Garuda dan Merah Putih (Melawan Tentara Allah)

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Sore kemaren lihat berita di tivi cukup bikin sedih. Index Harga Saham terus melorot, Rupiah pun balik ke 14 ribu. Tanda kemunduran ekonomi. Meski agak terhibur juga mengingat saham2 di manapun juga lagi melorot.

Imbas geliat virus corona, 'tentara allah' . . .

Namun kemudian semangat baru tersulut, takut dan gelisah pun surut. Karena lihat berita di tivi yang itu juga . . .

Stasiun televisi itu lagi meliput kepulangan 188 WNI crew kapal pesiar World Dream yang sedang lepas jangkar di Hongkong. Di bawa dengan kapal rumah sakit Dokter Soeharso.

 

Dengan kapal2 yang lebih kecil dan dikawal sekoci2 TNI AL, mereka di turunkan di dermaga Pulau Sebaru Kecil.

Sekilas nampak beberapa diantara mereka sempat bergurau dengan temannya. Petugas dengan pakaian khusus warna kuning, mengawasinya. Cuma butuh 20 menit untuk turun dari kapal dokter Soeharso menuju dermaga. Cepat. Sigap.

Yang membuat haru, sang Merah Putih ber-kibar di terpa angin laut. Di dermaga, di kapal pengangkut, atau di sekoci karet. Gagah sekali. Mewakili semangat seluruh crew dan petugas evakuasi.

Ini Indonesia, Bung !

Tak lama kemudian tampil juga di televisi, Menteri Luar Negeri, bu Retno, Panglima TNI dan Kapolri, sematkan ban lain tertempel sang Merah Putih kecil, di lengan para relawan penjemput awak kapal pesiar Diamond Princes yang sedang buang sauh di Yokohama, Jepang.

'Ini tugas kemanusiaan yang mulia', tegas Bu Retno, saat berikan pidatp pengantar. Betul memang. Atas nama kemanusiaan . . .

Crew Diamond Princes yang berjumlah 78 orang, 8 orang diantaranya positif terjangkit di rawat di RS Jepang. Sisanya, 2 orang tetap tinggal bekerja di kapal, 68 orang dipulangkan ke Indonesia.

Di wajah ke 23 orang tim penjemput 'keluarga' nya itu sedikitpun tak terlukis kegamangan. Kali ini penjemputan ke 68 orang itu pakai pesawat Garuda Indonesia. Diantara anggota tim penjemput nampak seorang Pramugari Garuda dibalut kebaya dan kain hijau seragam-nya, bersanggul sportif, tetep saja tampil ayu, cantik, dan senyum2 simpul . . .

Ini Indonesia, Bung !

Memang begitulah seharusnya, respons dan sikap manusia, khalifah Allah. Tanggapi semua, apa saja yang disuguhkan oleh sang Pencipta.

Bergerak sesuai Sunatullah. Kita bisa maju ke depan hanya dengan melangkah. Kita bisa meraih ketinggian hanya dengan melompat. Bukan cuma duduk berpangku tangan, pasrah.

Bukankan Tuhan membekali kita dua tangan, dua kaki, sepasang mata, hati, dan otak untuk dimanfaatkan ?

Bismillah saja, lalu bergerak. InsyaAllah . . .

Virus Corona memang telah mengacak-acak tatanan dunia. Sudah di Nash. Sudah di-ijin-kan oleh Nya. Itu lonceng tanda bagi kita untuk mawas diri. Azab atau ujian bukan urusan kita.

Seorang ngustat bicara bahwa virus Corona adalah 'tentara allah'. Hukuman bagi negeri China yang dzalim pada suku uyghur.

Orang Islam sudah tak punya apa2 kecuali doa, maka yang terjadi, terjadilah . . .

Yang bikin bingung, Pemerintah Saudi Arabia menyetop aliran jemaah umroh. Menteri Luar Negeri kita segera sibuk lakukan negosiasi.

Kok Saudi Arabia takut kenapa ? Bukankah rakyat mereka bersuku bangsa Arab bukan Cina ? Atau takut kena marah 'tentara allah',, karena mereka lebih suka invest ke China dari pada ke Indonesia, yg notabene saudara se-Iman-nya ? Atau takut selama ini abai terhadap suku uyghur ?

Bukankah juga, di Indonesia sampai saat ini belum ditemukan kasus positif Virus Corona ? Ketakutan tak berdasar.

Ndak salah jika salah seorang gubernur kita, dari pulau Sumatera, komen dengan gagah, 'Orang mau ibadah kok dihalangi . . .'

Cerdas, heroik dan sekaligus agamis. Wwk wk wk wk wk. Lagi dan lagi-lagi . . .

Memang bodoh, ndablêg itu nulari . . .

Yang ini Indonesia juga, Bung !

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Monday, March 2, 2020 - 08:15
Kategori Rubrik: