Gara-Gara Covid

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.MA

Seandainya kita tidak pernah diserang wabah covid 19, boleh jadi saya tidak pernah ceramah pakai Zoom.

Aneh sih rasanya kali pertama ceramah sendirian di depan HP, tapi lama-lama malah tidak sampai seminggu, saya sudah terbiasa.

Justru sekarang kalau ngisi kajian betulan saya jadi rada males, kalau boleh sih mending pakai Zoom sajalah. Bukan apa-apa, tapi tahu sendiri kan Jakarta ini macetnya kayak apa. Mau ceramah 30 menit, macet pergi pulangnya bisa 2 jam sendiri. Jangan-jangan kita malah jadi tua di jalan kemacetan.

Saya sih masih untung, rumah saya di tengah belantara Jakarta dan jadwal ngisi kajian saya sengaja saya pilih di gedung-gedung perkantoran berlokasi di seputaran rumah saya.

Beberapa pengajian perkantoran malah saya tempuh cukup dengan jalan kaki saja atau bisa motoran tanpa helm. Maksudnya tanpa helm itu, karena bisa nerabas masuk gang kecil tidak lewat jalan raya tidak ketemu pak polisi yang sudah ngeributin helmnya mana.

Tapi bayangkan beberapa teman saya yang sama-sama ustadz juga. Mereka kebetulan ngontrak rumah di pinggiran (baca: di luar) Jakarta. Kalau mau ngisi ceramah zhuhur di perkantoran seputaran Sudirman Thamrin Gatsoe Kuningan dan seputarannya, wah itu cerita tersendiri. Sebab mereka musti pagi-pagi sekali berangkatnya, lalu ceramah 30 menit dan pulang lagi sampai rumah sudah lewat Ashar. Walah

Maka ngisi kajian via ngezoom dari rumah jauh lebih santai. Bahkan juga saya pun ikut merasakan kepraktisannya. Tidak perlu ribet ini dan itu. Tinggal klak klik pakai HP atau laptop dan langsung ceramah.

Asyiknya lagi, semua ceramah saya otomatis langsung direkam oleh Youtube. Sehingga dokumentasinya lengkap dan rapi. Kapan saja saya butuh bisa lqngaung diakses bahkan dengan mudah bisa saya share url-nya ke orang-orang.

Ceramah pakai Zoom tidak perlu ribut kostum aneh-aneh, cukup bermodal peci dan koko saja. Di bawahnya bisa pakai sarung, celana komprang bahkan pakai jeans pun oke sajalah. Warnanya kagak mecing kagak napah. Toh nggak akan kelihatan juga. Hehe

Serunya lagi, yang hadir di kajian di zoom justru malah jauh lebih banyak dari pada kalau pengajian secara fisik betulan. Yang rumahnya jauh di luar Jakarta, di daerah, di kampung halaman, di desa, di pulau terpencil, termasuk yang di luar negeri, semua bisa hadir lengkap.

Saking banyaknya, seringkali di luar Zoom saya terpaksa menggelar juga via streaming youtube kalau zoom-nya sudah over capasity. Biasanya paket zoom termurah cuma bisa 100 orang participan.

Bahkan saya bisa juga mengundang guru-guru saya untuk ikut hadir memberikan materi kajian, juga lewat zoom. Beberapa teman yang sempat kuliah di luar negeri, beraksi mengundang guru mereka yang orang Arab untuk kajian online.

Sebaliknya, saya sendiri pun sepanjang musim covid ini hampir tiap hari ceramah 'keluar kota' bahkan 'keluar negeri'. Maksudnya ceramah via zoom juga untuk teman-teman yang kebetulan domisili di belahan bumi lain.

Merasa nyaman kajian pakai zoom, saya malah berpikir kalau pun nanti keadaan sudah normal 100% (Sudah bukan lagi New Normal tapi mungkin Old Normal), kajian pakai zoom tidak harus dihilangkan. Tetap saja berjalan sebagaimana biasa.

Contohnya adalah kajian rutin Shubuh yang saya gelar setiap hari dari Senin sampai Jumat. Seandainya digelar dengan versi secara fisik, saya kurang yakin kalau yang hadir akan banyak. Tapi karena pakai Zoom, alhamdulillah, jamaah masih terus anteng mengikuti kajian.

Kalau dulu mereka duduk di depan TV ngikuti ceramah, sekarang pilihannya lebih bervariasi. Sekarang mereka bisa nonton kajian Sekolah Fiqih Live yang saya gelar, baik di zoom, FB live atau Youtube Live.

Sebagai narsum, meski tiap hari kudu online sejak jam 05.00 sampai jam 07.00, tapi saya santai saja. Toh semua saya lakukan di rumah saya sendiri.

Saya tidak harus repot-repot jam 03.00 dini hari menembus jalan gelap menuju ke studio TV, (wicis sudah kayak maling jalan kerja), sampai di studio terus dibedaki untuk menunggu stabdby 2 jam sebelum live. Dan ternyata durasinya cuma 10 menit. Kan ngeselin banget itu.

Kalau pakai Zoom, habis shubuhan, saya bisa pasang HP sendiri, pasang tripod sendiri dan pasang headset ke kuping lalu langsung deh siaran live ke seluruh dunia. Semua cukup dikerjakan dari rumah.

Durasinya bebas tidak dibatasi, pokoknya kultum alias kuliah terserah antum. Ceramah di TV betulan, baru ngomong 5 - 10 menit, sudah diisyaratkan kudu selesai, katanya durasinya habis. Padahal hamdalahnya aja juga belum selesai ini.

Di Zoom, durasinya luas dan bebas. Pokoknya durasi sebosennya dan secapeknya, hahah. Juga tanpa dipotong jeda iklan segala.

Oh ya, juga tidak ada tekanan batin dari Eksekutif Produser dan jadi depresi gara-gara tuntutan kudu mempertahankan rating. Jadi kita sebagai nara sumber bisa lebih santai mengisi kajian, walaupun muridnya cuma dua biji, no wot wot. Pokoknya the show must go on.

Orang stasiun TV-nya punya saya sendiri kok. Sultan mah bebas . . .

Sumber : Status facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Sunday, July 12, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: