Ganti Nama

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Salah satu manfaat orang mengganti nama adalah mengubah image. Seringkali image suatu hal sudah terlanjur buruk di mata orang, maka untuk memperbaikinya terkadang perlu juga diganti namanya. Biar image yang buruk terkubur bersama dengan masa lalu.

Sebutlah misalnya muallaf masuk Islam. Nama aslinya David, lalu diganti menjadi Daud. Sebenarnya itu-itu juga, cuma nama David buat telinga kita orang Indonesia terkesan milik non muslim. Sedangkan Daud itu dikesankan sebagai nama seorang nabi utusan Allah. Padahal mau David atau Daud kan itu-itu juga, tinggal mau pakai spelling yang mana, rasa Arabia atau rasa Inggris.

Tetapi begitulah, image itu terbentuk sesuai dengan cara pandang suatu masyarakat. Untuk itulah ketika dulu bakso pangsit sebagai makanan khas orang tionghoa itu mau dinaturalisasi biar halal dan terkesan tidak cina-cina amat, digantilah istilah menjadi mie ayam. Ada kata ayam-nya biar kesan halalnya lebih menonjol.

Wahabi

Teman-teman saya yang lulusan kuliah di Saudi banyak ogah kalau disebut Wahabi. Sebab nama Wahabi itu untuk banyak kalangan muslim di Indonesia sudah terkesan kurang baik. Maka digunakanlah istilah yang lain yang menyamarkan kesan Wahabi menjadi manhaj, salaf, sunnah, atsar dan lainnya.

Padahal isinya itu-itu juga, tidak jauh-jauh dari paham aqidah tiga jenis : rububiyah, uluhiyah lalu asma' wa shifat. Intinya bukan asy'ari lah pokoknya.

PKI

Di masa kita sekarang ini, banyak anak-anak ideologis yang mendukung pemikiran ala PKI di masa lalu. Namun sama sekali mereka tidak mau kalau disebut sebagai PKI.

Sebab citra PKI itu sudah amat buruk dalam buku sejarah kita. Amat tidak menguntungkan kalau belum apa-apa sudah dituduh PKI.

Ikhwan

Waktu dulu masih SMA dulu kalau ada yang bilang kita ini ikut pemikiran ikhwanul muslimin, saya dan teman-teman selalu menolak dan pura-pura pilon, seolah-olah kita ini nggak punya hubungan dengan pergerakan pimpinan Hasan Al-Banna di Mesir itu. Kamuflasenya kita menyebut gerakan ini adalah tarbiyah, liqo', halaqah dan sejenisnya.

Padahal kalau jujur sebenarnya yang kita baca tetap saja Majmu' Rasail dan wirid Al-Ma'tsurat karya Hasan Al-Banna, tafsir Fi Zhilalil Quran karya Sayid Qutub, Fiqih Sunnah karya As-Sayid Sabiq dan buku-buku karya tokoh-tokoh Ikhwan lainnya, seperti Yusuf Al-Qaradhawi, Musthafa Masyhur, Abudllah Azzam, Manna' Al-Qathan, Fathi Yakan, Said Hawwa, Said Ramadhan Al-Buthi dan seterusnya.

Cuma ya itu tadi, kalau disebut sebagai Ikhwanul Muslimin, rasanya kok jadi kayak organisasi garis keras yang dikejar-kejar pemerintah gitu.

Maka ganti nama itu kadang juga bisa berfungsi sebagai kamuflase, penghalusan atau juga demi mengubah image buruk di mata orang-orang yang sudah terlanjur tidak bisa diubah. Padahal isinya tetap itu-itu juga, setali tiga uang.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Tuesday, May 14, 2019 - 12:00
Kategori Rubrik: