Galaunya Koalisi Kekeluargaan Melawan Ahok

Oleh : Axtea 99

Untuk Pilkada DKI 2017, hingga saat ini baru ada satu calon gubernur yakni Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, sang Gubernur Petahana. Ahok di dukung oleh Nasdem (Pemilik 5 kursi), Hanura (10 kursi), dan Golkar (9 kursi) sehingga mendapat total jumlah 24 kursi yang cukup untuk maju di Pilkada seseuai ketentuan KPU DKI yang berlaku. Sedangkan Parpol lain yang sudah menunjuk cagub adalah Gerindra (pemilik 15 kursi), yang menunjuk Sandiaga Uno, kadernya sendiri. PDIP sebagai pemilik kursi DPRD DKI terbanyak 28 kursi, adalah satu-satunya parpol yang berhak mengajukan calon sendiri, sedangkan Sembilan parpol lainnya harus berkoalisi untuk dapat mengajukan cagub.

Pada tanggal 8 Agustus 2016, tujuh partai politik telah membuat gebrakan terkait dengan Pilkada DKI Jakarta 2017, yang menyepakati untuk membentuk “Koalisi Kekeluargaan”, yang terdiri dari PDIP (Pemilik 28 kursi), Gerindra (15 kursi), PKS (11 kursi), PPP (10 kursi), Demokrat (10 kursi), PKB (6 kursi), dan PAN (2 kursi), dengan jumlah total 82 kursi. Koalisi ini didasari oleh persamaan persepsi terkait pemimpin Jakarta dimasa mendatang dan sepakat untuk tak lagi mendukung bakal calon petahana Ahok. Untuk itu “Koalisi Kekeluargaan” telah menentukan tujuh kriteria untuk pemimpin Jakarta, yakni Arif, Bijaksana, Beradab, Santun, Beretika, Bersih dan Cerdas.

Dari fakta terbentuknya “Koalisi Kekeluargaan” ini bisa terjadi karena hal-hal sebagai berikut :

1. PDIP PDIP sebagai pemilik kursi DPRI terbanyak 28 kursi, hingga saat ini masih belum memiliki calon yang bisa dianggap kompeten dan patut untuk melawan Ahok, meskipun Gubernur Petahana Djarot Syaiful Hidayat adalah Kader PDIP, namun tidak cukup seksi untuk dijual. Memang ada wacana menguat untuk memerintahkan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, untuk maju di Pilakda DKI, meskipun berdasarkan SWOT analysis yang obyektif, secara politik akan berujung merugikan PDIP sendiri dimasa mendatang.

2. Gerindra Gerindra pemilik 15 kursi, memang telah menunjuk kadernya sendiri Sandiaga Uno untuk menjadi Calon Gubernur. Namun hingga saat ini belum membentuk koalisi dengan parpol manapun, sedangkan kompetensi dan elektabilitas Sandiaga, masih dianggap jauh untuk bisa bersaing dengan Gubernur Petahana Ahok.

3. Lima Partai Lainnya Lima Parpol lainnya yakni PKS, PPP, Demokrat, PKB dan PAN, tidak mempunyai kader sendiri yang dianggap kompeten dengan elektabilitas yang cukup mumpuni, sehingga dengan sangat terpaksa harus rela dan bergabung dengan “koalisi kekeluargaan” ini dengan menerima cagub dari parpol lainnya meskipun berbeda platform partai.

 Berdasarkan Alokasi jumlah kepemilikan kursi parpol di DPRD ini, sesungguhnya bisa dibuat empat atau paling tidak tiga bakal calon gubernur, sesuai dengan platform masing-masing partai. Dan itu biasa terjadi di negri yang mampu menerapkan demokrasi sejati yang mengutamakan kepentingan rakyatnya ketimbang kepentingan golongan/partainya semata .

Namun demikian, ternyata kepentingan para politisi oportunis ini lebih mengutamakan Syahwat politiknya semata untuk membuat Pilkada DKI menjadi adu tarung antara Gubernur Petahana Ahok melawan Asal Bukan Ahok (ABA). Sejatinya, pembentukan “Koalisi Kekeluargaan” ini hanya sekedar solusi jangka pendek sesaat para politisi yang sedang galau akut dengan fakta sangat kuatnya elektabilitas Gubernur Petahana Ahok.

Namun demikian, koalisi ABA yakin dan mengira dengan modal tujuh kriteria bagi pemimpin Jakarta masa mendatang yang sangat bagus tersebut ditambah dengan total jumlah kursi DPRD 82, maka hampir bisa dipastikan “Koalisi Kekeluargaan”, ini akan bisa mengalahkan Ahok yang hanya didukung oleh 24 kursi saja. Sehingga meskipun “Koalisi Kekeluargaan”, belum menyebut tokoh manapun untuk dijadikan cagub, maka andaikan sosok “Kambing Dibedakin” pun yang dijadikan cagub, akan membuat Ahok jadi pecundang dengan mudah. Dan ini bisa dimakanai bahwa ABA lupa akut tentang rumus dasar demokrasi yakni Vox Populi, Vox Dei. Wallahu Alam!**

Sumber : kompasiana.com

Wednesday, August 10, 2016 - 09:30
Kategori Rubrik: