Game of Thrones

Oleh: Muhammad Ilham Fadli

 
 

"Ternyata film Game of Thrones itu, adegannya banyak yang mesum .... lho !", kata seorang kawan. 

Saya tahu, setidaknya ia ingin menyampaikan bahwa Jokowi, Presiden kita itu (kawan saya ini tak pernah mengakui Jokowi Presidennya :) .... saya pun tak tahu, siapa Presidennya hingga kini ... kah kah kah ) ...... justru merujuk pada film yang cukup banyak mempertontonkan erotisme. 

 

"Nampak .... kan, Pidato Jokowi tentang Game of Thrones dalam IMF-World di Bali tersebut merefleksikan bagaimana kualitas Presiden kamu itu .... hahahahahaha !", katanya kembali pada saya. 

"Memangnya ente pernah menonton film itu ?", tanya saya padanya. 

"Setelah orang geger tentang film tersebut, saya download filmnya ... saya tonton ... dan itulah hasilnya sebagaimana yang saya sampaikan kepada anda !", jawabnya lagi. 

Berkaitan dengan film Game of Thrones tersebut, saya jadi ingat dialog antara seorang jama'ah dengan Buya Hamka. Dialognya (secara sederhana) ... begini : 

Jama'ah : 
"Buya, saya beberapa waktu lalu ke Arab Saudi. Ternyata di sana ada pelacuran. Di negeri asal nabi kita, kok ada ditemukan pelacuran ?". 

Buya Hamka : 
"Beberapa waktu lalu, saya ke Amerika Serikat. Saya tak menemukan pelacuran di sana !". 

Jama'ah : 
"Ah .... tak mungkin. Masak di Amerika Serikat tak ada pelacur. Di Arab Saudi saja, ada. Apatah lagi di negeri kayak Amaerika Serikat tersebut !". 

Kemudian Buya Hamka tersenyum, lalu berkata, "kita dipertemukan DENGAN APA YANG KITA CARI !". 

Saya menonton Game of Thrones. Saya fokus pada nilai metaforanya. Bahasa kampung saya, "bergerak isi cingkunat" kita. Isi otak. Logika. Cerdas kita dibuatnya. 

Ada pula yang fokus pada erotismenya .... adaegan-adegan telanjangnya. Ereksi kita dibuatnya. Malamnya, mimpi basah, kalau ia JOMBLO !.

Tuesday, October 16, 2018 - 10:15
Kategori Rubrik: