaan APBN dan BUMN berjalan hedonis melukai hati rakyat.

Bung Cebong :
Kisah yang menimpa Dirut Garuda apa hubungannya dengan Garuda Pancasila ?

Santri Kalong :
Jelas ada hubungannga. BUMN dan APBN keuntungannya untuk segelintir. Rakyat untuk makan dan biaya sekolah anak ketar-ketir. Sementara sila kelima bunyinya bagaimana ?
Pembukaan UUD 45 menyatakan tujuan bernegara : mencerdaskan kehidupan bangsa. Ada disebut juga kesejahteraan umum. Yang gak punya duit gak bisa ikut sekolah. Praktiknya sudah jadi industrialisasi pendidikan. Industrialisasi kesehatan. Tak punya uang dilarang ke rumah sakit. Semua diindustrialisasi, bahkan isyu agama sekalipun. Persoalan BUMN sama dengan persoalan ASN, TNI-Polri, Penegak hukum, Politisi dan Partai politik, pemodal dan pola pikir rakyat sekarang pada umumnya. Pola pikir rakus, serakah, takut tidak kebagian, minim solidaritas dan kepedulian sosial. Ekonomi development dengan serba proyek sampai ke kampung telah membunuh Gotong-royong. Pragmatisme telah menjadi argumentasi Barat yang sangat ampuh mempecundangi Pancasila.

Pace Yaklep:
Bagaimana kita membuat NKRI harga mati yang rakyat kecil tidak setengah mati ?

Santri Kalong :
Pertanyaan itu sangat tepat dilontarkan pada setiap Presiden Indonesia.

Angkringan filsafat pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Tuesday, December 10, 2019 - 09:15
Kategori Rubrik: