Gaji Lulusan UI

Oleh: Ramadhan Syukur

 
SEKIAN kali gue mengikuti tes masuk kerja, bagian yang paling sulit gue jawab ketika sampai pada pertanyaan menyebalkan, "Jika kami harus menggaji anda, berapa gaji yang pantas untuk anda."
 
Karena gue paling sungkan ngomongin duit, saat interview pertanyaan itu gue balikan, "Kira-kira lulusan baru kayak saya pantesnya digaji berapa? Saya juga gak tahu. Tapi karena saya suka dengan pekerjaan ini, terserah perusahaan mau menghargai berapa. Yang pasti saya suka bekerja dengan calon bos saya."
 
 
Ini wawancara antara gue, fresh graduate lulusan FSUI tahun 1988 dengan HRD perusahaan besar Gramedia. Dan anda tahu, calon bos gue itu namanya Arswendo Atmowiloto. Cuma lulusan SMA. Pernah numpang lewat kuliah sebentar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra IKIP Solo. Gak tamat. Tapi gitu-gitu dia pernah mengikuti program penulisan kreatif di Iowa State University, Amerika Serikat.
 
Secara level pendidikan, calon bos gue jelas gak ada apa-apanya sama gue. Tapi secara pengalaman di dunia tulis menulis, gue cuma setitik tinta di atas kertas kecil di meja dia. Gue cuma jago di urusan teori, tapi dia dahsyat di urusan praktek.
 
Pada saat gue harus menghadapi interview terakhir dengan calon bos gue itu, ternyata kami berdua kelihatan sama-sama minder tapi sama-sama gak petantang petenteng dengan diri masing-masing. Mungkin lho ya. Ini perasaan gue aja.
 
Mungkin dia minder gue lulusan UI. Dia gak tahu bahwa gue lebih minder karena bakal jadi anak buah bos gak selesai kuliah.. Mungkin dia bangga bisa membawahi lulusan UI. Dia gak tahu bahwa gue lebih bangga lagi bakal bisa belajar banyak dengan pekerja kreatif dan penulis hebat kayak dia.
 
Walhasil, maka gak pernah terjadi yang namanya interview. Kelihatannya kami memang sama-sama sungkan. "Sudahlah. Gak usah pake interview-interview segala. Gak penting. Besok ke Lomba Layar. Ngantor. Langsung kerja aja." Kata calon bos gue yang langsung pergi ngeloyor entah ke mana. Yang gue perhatiin cuma kakinya yang nyekeran.
 
Mau tahu berapa gaji gue sebagai lulusan UI saat itu? Dua ratus lima puluh ribu. Gak tahu sekarang berapa nilainya. Rasanya sih gak nyampe di atas delapan juta seperti yang lagi rame diributin. Ya, heboh karena seseorang fresh graduate lulusan UI ogah dan marah dikasih gaji delapan juta.
 
Si calon karyawan itu pun menegaskan bahwa dirinya adalah salah satu lulusan dari Universitas terbaik di Indonesia. Bukan cuma itu, dia juga bilang bahwa lulusan UI jangan disamakan dengan universitas lainnya. Asal tahu aja, lulusan UI layak bekerja di perusahaan luar ngeri dengan gaji yang tentunya lebih tinggi.
 
Hadeuh. Sebagai lulusan UI gue malu dengernya. Kalo saja dulu gue sedikit jual mahal sama Mas Wendo, boro-boro digaji besar, yang ada mungkin awal-awal gue sudah ditendang jauh. Dan gue jelas bakal rugi gak bisa belajar banyak dari dia segala hal yang gak pernah gue dapatkan di bangku perguruan tinggi. Mental sebagai pekerja kreatif, mental sebagai calon pemimpin, sisanya duit dan jabatan akan menyusul kemudian.
 
Berkat didikan Mas Wendo, akhirnya gue dipercaya Gramedia Majalah jadi pimpinan salah satu media seperti dia dulu. Sedangkan dia jauh-jauh hari sudah melaju terbang memimpin banyak media, naik sebagai Direktur Gramedia Majalah yang membawahi begitu banyak lulusan perguruan tinggi. Yang pasti lulusan yang gak belagu dan tinggi hati.
 
(Sumber: Facebook Ramadhan Syukur)
Friday, July 26, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: