Garuda Indonesia Merugi

Oleh: Babo EJB

 

Akibat skandal penyelundupan sparepart, Dirut Garuda dicopot. Saya sedih. Mengapa? Garuda butuh citra baik agar sehat. Garuda Indonesia merupakan maskapai penerbangan kebanggaan Indonesia dengan sejarah panjang. Terlebih, dengan kualitas service premium berkelas dunia. 

Saat sekarang Garuda Indonesia mengoperasikan 194 unit pesawat. Usianya rata-rata sudah lima tahun dan butuh peremajaan. Hingga akhir tahun 2018 Garuda Indonesia Group menargetkan dapat mengoperasikan total 197 pesawat, yakni 144 pesawat dioperasikan Garuda dan Citilink 53 pesawat. Namun masa depan Garuda Indonesia terancam bila tidak ada solusi konkrit. Mengapa?

 

Mengutip dari laporan keuangan yang disampaikan di BEI, kinerja keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) bervariasi selama lima tahun terakhir dari periode 2014-2018.Tercatat PT Garuda Indonesia Tbk rugi sebanyak dua kali pada 2014 dan 2017 dengan masing-masing angka kerugian USD 370,04 juta dan USD 216,58 juta. 

Perseroan mencatatkan untung pada 2015 sebesar USD 76,48 juta. Laba perseroan anjlok 89,9 persen menjadi USD 8,06 juta pada 2016 dari sebelumnya untung. Kemudian perseroan alami rugi mencapai USD 216,58 juta pada 2017. Tahun 2018 rugi lagi USD 175 juta. Jadi sejak tahun 2014. Garuda lebih besar rugi daripada untung. Tekor total.

Gimana dengan utang Garuda? Saat ini, Garuda memiliki utang US$ 3,461 miliar atau Rp 49 triliun, sedangkan ekuitas atau modal perseroan hanya US$ 910 juta alias Rp 13 triliun. Sementara Nilai seluruh saham Garuda saat ini adalah Rp 9,69 triliun. Artinya, nilai pasar (Marcap) Garuda sebagai perusahaan justru dibawah nilai buku (Rp. 13 triliun). Mau dongkrak udah sulit. Intangible asset, engga ada nilai. Karena struktur permodalan engga sehat. Ini masalah serius. Mengapa? solusi mengatasi utang ini mentok kiri kanan. Kiri, kalau berharap dari laba, udah engga mungkin. Lah rugi mulu. 

Kanan, berharap dari melepas saham baru di bursa. Juga engga cukup bayar utang. Saham Garuda saat ini berjumlah 25,9 miliar lembar. Pemerintah memiliki 60,5% saham alias 15,7 miliar lembar plus satu lembar saham dwi warna dengan hak istimewa. Jika Garuda menerbitkan 25,9 miliar lembar saham baru dan dilepas pada harga pasar saat ini (Rp 386 per lembar) maka Garuda hanya akan menghasilkan Rp 10 triliun. Engga cukup kan untuk bayar utang. Dan lagi belum tentu DPR setuju right issue. Jadi kiri kanan udah mentok, tok. Hanya masalah waktu Garuda bangkrut dengan sendirinya kalau engga ada solusi yang jenial.

Apa solusi terakhir? Gunakan cara pemain hedge fund. Apa itu? sambil focus kepada core business dengan perbaikan layanan dan restruktur bisnis model dengan lebih banyak ke cargo, juga yang tak kalah penting adalah me-manage isu soal utang. 

Bagaimanapun, Garuda itu adalah bisnis cash flow, yang sangat perlu keahlian financial engineering untuk mendokrak value agar utang bisa di refinancing dengan multiple scheme, roll over never ending. Pada waktu bersamaan citra harus terus dibangun agar value saham naik di bursa. Banyak caranya agar nilai saham naik, dan siap melepas saham baru (right issue) dengan harga yang bagus.

Mungkinkah? Pengalaman di AS. Maskapai seperti United Airlines, Delta, dan American Airlines, pernah juga mengalami kebangkrutan sebelum direstrukturisasi. Di Malaysia, Malaysia Airlines, juga tidak henti-hentinya dalam dua puluh tahun terakhir berjuang melawan kerugian dan berbagai permasalahan. Demikian juga di kawasan lain, di Eropa misalnya. Hampir semua maskapai penerbangan besar di Eropa pernah mengalami masalah keuangan. Chatay Pacifik dan Singapore air line terpaksa merumahkan karyawannya karena laba yang merosot tajam. Namun mereka semua bisa bangkit lagi dan survive lewat refinancing dan right issue.

Masalahnya di Indonesia, mungkinkah Maskapai penerbangan Garuda Indonesia bisa lakukan itu? Rasanya sulit. Karena negara tidak mau sampai jadi pemegang saham minoritas di Garuda Indonesia. DPR pasti menolak, apalagi Kadrun. 

Saran saya kepada Erics, kelola sajalah isu soal utang. Manfaatkan anda punya otak bisnis. Pilih Dirut baru yang jago buying time. Setidaknya jangan sampai Garuda default surat utang, dan bisa bertahan sampai akhir masa jabatan Jokowi. 

Setelah itu berdoa semoga di DPR engga ada lagi kadrun. Jadi bisa right issue, untuk bayar utang.

 

(Sumber: Facebook Diskusi dengan Babo)

Friday, December 6, 2019 - 15:15
Kategori Rubrik: