Ganti Gelar Ustadz

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat Lc MA

Kata ustadz sudah terlalu banyak mengalami pergeseran makna dan penggunaannya sudah keluar jauh dari maksud.

Untuk itu ada baiknya kita bakukan dan kita sesuaikan dengan istilah yang lebih baku. Khususnya untuk keperluan keilmuan dengan berbagai disiplin ilmunya.

Agar orang tidak keliru dan terkecoh dengan gelar ustadz yang tidak jelas kriterianya.

Di masa lalu, orang Betawi malah menggunakan istilah 'muallim' atau yang lebih lokal lagi dengan sebutan 'guru'.

Orang tua Betawi yang doyan mengaji pasti kenal dengan nama Muallim Syafi'i Hazami, Guru Mansur, Guru Mughni, dan lainnya.

Sedangkan istilah ustadz sejak awal sudah rancu. Di Azhar Mesir, gelar ustadz itu untuk sekelas profesor, singkatannya huruf alif maksudnya Al-Ustadz.

Dasar orang Mesir pada lebay, pedagang disana kalau lagi mengambil hati calon konsumen, dia panggil kita : ya duktur, ya ustadz. Da quwais awi wallah ya ustasz.

Halah, gombal. Kapan gue jadi doktor? Kapan gue jadi profesor?

Tapi di Mesir kalau kita ingin meyakinkan apakah seseorang itu ustadz betulan atau bukan, mudah sekali ngeceknya. Cukup kita tanya : Azhari? Maksudnya dia jebolan Al-Azhar kah?

Jawabannya akan langsung menjelaskan. Kalau jawabnnya : musy azhari, berarti itu ustadz bodong. Kalau dijawab : wallahi huwa azhari miah miah, nah berarti dia ustadz betulan.

Saya tidak tahu ada hubungannya atau tidak, tapi di kita sebutlah di pondok pesantren, ketika santri senior disuruh ngajar adik kelasnya, mereka pun disebut ustadz. Padahal lulus juga belum.

Kesini kesininya jauh lebih parah, artis, pelawak, badut, motivator, politikus, muallaf, influenser, youtuber, tokoh ormas, ramai-ramai pada jadi ustadz.

Saya sih senang-senang saja kalau pada jadi ustadz. Cuma pertanyaan saya, kalau semua pada jadi ustadz, terus ustadz jadi apa?

Ya ustadz jadi banyak....

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Wednesday, July 8, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: