Gak Bisa Ke Israel? So What?

Oleh : Budi Setiawan

Bahwasanya langkah balas Israel melarang warga Indonesia ke wilayahnya, itu harus kita pandang sebagai hal yang biasa. Demikian juga Indonesia yang lebih dahulu menyetop orang Israel masuk. Adalah hak tuan rumah untuk melarang siapa saja yang memasuki pekarangannya.

Pada sisi Indonesia, langkah itu sesuai dengan amanat UUD yang menegaskan bahwa penjajahan dimuka bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Inilah dasar politik luar negeri kita yang bebas aktif dalam mewujudkan perdamaian dunia.

Selama kita masih memakai UUD 45 sebagai landasan konstitusional dalam berbangsa dan bernegara, maka selama itulah kita tidak akan pernah menjalinkan hubungan diplomatik dengan Israel.

Bukan hanya Israel yang dibanned oleh Indonesia. Dulu kita juga melarang orang Afrika Selatan yang apartheid. Sumbangsih itu kemudian terwujud dengan tumbangnya rezim itu dan Nelson Mandela menjadi icon dan pujaan di Indonesia.

Masyarakat Indonesia harus mengerti dan memahami bahwa perlakuan keji Israel terhadap warga Palestina harus dihentikan. Jalan diplomasi adalah upaya maksimal menekan Israel dan Palestina untuk duduk semeja dan berikrar damai.Entah melalui solusi dua negara atau satu negara.

Kita mesti yakin bahwa cara-cara ini akan mampu menggalang solidaritas internasional menciptakan perdamaian dikawasan ini. Dalam pada itu, kita mesti percaya diri bahwa Israel lebih butuh Indonesia ketimbang kita.

Biarkan Israel menggerutu harus memutar perjalanan lebih panjang menghindari wilayah udara kita yang haram buat mereka lalui. Itulah perjuangan kita dalam mengedepankan kemanusiaan dalam lingkup internasional.

Jadi perkara larangan itu tidak usah dibesar-besarkan apalagi mencoba menyeret umat Kristen ke posisi yang dirugikan karena tidak bisa berziarah ke tempat -tempat yang dianggap sakral oleh mereka. Gejala agar umat Kisten baperan karena larangan tersebut sudah muncul dengan bahasa halus sambil mengutip Injil mengagungkan Israel.

Dan juga ada postingan yang mengatakan bahwa pelarangan itu tidak merugikan Israel tapi orang Palestina yang dilukiskan rugi besar nyaris bangkrut karena larangan orang Indonesia masuk ke Israel.

Kita tidak yakin itu karena orang Indonesia yang kesana cuma secuil jumlahnya. Mereka yang menglorifikasi Israel hanya membesar-besarkan masalah karena strategi soft power membela Israel menemui hambatan besar disini. Mereka menggiring opini bahwa seorang Kristen yang baik harus pro Israel.

Semua postingan itu juga nampaknya ditujukan untuk menekan pemerintah Indonesia agar mencabut larangan masuk warga Israel. Strategi ini mudah dibaca dan selimut glorifikasi Israel melalui jalur kekristenan tidak akan menggoyahkan pendirian bangsa ini untuk membela orang Palestina.

Kaum Kristen Indonesia pastinya cerdas dan bijak dalam menyikapi persoalan ini. Pun sejauh pengetahuan, berziarah di napak tilas Yesus Kristus bukan sebuah kewajiban. Beda misalnya dengan berhaji.

Itu sebabnya, jangan sampai kampanye glorifikasi Israel yang memakai jalur ajaran kekristenan mempengaruhi cara pandang mereka terhadap politik luar negeri pemerintahnya.

Kita sepakat bukan Yahudi yang sedang kita perangi. Kita melawan rezim Israel yang amat menindas rakyat Palestina. Sebesar perlawanan kita terhadap kesadisan ISIS dan teroris yang memakai kejayaan masa lampau untuk membenarkan tindakan mereka melalui cara-cara kejam diluar batas kemanusiaan.

ISIS, terosis dan Zionis sama sadisnya.

Titik.

Sumber : facebook Budi Setiawan

Friday, June 8, 2018 - 13:15
Kategori Rubrik: