Gajahmada: Ahhhh.... Mimpi Kali

Oleh: Dwi Klik Santosa

 

Saya pernah mendengar cerita yang dikisahkan salah seorang teman. Alm. Ki Slamet Gundono pernah mentaskan wayang purwa suatu kali di suatu tempat di Solo, dimana Karna sebagai wakil Kurawa berhasil dalam misi perangnya mengalahkan Bima dan Arjuna. Sebagai panengah dan penegak Pandawa, ksatria kedua dan ketiga adik Yudistira dan kakak ksatria kembar Nakula Sadewa itu disebutkan secara umum dalam pelakonan versi Jawa kebanyakan adalah kusumayuda yang bisa dimaknakan ksatria yang selalu menang dalam perangnya.

Karena bagus cara mementaskannya, mendapat perhatian yang serius dan menimbulkan reaksi penonton. Hingga mengusik diam dan ada yang teriak-teriak dengan maksud memprotes; masak Bima kok kalah sama Karna. Lakon apa itu?

 

 

Ternyata di akhir cerita, itu hanya mimpi Karna saja. Karena terobsesi dan seperti terdorong oleh sebuah hasrat ingin menjadi pahlawan yang paling sempurna dan dianggap dalam pencatatan sejarah. Ide cerita yang menggelitik dan jika menghasilkan respon yang geram dari penonton yang seperti itu, tentunya kreasi itu bisa saja dianggap sebagai produk yang berhasil.

Yang beda dan kontroversial, memang menawarkan hal yang lain dan memantik penasaran begitupun menyedot perhatian. Nah, apakah begitu halnya dengan konsep pemikiran yang mengemukakan Majapahit itu adalah kerajaan Islam?

Pada awalnya itu dulu tendensinya. Kemudian baru dihidupkan varian-varian sebagai syarat agar masuk akal bagi kesenyawaan untuk menguatkan ide atau gagasan itu. Misalnya temuan benda-benda yang ada lafas kosa-kata Arabnya, bahkan mengutak-atik secara etimologi dan morfologi nama-nama tokohnya.

Sesuatu yang baku lalu dikemukakan lagi dengan corak yang lain dan berkonteks dengan ikon atau simbol yang besar, apalagi. Dari corak yang Hindu-Budha menjadi Islam, bayangkan! Bukankah itu sebuah ide yang beda, berpotensi kontroversial dan bisa vulgar dalam menyedot perhatian?

Tetapi sebagaimana cerita yang umum dalam kisah Mahabrata, apakah benar Bima dan Arjuna kalah perang ketika berhadapan dengan Karna? Apakah benar Gajah Mada itu mahapatih yang sejatinya bernama Gaj Ahmada? Bahkan ia yang sakti dan berjiwa seni bersebutkan Mpu Mada lalu disebutkan Syaikh Mada. Ah, mimpi kaliiiiiiii ...

Baru kemudian setelah tahu apa yang tersembunyi dan terjadi dari penjelasan di akhir cerita, ngertilah penonton dan hilang pelan perlahan mengkal itu. Dasar, Ki dalang usil ... dan mungkin ada juga yang saking dibuat geram lalu berkomentar; dasar dalang kurang kerjaan!

 

(Sumber: Facebook Dwi Klik S)

Sunday, June 18, 2017 - 16:45
Kategori Rubrik: