Ganjar Maning

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

"Maaf, Pak. Kondisinya kotor. Beras juga tinggal itu. Itupun bantuan dari kampus," kata Junaedi Ketua Mahasiswa NTB di Semarang. Ganjar melihat beras dalam ember yang ada di sudut dapur, memang tinggal sedikit . . .

"Sekarang lebih sering masak telur, Pak. Lebih irit. Apalagi stok sembako sudah menipis," tutur Zulfadli, yang dijuluki kawan2 di asrama mahasiswa Aceh sbg 'Juru Masak". Saat antar Ganjar blusukan ke dapur.

"Sio mama e . . . Beta rindu mau pulang e . . ." Penghuni asrama Maluku menyambut Ganjar dengan nyanyian rindu kampung.

Ganjar pun menjawab, "Rindu boleh tapi jangan pulang kampung. Nanti tak kirim sembako. Telpon saja lah mama . . ."

Ganjar ? Ganjar Pranowo ? Gubernur Jawa Tengah ? Iya ! Siapa lagi memang.

Hari itu, Kamis 16 April 2020, dengan naik sepeda Ganjar nyambangi asrama Mahasiswa yang sedang kuliah di Semarang. Hari Rabu kemaren nengok asrama Anak2 Papua. Aman. Kebutuhan se-hari2nya. Memang mereka disokong penuh dengan kiriman pemerintah daerahnya.

Memang Ganjar sedang 'sidak', ingin tahu keadaan mereka. Para Mahasiswa Perantau di tengah kondisi Pandemi.

Asrama mahasiswa NTB, Aceh, Palembang, Lampung, Makasar, Maluku, Nias, dan lain-lain. Sekejap dua kejap bertemu, dia janjikan kirim sembako pada mereka . . .

Ganjar mengapresiasi langkah mereka untuk tidak pulang kampung . . .

"Yang pertama saya cek adalah dapurnya. Saya ingin memastikan mereka ndak repot dengan urusan makanan. InsyaAllah kalau tercukupi, yang lain tinggal jalan saja,"

"Anak2nya mandiri kok dan keren," puji Ganjar. Mungkin maksud Ganjar, Anak2 itu ingin memberi kesan tenang, agar para orangtua dikampung juga tenang dan ndak khawatir.

Malah Anak2 di asrama Aceh, mengisi waktu luang dengan ngobrol2 dan ngopi2. Seakan sedang ada di kampungnya yang jauh disana. Cool . . .

Tadi cerita tentang Ganjar sedang ngurusi Anaknya Wong. Anak orang lain, anak saudara seTanah Air . . .

"Saya berkomunikasi dengan Menteri Sosial, mas Ari Batubara. Gubernur DKI Jakarta, mas Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Barat, kang Ridwan Kamil, sebagai bentuk tanggung jawab terhadap warga terdampak di wilayah PSBB. Bapak, Ibu, InsyaAllah dapat bantuan," ujar Ganjar, Gubernur Jawa Tengah di rumah dinasnya.

Begitulah dia, kalem, santun, menenangkan. Meski duit2 sendiri, yang dibantu juga Anak2 sendiri, warga Jateng yang merantau, tapi diperlukan minta ijin, nuwun sewu, pada Kepala wilayah yang dimukimi oleh anak2nya. Ndak srudak-sruduk, kêmaki dan kêmlinthi. Ndak sok-sokan.

Itu preambule Ganjar untuk berikan bantuan sosial bagi warganya yang terdampak. Bo'ong ? Tipu-tipu tebar pesona ? Ooo . . . Ndak.

Tanggal 16 Mei 2020 telah mulai dikirimkan tahap Pertama. Sebanyak 7000 paket. Untuk warga Perantau asal Jateng se Jabodetabek. Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Menurut data yang terkumpul ada sebanyak 27.400 orang. Tempo hari memang dia telah sarankan 'warga'nya untuk daftar ke RT/RW setempat. Staf perwakilan Jateng akan jemput datanya.

Meski pendaftaran telah ditutup 23 April, namun Ganjar pesen, jangan ditutup dulu. Siapa tahu masih ada yang tercecer . . .

Pada warganya, Anak2nya, yang sedang ada di rantau, yang ndak mudik, terpaksa atau suka rela ditenangkan.

"Ini ikhtiar kita agar 'Panjengan' mendapat hak perlindungan. Warga Jawa Tengah yang ada di Jabodetabek, saya mengucapkan terima kasih karena memutuskan untuk tidak mudik. Moga-moga tetap sehat dan mampu melalui masa pandemi Corona ini dengan baik tanpa kurang suatu apapun . . . "

Kata 'panjenengan' itu sebagai ganti kata 'kamu' atau 'loe', sebagai panggilan atau sebutan dengan penghormatan.

Itulah Ganjar, meski 'memberi' beliau sadar akan posisinya, sejatinya dia cuma 'abdi' masyarakat. Sekali lagi, dia ndak sok2an. Kêmaki dan kêmlinthi

Untuk warga yang di Jawa Tengah sendiri ? Jauh-jauh sebelumnya sudah terealisasi. Dua bekerja sama dengan PT. Pos Indonesia untuk antarkan Bantuan Sembako.

Bantuannya selalu berbentuk sembako. Bukan uang tunai. Khawatir, kalau bentuk uang tunai nanti akan buat beli rokok atau pulsa . . .

Semua pasti kebagian ? Rata ?

Ya mungkin tidak. Ndak perlu nge-gas juga. Silakan daftar lagi ke RT/RW. Tidak itu saja. Data bisa juga lewat perkumpulan2 daerah.

Seperti perantau asal Blora, punya kumpulan namanya Komunitas Perantau (Kopra). Data dari pemkab awalnya cuma 500. Direvisi atas masukan dari Kopra Blora menjadi 807.

Kok punya duit sebegitu banyak ? Darimana asalnya ?

Itulah Ganjar Pranowo . . .

Selain swadaya masyarakat. Tentu pemkab masing2 ndak tinggal diam. Dikoordinasikan. Pemda Jateng sendiri juga cerdas, cantik, dan cepat Re-Alokasi APBD nya. Mana2 pos yang bisa ditunda, dan dana-nya buat nona Corona.

Seharusnya setiap daerah ndak perlu terlalu takut2 juga. Karena setiap daerah ada dana dari pusat kok. Untuk bangun ini-itu. Bentuk proyek. Entah jalan, jembatan, sekolah dan lain-laiin. Ini bukan DBH, Dana Bagi Hasil yang selalu di-tagih2 itu lho !

Jawa Tengah dapat sekitar 100 Triliiun lebih. Daerah lain ? Ada juga. DKI Jakarta misal, dapat 400 Triliiurn lebih . . .

Jadi, memang seharusnya setiap daerah bisa re-alokasi APBD masing2. Kalau mau. Asal ndak culas dan pura2 miskin.

Ngaku 'cashflow' ndak ada, tapi bisa beli tanah Ratusan Milyar hanya buat Ruang Terbuka Hijau, RTH . . .

Lha ini kan buat 'Kesehatan' juga ?!

Wek wek, wek wek . . .
Hoeeeeek . . . !

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Tuesday, May 19, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: