Gara-gara Kritik Lulusan LPDP Tak Mau Salaman Beda Muhrim

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Saya dulu sempat jadi reviewer LPDP. Lembaga Pengelola Dana Pendidikan ini mengelola dana nonbudgeter sebesar lebih dari 16 T. Beberapa tahun saya menjalaninya. Lalu break 2 tahun , dan ikut lagi. Malah terakhir saya ikut training bagaimana cara menginterview yang baik di sebuah hotel di Surabaya yang diadakan LPDP. Tapi sejak itu saya tidak pernah dipanggil untuk menginterview. Sampai sekarang tidak pernah lagi dilibatkan. Awalnya saya menganggap biasa saja. Tapi lalu dengar isu bahwa ada juga penyusupan ke lembaga itu , saya agak khawatir.

Beberapa hari lalu ada penerima beasiswa LPDP membully saya sebagai rektor kemayu. Anak perempuan ini mempermasalahkan kritik saya kepada para wisudawan yang nggak mau salaman dengan pimpinan.

Saya pernah mengusulkan di dalam rapat LPDP agar tidak hanya ekstrim kiri yang disaring dalam memilih penerima beasiswa LPDP, tapi juga ekstrim kanan yang tidak kalah bahayanya. 

 Aneh jika anak-anak yang tidak mencintai negaranya tapi dapat beasiswa dari uang negara. Kabarnya banyak yang kategori begini menerima beasiswa LPDP tapi setengah mati benci pemerintah.
Kami malah pernah betempat dengan dosen Unpad, IPB dan dekan fakultas hukum UGM jadi narasumber LPDP untuk menberi masukan soal lulusan LPDP. Saya usul lulusab LPDP tidak perlu langsung pulang , biarkan menimba pengalaman dulu di LN agar punya pengalaman di luar studi. Seperti orang China dan India.

Sekarang saya jadi kepikiran mengapa saya tidak pernah dipanggil lagi untuk meng-interview calon penerima beasiswa LPDP. Jangan-jangan berkaitan dengan sikap saya yang anti ekstrim kanan itu? Jangan-jangan di dalam LPDP ada juga pendukung khilafah yang membersihkan orang-orang yang anti khilafah? Semoga tidak. Semoga ini hanya prasangka buruk saya. Siapalah saya ini.

Sumber : Status Facebook Budi Purwo Kartiko

Thursday, October 3, 2019 - 09:15
Kategori Rubrik: