Gara-Gara Beda Warna Tali Sepatu, Sebuah SMPN Jaktim Sita Sepatu

Ilustrasi

Oleh : Desrinda Syahfarin

Senin siang kemarin waktu saya masih di kantor, tiba-tiba masuk pesan via WhatsApp dari Alif. Sepatu, dasi dan topinya disita pihak sekolah sesudah upacara bendera, tidak dikembalikan lagi sampai waktu pulang. Saya shock.

Perasaan shock berubah menjadi marah karena ternyata Alif harus mengikuti pelajaran olah raga, Agama Islam, Bahasa Inggris tanpa mengenakan sepatunya, bahkan sampai dia pulang ke rumah.

Malam tadi saya tanyakan, “Jadi pelajaran olah raganya Mas Alif nggak pake sepatu?”

Dia jawab, “Ya iya,”

“Loncat-loncat, lari-lari gitu?”

“Iya, khan ada latihan volley,”

“Sakit dong kakinya?”

“Nggak terlalu sih,” (anak ini memang jarang mengeluh)

Sekolahnya memang mengeluarkan “panduan berbusana” yang mewajibkan murid bersepatu “model warior”, dilengkapi dengan foto-foto dalam buku “MASA PENGENALAN LINGKUNGAN SEKOLAH”, mungkin supaya orang tua “angkatan 90an” seperti saya bisa paham bahwa yang dimaksud adalah model yang dibilang “sepatu basket” di zaman kami dulu.

Berhubung Converse All Star asli tentu terlalu mahal buat anggaran kami, maka saya carikan dia versi kw yang hanya Rp.60 ribuan harganya di online shop. Sudah 5 pasang saya belikan di Lazada atau Tokopedia atau Blanja (tergantung mana yang kebetulan lagi paling murah) sejak masuk SMP, 15 bulan yang lalu, berhubung setiap pasang biasanya hanya awet buat dipakai selama 3-4 bulan saja.

Sejak beberapa minggu lalu, dia mengenakan pasangan sepatu kelima yang tanpa saya sadari berbeda dari yang sebelumnya: Bertali warna hitam. Ternyata jadi masalah, dirampas oleh pihak sekolah.

Padahal: TIDAK ADA TERCANTUM DALAM PERATURAN SEKOLAH BAHWA SEPATUNYA HARUS BERTALI PUTIH.

Saya tentu tak bisa terima. Kalau memang harus bertali putih, bukan perkara besar karena saya punya sepatu Nike dll yang bisa dipakaikan dulu talinya ke sepatu Alif kalaupun saya belum sempat belikan khusus buat sepatu dia. Sakit sekali hati ini karena tanpa peringatan sebelumnya Alif diperlakukan sebagai pesakitan begitu di pelajaran olah raga yang pastinya banyak lari-lari dan loncat-loncat pula. Bayangkan rasanya kalau dia tak bersepatu.

Soal dasi dan topi juga membuat saya kesal sekali. Sewaktu masuk SMP dulu, setiap orang tua/wali murid dipersilahkan membeli seragam dan kelengkapannya sendiri tanpa melalui perantara sekolah. Hanya atasan batik (untuk dipakai setiap Kamis), baju koko (seragam setiap Jum’at), dan ikat pinggang yang harus dibeli di koperasi sekolah karena ada printing yang khusus menampilkan logo SMP itu. Karena itu,saya pun membeli dasi dan topi buat Alif melalui Tokopedia, harganya jauh lebih murah daripada harga barang yang sama yang dijual di koperasi sekolah.

Sebenarnya kalau memang harus beli di sekolah, saya malah senang kok, ketimbang ribet beli sendiri ke pasar panas-panas nawar-nawar plus urusan parkir. Alif itu dari playgroup, TK, SD di Muhammadiyah yang swasta memang selalu seragamnya beli sepaket seharga sekian ratus ribu yang dijual pihak sekolah. No big deal. Buktinya waktu bulan lalu dia kebagian jadi petugas pengibar bendera pun saya belikan satu set seragam paskibra komplit sampai peci dan pinnya, sarung tangan dan penutup lehernya, seharga lebih dari Rp.200 ribu walaupun saya tahu mungkin hanya akan dia pakai setahun sekali.

Sudah 15 bulan di SMPN itu, selama ini tidak masalah dengan dasi/topinya karena peraturan sekolah tidak menyebut secara detail dalam “BUKU PENGHUBUNG”, jadi boleh dong mengenakan dasi/topi yang beli di Tokopedia itu.

Terus terang, saya jadi kaget ternyata seragam Senin-Selasa harus ada badge bertuliskan lokasi sekolah (yang bentuknya melengkung itu). Kedua seragam putih Alif nggak ada badge-nya! Untung nggak dirampas juga.

“Mas, ini peraturan sekolah katanya baju putih harus pake badge lokasi lho. Kok Mas Alif nggak pernah minta beliin?”

“Habisnya khan mahal Rp.5,000 harus beli di koperasi…aku pernah bilang tapi Bunda nggak pernah ngasih duitnya,”

Astaga, mau nangis nggak sih? Mungkin dia pernah bilang, saya tanggapi “kok mahal banget” sehingga dia nggak berani minta uang untuk membelinya. Ya ampun Nak, goceng doang…

Anyway, berhubung sepatu barunya entah dikemanakan oleh pihak sekolah, pagi ini saya bongkar-bongkar lagi untungnya masih ketemu sepatu lamanya yang sudah hancur itu namun kebetulan belum dibuang. Guess what: TALINYA HITAM! Kok yang ini nggak pernah dirampas? Mungkin karena dulu Gubernur DKI masih Ahok yang galak mecatin kepala sekolah?

Akhirnya saya ambilkan tali sepatu putih dari sepatu keds saya yang mahal dan masih baru, original branded items (khan nggak dipakai tendang-tendang kayak Alif…dulu pernah kesel juga waktu beliin dia sepatu futsal Reebok yang hancur dalam waktu beberapa kali latihan saja). Konyol kalau sampai dirampas lalu dia pulang nyeker lagi.

Waktu dia pamit berangkat sekolah, saya bilang: “Nanti Bunda ke sekolah Mas Alif ya Sayang, mau ketemu Pak Faqih,”

Dia larang, “Nggak usah ah, Bunda. Nanti aku aja yang cari sepatunya,”

“Ya khan Bunda sekalian mau beliin dasi dan topi baru di koperasi,”

“Khan mahal, Rp.25,000. Yang Bunda beli di Tokopedia cuma Rp.7,000,”

“Ya harus beli di koperasi, Nak, biar mahal juga. Masa’ Mas Alif nggak pake dasi/topi, nggak kayak yang lain?”

“Ya udah, sini duitnya, aku aja yang beli, Bunda nggak usah ke sekolah,”

“Nggak ada duitnya sekarang. Bunda mesti ke ATM dulu, baru nanti ke sekolah Mas Alif beli dasi/topinya ya Nak,”

Mukanya terlihat tertekuk, dia pasti nggak senang emaknya ke sekolah karena alamat bikin heboh. Tapi saya harus ketemu Pak Faqih! Apa dasarnya dia rampas sepatu Alif bikin anak kesayangan saya nyeker seharian sampai pulang?

PS. Sebenarnya saya keberatan kalau kasus perampasan ini jadi viral. Kuatir bikin pihak sekolah jadi nggak senang, Alif jadi dianggap “pengacau”, gimana kalau dia malah jadi dipersulit ke depannya? Ke mana saya harus mengadu kalau Koh Ahok yang ditakuti se-Jakarta itu tidak ada lagi di Balai Kota? Makanya saya nggak akan share nama sekolahnya, ketimbang nyusahin anak sendiri.

Sumber : Status Facebook Desrinda Syahfarin

Friday, October 27, 2017 - 19:30
Kategori Rubrik: